TANJUNG REDEB-  Banyak masyarakat Indonesia yang masih minim pengetahuannya dengan gangguan kejiwaan atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) termasuk di Kabupaten Berau. Orang dengan gangguan jiwa, memang mendapat perlakuan tak semestinya, seperti dikurung, diasingkan dari keluarga atau dipasung, karena ia mengamuk, atau berjalan jalan keluar rumah, hingga tidak tahu kembali. Seperti data yang ada di Dinas Kesehatan,  yang diungkapkan Nurhayati Kepala Seksi Kesehatan Jiwa dan Penyakit Tidak Menular (PTM)  data sejak tahun 2017  jumlah ODGJ di Kabupaten Berau 175 orang, “Dari jumlah 175 ini ini, ada 12 orang penderita ODGJ yang dipasung,” kata Nurhayati.

Untuk meniadakan ODGJ yang dipasung tidaklah mudah, sebutnya perlu kerjasama dari Puskesmas setempat dan  Dinkes untuk memberikan pemahaman kepada fihak keluarga agar tidak ada pasung untuk penanganan  penderita ODGJ. Dari upaya upaya ini, akhirnya satu persatu penderita ODGJ yang ada di berbagai kecamatan termasuk di daerah ibukota Tanjung Redeb tidak ada lagi yang dipasung. Hanya ada satu penderita di salah satu kampung di Berau yang masih dipasung keluarganya. Inipun sebut Nurhayati Dinkes terus berupaya untuk memberikan pemahaman kepada keluarga.

Di sisi lai penderita ODGJ untuk dapat mencapai tingkat kesembuhan sangat diutamakan adalah dukungan keluarga. Mengapa penderita ODGJ dalam penanganan dipasung oleh keluarga, lantaran di Kabupaten Berau belum ada Rumah Sakit Jiwa dan faktor lainya penderita kerap berjalan keluar rumah yang tentunya sangat menganggu keamanan si penderita dan masyarakat di sekelilingnya. Sehingganya, sebut Nurhayati  pada tahun 2018 dinas Kesehatan mengajukan surat permohonan kepada Bupati Kabupaten Berau agar rumah sakit Abdul Rivai membuka ruang untuk penanganan ODGJ. “Dan kita juga sudah memiliki psikiater ,” kata Nurhayati. Sehingg sejak tahun 2018 kemarin, di RSUD Abdul Rivai sudah ada ruang Tulip untuk penanganan pasien ODGJ.

Penderita ODGJ di ruang tulip ini disebutkan dapat ditanggung kartu kesehatan BPJS seperti halnya penyakit lainya. Berdasarkan data di Dinkes Kesehatan, ODGJ hingga bulan Juli 2019 , sekitar 315 orang. Jumlah ini berdasarkan hasil pendataan di lapangan. Dan fihak Seksi Kesehatan Jiwa dan Penyakit Tidak Menular, tetap door to door untuk memberikan pemahaman  kepada keluarga pegobatan untuk  penderita ODGJ, mengenai penanganan. (Bangun Banua)

TANJUNG REDEB – Untuk menyusun rencana kontijensi guna menghadapi kemungkinan-kemungkinan terjadinya Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) di Kabupaten Berau, maka Dinas Kesehatan Kaltim bersama Dinkes Berau melaksanakan sosialisasi dan workshop penyusunan penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) wilayah Berau, di ballroom Hotel Palmy, Selasa (16/7) dengan dibuka secara resmi oleh Bupati Berau, Muharram. Tujuan khususnya, agar tersusunnya kontijensi sebagai bentuk kesiapsiagaan penanggulangan dalam menghadapi kemungkinan masuk dan keluarnya KKM di Bumi Batiwakkal. Kontijensi juga berarti rencana yang telah dirancang dan disepakati bersama.

Bupati Muharram mengatakan visi-misi pemerintah mewujudkan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang makin mantap. Olehnya itu, setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Baik itu ditempat pelayanan berstandar yang dilayani oleh tenaga kesehatan yang kompeten, serta menggunakan standar pelayanan dan informasi yang akurat atas kebutuhan kesehatan. Ia pun menyarankan pihak yang terlibat membuka wawasan terkait hal atau penyakit baru yang bisa ditemui. "Riset yang dilakukan para ahli, selama 30 tahun terakhir ini ditemukan sekitar 30 penyakit baru. Bisa saja kita akan bertemu dengan masalah kesehatan yang ada di daerah kita. Sehingga perlu diantisipasi bersama," imbuhnya.

