Pentingnya Istithaah Kesehatan Haji

Syarat Pelunasan dan Penunjang Prosesi Haji

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2020 ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, kembali mengadakan sosialisasi kesehatan haji yang dilaksanakan di Balai Mufakat beberapa waktu lalu. Ini karena selain Istithaah atau kesehatan haji sebagai syarat utama pemberangkatan calon jamaah haji (CJH), hal ini juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji.
Dikatakan Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional (yankestrad) Dinkes Berau, Sitti Zakiah, jika sosialisasi ini bukan hanya semata memberikan informasi kepada CJH yang diundang, melainkan juga kepada masyarakat. Bahwasannya, selain melakukan tes kesehatan, pihak Dinkes juga melakukan pemantauan kesehatan para calhaj secara berkala.
“Kegiatan sosialisasi ini diadakan setiap seminggu sekali. Bukan hanya sekadar informasi yang diberikan tetapi juga melakukan olahraga bersama dengan para calhaj, guna menjaga kondisi mereka agar tetap fit, sampai sebelum keberangkatan. Ini bukan untuk mempersulit atau menghambat masyarakat untuk berhaji. Tapi lebih bertujuan melindungi agar saat melakukan prosesi haji benar-benar ditunjang dengan kesehatan yang baik,” terang wanita berhijab itu ketika ditemui pada Rabu (4/3).
 
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (Kemenag) turut menjadi pendukung utama penegakan aturan tersebut. Bahkan, rekomendasi Istithaah telah menjadi syarat utama pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).
 
Istithaah haji, lanjutnya, bukan hanya bicara kemampuan materi, tapi juga soal kesehatan jamaah haji pra embarkasi, embarkasi hingga kepulangan nanti. Tujuannya supaya selama sekitar 40 hari di Arab Saudi, jamaah mampu beribadah secara aman, nyaman, sehat, dan menjadi haji mabrur.
 
Penegakan Istithaah Kesehatan Haji diperkuat dengan surat edaran dari Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag dalam Surat Edaran Nomor 4001/2018. Artinya, hingga di tingkat daerah harus benar-benar memerhatikan Permenkes Istithaah Kesehatan Haji.
 
“Teknisnya, data kesehatan CJH dikontrol. Lalu, diinput dokter ke pusat data Siskohat Kesehatan (Siskohatkes) dan terhubung ke Siskohat Kemenag. Hasilnya dikaji untuk mengetahui kondisi seorang CJH dinyatakan istithaah atau tidak. Jika dinyatakan tidak memenuhi istithaah, mereka tidak bisa melakukan pelunasan di bank. Memang seperti itu seharusnya,” sambungnya.
 
Skrining tersebut diperketat agar tidak ditemui lagi jamaah yang tidak memenuhi syarat istithaah dari sisi kesehatan, tetapi tetap diperbolehkan melunasi BPIH. Bahkan, ada jamaah yang sudah berada di asrama haji, kemudian dinyatakan tidak mampu berhaji dari sisi kesehatan. Demi mengurangi risiko kesehatan pula, CJH juga diimbau untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi saat musim haji nanti yang diperkirakan mencapai lebih dari 50 derajat Celcius.(amel/bangun banua)
Rate this item
(0 votes)