Dinkes Sosialisasi dan Advokasi POPM Filariasis

Untuk meningkatkan cakupan minum obat penyakit kaki gajah (Filariasis), Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, menggelar kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Pemberian obat pencegahan massal (POPM), baru baru ini  di Hotel Palmy Exlusif. Dalam kegiatan yang dibuka secara resmi Bupati Berau, H Muharram S.Pd MM ini, dihadiri Pemateri dari Kementerian Kesehatan, dengan diikuti, perwakilan OPD lintas sektor, Para Kepala Puskesmas, dokter dan petugas Filariasis kabupaten setempat. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari.

Kepala Dinkes Berau, drg Totoh Hermanto mengatakan, kegiatan sosialisasi dan advokasi POPM ini dalam rangka mendukung gerakan Indonesia bebas Filariasis. Kegiatan ini merupakan tahun keempat yang dilaksanakan. Dengan capaian, pada tahun 2016 lalu POPM hingga 85 persen, 2017 capai 87 persen dan 2018 capai 87 persen. Totoh mengungkapkan bahwa saat ini kasus filariasis sebanyak dua. Satu pasien sudah tertangani dan sembuh, sementara satu lagi masih dalam proses pengobatan.

Saat ini Dinkes berupaya untuk membantu pasien agar secepatnya sembuh. “Melalui kegiatan ini kita harapkan dapat meningkatkan POPM. Hasil ini juga diharapkan bisa ditindaklanjuti hingga ke kampung dan kecamatan oleh seluruh kepala puskesmas yang hadir,” jelasnya. Sementara Kepala Dinkes Kaltim, Rini Ratno Sukesi mengatakan bahwa kegiatan dilaksanakan selama 5 tahun berturut-turut. Sejauh ini hasil yang telah dicapai sudah sangat memuaskan. Tentu diharapkan hal ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi. “Karena ditargetkan pada tahun 2020 mendatang sudah harus bebas filariasis.

"Saya dorong agar tenaga kesehatan yang ada bisa membantu dalam melakukan sosialisasi dan pencegahan sejak dini,” katanya. Ditambahkan Bupati Muharram, penyakit apapun yang sifatnya menular harus diseriusi sejak dini. Jangan sampai memakan korban jiwa ataupun menyebarkan ke masyarakat. “Apapun itu namanya kita harus respon cepat. Karena penyakit ini akan sangat menganggu aktivitas masyarakat. Yang akhirnya bisa menghambat pembangunan daerah,” katanya.

Muharram menegaskan bahwa para petugas kesehatan yang ada di puskesmas menjadi ujung tombak kepada masyarakat untuk memberikan sosialisasi dan himbauan terkait menjaga hidup bersih dan sehat. “Awal mula penyakit ini karena pola hidup kita yang tidak bersih dan sehat.

Oleh karena itu harus selalu kita jaga lingkungan sekitar kita untuk menghindarkan dari penyakit. Karena itu pola hidup bersih dan sehat itu harus diterapkan masyarakat ” pungkasnya.(bangun banua)

Rate this item
(0 votes)
Last modified on Tuesday, 30 July 2019 11:27