Dinas Kesehatan Berau mengelar workshop lintas program atau sektor sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), Senin (24/6) di Balai Mufakat. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kabupaten Berau, Ir M Gazali MM. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dalam program mewujudkan masyarakat yang sehat dan kuat di Bumi Batiwakkal.

Pelaksanaan workshop ini dihadiri oleh seluruh kepala kampung dan camat, lurah, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan. Target dalam kegiatan ini untuk mewujudkan STBM di setiap kampung sekaligus mengaplikasikan perilaku hidup sehat di masyarakat yang dapat mencegah penyebaran penyakit.

Sebelum membuka kegiatan, Gazali menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan sosialisasi dan kampanye untuk mewujudkan program ini. Sehingga bisa diterapkan oleh seluruh masyarakat. Dan menghasilkan generasi yang kuat secara mental dan fisik. “Kepada para kepala kampung yang hadir saat ini saya minta agar selalu gencar mengkampanyekan STBM ini kepada masyarakatnya masing-masing,” jelasnya.

Dalam menjaga kesehatan di masyarakat ia mengharapkan agar kepala kampung bisa melakukan pembenahan kepada generasi muda. Sejak dini diharapkan agar mempersiapkan generasi yang kuat dan cerdas. “Kalau ada masyarakat yang kurang mampu dan sedang hamil, kepala kampung bisa memberikan perhatian penuh. Karena yang akan dilahirkannya nanti merupakan penerus dari kampung itu. Jadi sejak dini sudah bisa diperhatikan generasi yang akan lahir di kampung masing-masing. Tentu harapannya, setiap kampung bisa memiliki generasi yang kuat dan cerdas,” tegasnya.

Gazali mengatakan dalam penerapan STBM ini ada lima pilar yang harus diterapkan, yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum-makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga. “Diharapkan agar lima pilar ini bisa diaplikasikan untuk mempermudah upaya peningkatan akses sanitasi masyarakat yang lebih baik dan mengubah serta mempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan sehat. Begitu juga dengan target mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri bisa terlaksana,” Tandasnya.(Bangun Banua)

Untuk meningkatkan cakupan minum obat penyakit kaki gajah (Filariasis), Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, menggelar kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Pemberian obat pencegahan massal (POPM), baru baru ini  di Hotel Palmy Exlusif. Dalam kegiatan yang dibuka secara resmi Bupati Berau, H Muharram S.Pd MM ini, dihadiri Pemateri dari Kementerian Kesehatan, dengan diikuti, perwakilan OPD lintas sektor, Para Kepala Puskesmas, dokter dan petugas Filariasis kabupaten setempat. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari.

Kepala Dinkes Berau, drg Totoh Hermanto mengatakan, kegiatan sosialisasi dan advokasi POPM ini dalam rangka mendukung gerakan Indonesia bebas Filariasis. Kegiatan ini merupakan tahun keempat yang dilaksanakan. Dengan capaian, pada tahun 2016 lalu POPM hingga 85 persen, 2017 capai 87 persen dan 2018 capai 87 persen. Totoh mengungkapkan bahwa saat ini kasus filariasis sebanyak dua. Satu pasien sudah tertangani dan sembuh, sementara satu lagi masih dalam proses pengobatan.

Saat ini Dinkes berupaya untuk membantu pasien agar secepatnya sembuh. “Melalui kegiatan ini kita harapkan dapat meningkatkan POPM. Hasil ini juga diharapkan bisa ditindaklanjuti hingga ke kampung dan kecamatan oleh seluruh kepala puskesmas yang hadir,” jelasnya. Sementara Kepala Dinkes Kaltim, Rini Ratno Sukesi mengatakan bahwa kegiatan dilaksanakan selama 5 tahun berturut-turut. Sejauh ini hasil yang telah dicapai sudah sangat memuaskan. Tentu diharapkan hal ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi. “Karena ditargetkan pada tahun 2020 mendatang sudah harus bebas filariasis.

"Saya dorong agar tenaga kesehatan yang ada bisa membantu dalam melakukan sosialisasi dan pencegahan sejak dini,” katanya. Ditambahkan Bupati Muharram, penyakit apapun yang sifatnya menular harus diseriusi sejak dini. Jangan sampai memakan korban jiwa ataupun menyebarkan ke masyarakat. “Apapun itu namanya kita harus respon cepat. Karena penyakit ini akan sangat menganggu aktivitas masyarakat. Yang akhirnya bisa menghambat pembangunan daerah,” katanya.

Muharram menegaskan bahwa para petugas kesehatan yang ada di puskesmas menjadi ujung tombak kepada masyarakat untuk memberikan sosialisasi dan himbauan terkait menjaga hidup bersih dan sehat. “Awal mula penyakit ini karena pola hidup kita yang tidak bersih dan sehat.