Ia menambahkan, Puskesmas dan pihak terkait perlu mengembangkan sistem yang mampu mendeteksi secara cepat suatu kejadian kesehatan masyarakat yang tidak lazim. Kecepatan deteksi kata Muharram akan sangat menentukan waktu dan metode tindakan pengendalian yang tepat. “Sehingga para tenaga kesehatan perlu mendapatkan pemahaman dan informasi yang luas lagi sebagai antisipasi,” katanya. Untuk itu kabupaten dan puskesmas perlu mengembangkan sistem yang mampu mendeteksi secara cepat suatu kejadian kesehatan masyarakat yang tidak lazim, karena kecepatan deteksi akan sangat menentukan waktu dan metode tindakan pengendalian yang tepat.

Kegiatan deteksi dan respon kejadian di wilayah yang terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik, akan mengurangi potensi dampak terhadap kesehatan dan mencegah kejadian tersebut menjadi KKM skala wilayah kabupaten, nasional bahkan internasional. Puskesmas dan dinas kesehatan perlu melakukan inovasi dan mendorong peran serta masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dan gerakan masyarakat (germas) guna mewujudkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi masyarakat Berau agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Melalui kegiatan ini diharapkan Berau akan mempunyai dokumen kontijensi plan kedaruratan kesehatan masyarakat, sehingga akan terbentuk sistem dan mekanisme respon cepat dalam pencegahan kejadian menjadi KKM.(bangun banua)

TANJUNG REDEB- Dinas Kesehatan akhir pekan lalu mensosialisikan pencecgahan dan pengendalian penyakit Tuberculosis Multi Drugs Resistences (TB MDR) pada lima buah puskesmas. Lima puskesmas tersebut Puskesmas Tanjung Redeb, Sambaliung, Teluk Bayur dan Puskesmas Tepian Buah di Segah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit H Garna Sudarsono A.Md Kep bersama Hj Hamsiah A Md Keb kepala seksi pencegahan dan PengendalianPenyakit Menular berkunjung ke puskesmas puskesmas. Ditekankan bahwa pencegahan TB MDR ,  bahwa kunci pencegahannya dengan endagnosis secara dini setiao terduga TB resisten obat dan dilanjutkan dengan pengobatan. “Pengobatan harus dipantau kepatuhan dan ketuntasannya , serta harus dilaporkan   dalam system surveilans,” ungkapnya. Pegobatan TB denga tata laksana yang tidak standar baik dalam hal paduan,lama dan cara pemberian pengobatan dapat menjadi faktor pencetus untuk meningkatnya jumlah kasus TBC resistent obat dan TB MDR. Pengunaan TBC lini kedua (missa siprofloksasin,ofloksasin sembarangan dapat memicu munculnya TBC XDR. Dipaparkan bahwa untuk mencegah penularan kuman TBC MDR  pencegahan dan pengendallian infeksi syang tepat harus dilakukan dietia fasyankes yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. “Umumnya pencegahan TB MDR itu sendiri yang pertama dan paling utama jika ada batuk batuk , segeran periksakan ke fasyankes .patuh minum obat sampai selesai. TB MDR ini muncul karena pasien tidak patuh minum obat , atau putus ditengah jalan sehingga kuman jadi kebal,” ditambahkan oleh Hamsiah, kepala seksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Dan pastinya menggunakan masker agar terhindar dari kontak langsung dengan pasien TB MDR. Untuk data di Kabupaten Berau mulai tahun 2017-2019 , jumlahnaya 75 orang kemudian berkurang menjadi 15 orang. Saat ini pasien tersisa 6 orang dan masih dalam masa pengobatan.  (bangun banua)

