Strain Virus Bisa Terjadi, Protokol Kesehatan Harus Tetap Dilakukan

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Hampir setiap hari ada penambahan kasus positif COVID-19 di Bumi Batiwakkal membuat tenaga kesehatan bekerja ekstra, karena dikhawatirkan menyebabkan penyebaran virus gelombang kedua. Bahkan, kasus terakhir yang menyebabkan satu pasien meninggal dunia yakni Berau 45, dikatakan cukup berbahaya. Hal ini dijelaskan dokter spesialis paru RSUD Abdul Rivai, dr.Robert Naiborhu. Dikatakannya, saat ini virus Corona semakin tidak bisa ditebak.

Dari hasil pengamatan pasien Berau 45, lanjut Robert, virus corona yang menjangkiti pasien disebutnya mirip dengan jenis virus yang mewabah di Jakarta dan Surabaya. Bahkan, dia menyebut virus kali ini lebih berbahaya dibanding jenis pada klaster Gowa. Dari tingkat keparahan dan respon pengobatan juga jelas berbeda.

"Strain (varian genetik atau subtipe) yang dibawa klaster Manado ini, cenderung merusak jaringan paru dan berpotensi besar gagal napas pada beberapa individu yang lebih lemah imunitas tubuhnya. Ini berbeda jauh dengan strain virus corona yang dari Sulawesi (klaster Gowa). Mulai dari proses inkubasi yang lebih cepat, karakteristik gejala, keluhan lebih berat, dan respons terhadap pengobatan standar juga berbeda," terangnya dihubungi Senin (20/7/2020).

Sedangkan untuk para pelaku perjalanan yang dinyatakan positif COVID-19, dikatakannya selalu merujuk pada kota asal keberangkatan masing-masing. Ini untuk mengetahui pola penyakit yang ada di daerah asal.

“Data daerah asal pelaku perjalanan ini sangat penting guna mempersiapkan kemungkinan apa yang dapat berkembang kemudian hari. Dan dari beberapa pasien pelaku perjalanan yang mendapat perawatan, kebanyakan mereka tingkat keparahannya ringan sampai sedang, belum ada yang berat. Untuk sementara ini semua pasien yang ada masih respon terhadap pengobatan yang diberikan,” tambahnya.

Untuk itu, Robert meminta masyarakat tidak menganggap remeh virus ini. Bahkan, semua protokol kesehatan yang sudah disusun pemerintah harus disiplin dijalankan dan diterapkan. Terlebih, untuk yang memiliki kelainan penyakit pernapasan seperti penyempitan atau sumbatan saluran pernapasan tentu akan berpengaruh pada tingkat keparahan COVID-19 ini.

“Penggunaan masker sudah ditetapkan dalam protokol pemerintah, mulai dari cara penggunaan, standar masker yang diperlukan dan kapan dipergunakan. Jadi, bagi mereka yang sebelumnya sudah memiliki gangguan pernapasan, tetap harus menggunakan masker saat perjalanan keluar rumah. Dan jika memakai masker ini menjadi kendala bagi yang bersangkutan, maka frekuensi keluar rumah harus dikurangi dan dipertimbangkan dengan baik. Keluar rumah hanya untuk hal penting,” tegasnya. (bangun banua)

Rate this item
(0 votes)