Terus Bertambah, Ruang Isolasi Hampir Penuh

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES - 

Terus bertambahnya jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Berau, membuat RSUD Abdul Rivai kewalahan. Bahkan, dengan jumlah yang sudah mencapai 87 pasien yang menjalani perawatan, membuat ruang isolasi hampir penuh. Untuk itu, Dinkes Berau mencari alternatif ruang isolasi tambahan selain yang ada di RSUD Abdul Rivai, guna berjaga apabila ruangan yang ada di RSUD sudah penuh.  

“Iya ruang isolasi sudah hampir penuh. Jadi, selain memaksimalkan penggunaan Politeknik Negeri Sinarmas, juga akan bekerja sama dengan salah satu hotel atau penginapan untuk menampung pasien terkonfirmasi COVID-19. Mungkin nanti pasien COVID-19 sebagian ada yang dirawat di hotel atau penginapan yang ditunjuk,” katanya. 
 
Hotel atau penginapan itu nantinya, akan menampung pasien dengan gejala ringan. Sementara untuk pasien tekonfirmasi tanpa gejala, direkomendasikan untuk karantina mandiri. Dan untuk yang memiliki gejala berat saja yang bakal dirawat di RSUD dr Abdul Rivai. dan sampai saat ini ada 60 pasien terkonfirmasi COVID-19 menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr Abdul Rivai. Ini karena pasien yang dirawat memiliki gejala cukup berat, sehingga diperlukan penanganan khusus dari tim medis. 
 
“Untuk jumlah kamar isolasi di RSUD dr Abdul Rivai itu juga sekitar 60. Namun, saat ini satu kamar bisa diisi lebih dari dua orang, karena ada yang satu keluarga,” jelasnya. 
 
Untuk itu, Iswahyudi mengimbau agar masyarakat terus mematuhi protokol kesehatan. Dengan melaksanakan 3M. Yakni, menjaga jarak, mencuci tangan di air mengalir dengan menggunakan sabun, dan memakai masker saat berinteraksi dengan orang lain. 
 
“Saat ini tenaga kesehatan itu sudah banyak yang terpapar. Kalau kasus terkonfirmasi terus meningkat, tenaga kesehatan yang bekerja sekarang bisa knock out (KO). Bisa-bisa pasien enggak ada yang rawat,” tuturnya. 
 
Lanjutnya, saat ini Kabupaten Berau berstatus zona merah. Di mana, pemerintah kabupaten bakal mengevaluasi kebiasaan hidup masyarakat. Bahkan, bisa jadi pembatasan kembali dilakukan. 
 
“Kalau zona merah ini bertahan lama, maka tempat nongkrong bisa kembali ditutup,” tandasnya. (dw/bangun banua)
Rate this item
(0 votes)
Last modified on Monday, 07 December 2020 22:52