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, drg Totoh Hermanto mengungkapkan penyakit kanker memang termasuk penyakit yang tingkat kematiannya cukup tinggi, namun hal itu bisa diantisipasi dengan pola hidup yang sehat.
"Kanker serviks dan payudara salah satu penyakit kanker yang banyak ditakuti kaum wanita. Namun hal itu sebenarnya bisa diantisipasi dengan mengenali gejala, penyebab, dan cara pencegahannya," kata Totoh usai menghadiri seminar kesehatan edukasi kanker di Balai Mufakat kepada media ini .
Kata Totoh, kanker diketahui merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia dan nomor tujuh di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada beberapa tahun terakhir, tingkat prevalensi penyakit kanker tercatat sudah mencapai ratusan ribu orang dari total populasi penduduk.
“Bahkan, berdasarkan prediksi badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), pada 2030, jumlah penderita kanker di Indonesia akan meningkat tujuh kali lipat. Nah, ini yang harus kita antisipasi mulai sekrang,” tegasnya.
Dijelaskannya, pendeteksian dini untuk penyakit ini bisa melalui mamograf, pap smear, kolonosopi, biopsi hingga pengecekan darah secara berkala bisa mengurangi risiko penyebaran sel kanker lebih luas.
Penyakit ini berdasarkan garis keturunan (gen) diketahui bisa membuat seseorang berisiko mengidap penyakit kanker. Namun, orang dengan gaya hidup yang tak sehat juga bisa memicu aktifnya sel kanker itu di dalam tubuh. Jelasnya.
Karena itu Dinkes Berau bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daera Abdul Rivai (RSUDAR), dan TP PKK Berau, kata Totoh, sengaja mengadakan seminar kesehatan tentang kanker ini sebagai upaya pencegahan lebih dini di Kabupaten Berau, dan sengaja digelar, dilatarbelakangi dengan meningkatnya jumlah kematian yang disebabkan penyakit tidak menular, seperti jantung, gagal ginjal, termasuk juga kanker.
"Sehingga penting memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara pencegahan penyakit kanker salah satunya dengan pola hidup sehat," kata dia.

 

Media credits : Youtube Channel - Good Afternoon NET.
Diungkapkannya, walaupun sampai saat ini penyebab pasti kanker serviks dan kanker payudara belum diketahui penyebab pasti, namun perubahan perilaku yang jauh dari hidup sehat dijelaskan Totoh merupakan satu faktor risiko yang memiliki potensi menyebabkan gejala kanker payudara dan serviks.

Berangkat dari kondisi tersebut, penguatan paradigma kesehatan melalui kampanye pentingnya menjalankan praktik pola hidup sehat sehari- hari, mendeteksi dini, penemuan dan tindak lanjut dini kanker bagi pasien yang terindikasi merupakan bagian dari penguatan paradigma kesehatan melalui, yang tertuang dalam program Dinkes yang saat ini terus disosialisasikan.

Pemeriksaan payudara secara klinis, deteksi dini kanker leher rahim dengan IVA ( Inspeksi visual dengan Adam Asetat), atau pengobatan segera dengan krioterapi serta melakukan pemeriksaan Pap Smear diungkapkan Totoh, merupakan bagian tindakan untuk menemukan secara dini ada tidaknya penyakit kanker.

“ Sehingga penyakit dapat segera diobati dan mengalami kesembuhan sekaligus upaya pencegahan bagi kaum wanita melalui imunisasi HPV (vaksinasi human papiloma virus)” Urainya.

Selain tindakan medis, upaya pengendalian penyakit kanker payudara dan serviks khususnya yang dipengaruhi oleh faktor resiko perubahan pola hidup, Totoh menngatakan bahwa pentingnya menjalankan praktik pola hidup sehat sehari- hari dalam upaya pencegahan.

Tindakan pola hidup sehat seperti melakukan aktifitas fisik, mengkonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, diet gizi seimbang, perilaku hidup bersih dan sehat cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok,rajin olahraga, diet sehat dengan kalori seimbang,istirahat yang cukup dan kelola stres. “ Memeriksakan kesehatan secara rutin merupakan pola hidup sehat, yang diharapkan menjadi gaya hidup masyarakat sehari-hari,” Pungkasnya. (Bangun Banua)

KONDISI fisik gedung Puskesmas Tanjung Redeb ini  cukup sederhana, berada di tengah kota Tanjung Redeb, tepatnya di jalan Ramania, tidak ramai hilir mudik lalu lintas kendaraan. Sehingganya tidaklah terlalu  padat  parkiran kendaraan pasien yang berkunjung di puskesmasdi jalan Ramania ini. dan memang puskesmas belum memiliki lahan parkir, karena kondisi lahan tidak memungkinkan.

Meski demikian, tak terhitung  sudah masyarakat dilayani di puskesmas ini, sejak berdirinya tahun 1974 atau 45 tahun yang lalu. Untuk tahun 2018 kemarin tingkat kunjungan di wilayah UPTD Puskesmas Tanjung Redeb sejumlah 21.639 kunjungan.

