Dinkes Imbau Pedagang Takjil Gunakan Bahan Alami

Momen bulan suci ramadhan tentu tak terlepas dari takjil, atau istilahnya jajanan berbuka puasa dengan berbagai jenis makan, yang menggugah selera bagi setiap orang yang melihatnya. Bulan suci umat Islam ini menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang takjil yang ada di Kota Tanjung Redeb dan kecamatan lainnya. Di kawasan Masjid Agung Baitul Hikmah, Tanjung Redeb misalnya, hari hingga hari ke 16 , Ramadan tampak puluhan pedagang menjajakan dagangannya ditempat ini. Hingga menjelang berbuka, berbagai dagangan takjil yang digelar nyaris habis diburu masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, drg Totoh Hermanto juga mengakui, datangnya bulan Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para pedagang takjil. Seperti yang ada di Kota Tanjung Redeb dan sekitarnya, setiap sore selama bulan Ramadhan mulai dipadati oleh para pedagang. Namun Totoh juga berharap, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kualitas takjil atau penganan yang dijajakan para pedagang.

“Hal yang perlu diperhatikan oleh pedagang adalah kebersihan, peralatan, air, bahan makanan dan bahan tambahan pangan, penyajian dan alat pewadahan. Upayakan yang bersih, tertutup dan bergizi,” Tegasya.

Karena itu pihaknya menghimbau kepada seluruh pedagang yang menjual makanan untuk berbuka puasa atau takjil, untuk menggunakan bahan-bahan yang alami, atau aman untuk di konsumsi dan tidak berpengawet. Imbaunya. Totoh puh berharap, tidak ada pedagang yang melakukan kecurangan, seperti mencampurkan bahan pengawet agar jualanya tidak cepat basi, atau memberi pewarna makanan yang tidak aman.

“Saya berharap, pedagang di Kabupaten Berau semuanya menggunakan bahan-bahan alami, serta berjualan dengan jujur tanpa adanya campuran-campuran bahan yang membahayakan bagi kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya,” Tegasnya lagi.

Sebelumnya Yuni salah seorang pedagang takjil dan sayur masak mengatakan, bulan ramadhan ini menjadi berkah untuknya, karna omset penjulannya naik.

“Dari hari biasa penjualan Alhamdulillah naik sekitar 150% an lah, Ramadhan membawa berkah tersendiri buat kami,” ujarnya, Minggu (19/5) sore.

Sebelumnya Yuni berjualan sarapan pagi dan berbagai jenis kue di sekitaran Jalan Milono, omset kotor perharinya rata – rata 650 – 700 ribu. Namun saat Ramadan, dia menjual takjil bisa membawa pulang Rp 1.250.000 hingga Rp 1.500.000 perharinya. Ini adalah kali ke tiga dia berjualan takjil Ramadan. Dari tahun ke tahun Yuni menyebut yang namanya takjil ramadhan tak pernah sepi pengunjung. Rina salah seorang pengunjung mengungkap alasan nya lebih memilih takjil, jadi ketimbang memasak sendiri dirumah. Banyak pilihan dan praktis menjadi salah satu alasannya.

“Kalau beli takjil jadi ini banyak pilihannya, aneka makanan Nusantara ada, juga praktis karna kita juga siangnya kerja, tak sempat masak,” katanya.

Hingga menjelang magrib kemarin, aktifitas jual beli disini tak pernah lengang. Keramaian yang sama juga terlihat di sejumlah titik lain, bahkan sesekali Jalan Apt Pranoto lumayan macet lalu lintasnya, karna kendaraan warga yang masuk areal Masjid Agung terus siih berganti membeli takjil, namun kemacetan ini tak pernah berlangsung lama, karena dapat diatasi Dishub dan Satlantas Polres Berau.(Bangun Banua)

Rate this item
(0 votes)
Last modified on Tuesday, 30 July 2019 11:27