Tak Bisa Dikembalikan Kondisi Semula, Cegah Sejak Masa Kehamilan

Tanjung Redeb –

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, kasus stunting sejak 2 tahun terakhir mencapai 10 persen dari jumlah anak di Kabupaten Berau. Tentunya ini sangat mengkhawatirkan karena mengancam generasi muda.

“Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada dibawah minus dua standar deviasi (penyimpangan), panjang atau tinggi anak seumurnya. Atautumbuhnya tidak sesuai denga usianya, dan cenderung lebih pendek atau kerdil dari teman seusianya,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Berau, Totoh Hermanto, melalui Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Rusmini.

Dijelaskan Rusmini, stunting merupakan kondisi tubuh pendek atau kerdil pada anak berusia dibawah 5 tahun. Ini bisa terjadi karena kurangnya mendapat asupan gizi atau kekurangan gizi kronis. Selain itu, juga infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan, dimana masa tersebut dimulai dari janin hingga anak berusia 2 tahun.

Tak hanya itu, bahaya lain selain terhambatnya pertumbuhan fisik dan kerentanan anak terhadap penyakit, juga menyebabkan hambatan pada perkembangan kognitif yang berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak.

Dan diakuinya, di Indonesia khususnya di Kabupaten Berau, stunting adalah masalah gizi pada anak yang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dengan baik. Ini karena jika tidak segera diatasi akan menyebabkan kebodohan atau berkurangnya kecerdasan anak, yang otomatis sangat berpengaruh pada perkembangan generasi muda khususnya usia anak-anak.

“Sejak 2016, stunting menjadi pusat perhatian dari pemerintah pusat melalui kementerian kesehatan (Kemenkes). Dan hingga kini ada berbagai cara yang telah dilakukan Dinkes Berau untuk menangani kasus stunting di Kabupaten Berau. Salah satunya yakni memberdayakan peran posyandu dalam melakukan penanggulangan stunting, khususnya pada balita. Melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dilakukan 1 bulan sekali melalui pengisian kartu KMS. Sehingga, untuk balita yang mengalami permasalahan pertumbuhan dapat dideteksi sedini mungkin,” tambahnya.

Menurutnya, jika ditemukan permasalahan dalam tumbuh kembang anak, maka harus segera ditindaklanjuti melalui rujukkan ke fasilitas kesehatan. Begitu juga pada ibu hamil, harus memeriksakan kehamilannya paling sedikit 4 kali dalam masa kehamilan.

“Sayangnya, stunting adalah kondisi yang tidak bisa dikembalikan seperti semula. Maksudnya, ketika seorang anak sudah stunting apakah masih bisa disembuhkan? Kita lihat lagi, kalau kita bisa perbaiki dibawah usia 2 tahun kalau diatas usia 2 tahun sulit jadi bisa sampai dewasa,”  tegasnya.

Untuk itu, Dinkes Berau juga memprogramkan pemberian Fe (tablet tambah darah) pada ibu hamil dan remaja putri yang masih duduk dibangku sekolah, disamping pemberian makanan tambahan ( PMT ) pada ibu hamil KEK ( kekurangan energi kronik ). Serta melakukan advokasi lintas program dan lintas sektor yang terkait dalam percepatan pencegahan stunting. Sebab kata dia, stunting merupakan penyakit yang amat sulit disembuhkan, bahkan tidak bisa. Salah satu cara yang dilakukan mencegahnya jauh-jauh hari sejak masa awal kehamilan, bahkan calon ibu masih remaja.

Kendati demikian, dengan berbagai upaya yang dilakukan, melalui lintas program dan lintas sektor yang terkait, sejak 2 tahun terakhir berhasil menurunkan angka stunting. Yakni pada tahun 2017 angka stunting berkisar 12,7 persen, dan 2018 penderita stunting mengalami penurunan menjadi 10,37 persen.

Perlu diingat lanjut dia, percepatan pencegahan dan penurunan Stunting bukan hanya pekerjaan dari Dinas Kesehatan saja, tetapi ada beberapa lintas sektor yang terkait didalamnya. Bahkan, Bupati Berau juga telah membuat surat keputusan (SK) No 387 tahun 2019, Tentang Pembentukan Tim Pencegahan Dan penanganan Kasus Stunting di Kabupaten Berau tahun 2019- 2022.

“Kabupaten Berau sudah membentuk Tim Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting (KP2S ) yang diketuai oleh Kepala Baplitbang yang melibatkan lintas Sektor. Jadi semua instansi yang terlibat juga diwajibkan menganggarkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk mengantisipasi stunting ini,” pungkasnya. (bangun banua)

Rate this item
(0 votes)