Kini telah bertajuk UPTD Puskesmas Tanjung Redeb yang memiliki luas wilayah kerja,  membawahi  dua buah puskesmas pembantu di kelurahan Gunung Panjang serta Pusban  Bedungun dan 23 Posyandu balita dan 2 Posyandu Lanjut Usia (Usila).

Menurut keterangan Kepala UPTD Puskesmas Tanjung Redeb H Kasran A.Md.Kep untuk gedung puskesmas di Tanjung Redeb beroperasi  setiap hari, dengan jam pelayanan mulai Senin hingga  Kamis mulai pukuk 08.00-11.00 wita, Jumat mulai 08.00-9.30 wita dan Sabtu 08.00-10.00 wita.

Selama kurun waktu 2018 puskesmas melayani pasien umum, BPJS, Jamkesmas dan Jamkesda.

Kemudian, apa saja pelayanan kesehatan untuk masyarakat di Puskesmas ini ?

Untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal, ada pelayanan kesehatan ibu hamil. “Selama tahun 2018 sejumlah 808 ibu hamil di puskesmas Tanjung, Pusban Bedungun dan Pukesmas pembantu di Gunung Panjang, cerita Kasran.

Sedangkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah UPTD Puskesmas Tanjung selama 2018 sejumlah 655 kelahiran atua sebar 84,7 persen . “Ini menandakan bahwa sebagian besar ibu hamil sudah memahami betul pentingnya pertolongan kesehatan dilakukan tenaga kesehatan,” kata Kasran.

Selanjutnya cakupan pelayanan ibu nifas (bufas) sebanyak 656 bufas dan kunjunganya ibu nifas 2 sebanyak 527.

Untuk pelayanan imunisasi TT dan tablet fe pada ibu hamil. (bumil) , da sejumlah 808. Sedangkan penanganan bumi resiko tinggi ada sebanyak  176 mendapatkan penanganan dan rujukan. Untuk ibu nifas juga ada pemberian vitamin A pada ibu nifas.

Untuk pelayanan kesehatan anak, UPTD Puskesmas , ada cakupan kunjungan  neonatus danpemberian ASI ekslusif . Dianjurkan kepada ibu yang telah melahirkan untuk mendapatkan ASI ekslusif karena ASIdilengkapi kandungan yang memperkeat sistem imun bayi berupa cairan kekuningan yang bernama kolostrum.

“Jumlah bayi yang berkunjung di UPTD puskesmas tanjung selama 2018 sebanyak 234, sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif  163 bayi.” Kata Kasran.

Setelah ASI, bayi bayi ini juga mendapatkan vitamin A , penimbangan dan imunisasi, baik di puskesmas, maupun puskesmas pembantu.

Jika tadi ibu dan Balita, maka ada usila yakni usia lanjut. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Redeb terdapat 1.255 usia lanjut yang berumur di atas 60 tahun sebagai sasaran kesehatan. Ada posyandu Lansia yang beroperasi di wilayah Tanjung Redeb melayani masyarakat lansia.

 Kini Keluarga Berencana (KB) yang aktif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Redeb, selama tahun 2018 peserta  yang aktif 6.499 mereka menggunakan KB suntik, pil, kondom,implan,WOW,MOP dan IUD.

Untuk sarana pelayanan kesehatan di puskesmas Tanjung Redeb, denga pelayanan UGD;

Lalu berapa tenaga kesehatan dan penunjang di Puskesmas Tanjung ?

Ada 6 dokter umum masing masing 3 PNS dan 3 PTT, 1  dokter gigi (PTT), perawat gigi 1 orang.Sarjana keperawatan 1 orang, DIII keperawatan 11 orang,  D III Kebidanan 9 orang, Apoteker 2 orang, D III Farmasi dan asisten apoteker 1 orang, D III Gizi 2 orang, Sarjana Kesehatan Masayrakat 1 orang, tenaga sanitasi 2 orang, TU 1 orang, PCPM 1 orang, pekarya 1 orang, CS 1 orang dan sopir 1 orang.  

Saat ini akreditasi UPTD Puskesmas Tanjung Redeb berada di tingkatan dasar untuk menuju ketingkatan selanjutnya. Komisi akreditasi pusat memberikan penilaian kepada UPTD Puskesmas . Disebutkan Kasran, bahwa penilaian mencakup administrasi dan management , usaha kesehatan masyarakat dan usaha kesehatan perorangan.

Page 1 of 2