Oleh karena itu harus selalu kita jaga lingkungan sekitar kita untuk menghindarkan dari penyakit. Karena itu pola hidup bersih dan sehat itu harus diterapkan masyarakat ” pungkasnya.(bangun banua)

Balai Pom Samarinda, yang difasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Berau  Selasa (13/5) kemarin  di ruang Kakaban mengadvokasi ketua tim penggerak PKK, Dinas Instansi terkait, Kepala Kampungg, kader, tokoh masyarakat, dalam rangka gerakan keamanan desa.

Apa sih Gerakan keamanan desa itu ? beberapa peserta yang bertanya tanya ?

Genta Nila Hadi Ssi Apt pemateri dari Balai Pom Samarinda  dalam ajang ini , memaparkan bahwa gerakan keaman pangan desa adalah pembangunan keamanan pangan yang dimulai dari tingkat individu,  keluarga hingga masyarakat.

Badan POM telah menginisisasi program-program keamanan pangan nasional dengan melakukan intervensi keamanan pangan kepada masyarakat.   Salah satunya adalah Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD) yang dilaksanakan sejak tahun 2014.   

Program  ini  sejalan  dengan  program  Nawacita  yang  ke-3  yaitu  membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan dan Nawacita yang ke-7 yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, antara lain pangan, energi dan keuangan. Melalui program ini juga diharapkan terbentuk masyarakat yang mandiri dalam melaksanakan keamanan pangan sehingga praktek keamanan pangan yang baik dapat menjadi kebiasaan bahkan menjadi budaya masyarakat, sekaligus untuk memperkuat ekonomi desa melalui program Keamanan Pangan Desa.

“Di Indonesia, dilaksanakan diseluruh Propinsi , di setiap propinsi ada 3-5 desa , tahun 2014 ada 294 desa, dan dari tahun 2015 hingga 2019 ini masing masing 100,” kata Genta Nila, perempuan berjilbab ini.

Program ini dilaksanakan secara terus menerus, dan tahun ini untuk Kabupaten Berau ada 3 desa atau kampung yang diintervensi untuk keamanan pangan desa, yakni kampung Malung, Keluarahan Bugis dan Kelurahan Gunung Panjang.

Mengapa hanya 3 kelurahan saja ? karena gerakan keamanan pangan desa dilakukans secara bertahap. Tiga kelurahan ini masuk dari 100 desa atau kampung yang ada di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan desa pangan aman ?

Nah...desa pangan aman , harus memiliki 3 unsur, yakni pertama komitmen akan keamanan pangan. Kedua kader keamanan pangan aktif dan ketiga program mandiri keamanan pangan.

Keig aunsur ini diukung dengan keamanan pangan masuk alam kelembagaan desa, kemudian pemilihan kader keamann pangan yang tepat, dan masyarakat desa terpapar keamanan pangan serta usaha pangan desa menerapkan praktek keamanan pangan yang baik.

Adapun nilai dasar dari desa pangan adalah, yang pertama pemberdayaan masyarakat , peningkatan akses keamanan pangan, berbsis kearifan lokal dan pengembangan produk unggulan.

Untuk mewujudkan desa pangan aman, Genta Nila Hadi memaparkan konsep  pelaksanaannya adalah di tahun pertama itu Desa PAMAN Pratama ( inisiasi awal untuk pementukan desa PAMAN, pada tahn kedua PAMAN Madya  (merupaan tahap pertumbuhan dan pengemangan desan PAMAN), sedangkan Tahun ketiga desa PAMAN Mandiri (desa PAMAN yang mandiri memiliki kegiatan berkelanjutan).

Pada pelaksanaanya , disebuah desa harus ada perkuatan kapasitas desa, yang amna advokasi kelembagaan desa, pada point disini membahas maskya kamanan pangan di kelembagaan desa serta menganalisis program desa yang bisa di integrasikan minlnya semacam PNPM mandiri atau desa siaga.

Dalam perkuatan kapasitas desa ini juga ada pembentukan tim keamananpangan yang terdiri dari 4 orang perangkat adesa di masing masing desa. Yakni terdiri dari 1 orang ketua (keala desa /lurah), dan ada 3 orang yang mengkoordinasikan dan melakukan pengawasan.

Tugas dan tanggung jawabnya , menyusun jadwal dan rencana  kerja, melaksankan bimtek dan memotivasi komunitas desa.

 Nah ...komunitas desanya yang mana? Komunitas desa dalam perkuatan kapasitas deasa, adalah Ib PKK, Karang Taruna , dan sekolah yang ditugaskan kepala desa untuk melakukan pembinaan dan failitasi keaman pangan. Tentunya mereka yang bertugas ini mampu berkomunikasi dengan baik.

Selain Genta Nila, yag memerikan materi pada Advokasi, juga ada Chrstine Natalia Pandjaitan Ssi, Apt yang juga memberikan pengarahan mengenai  keyang diamanan pangan.

Disebutkan Christine , bahwa dalam keaman  pangan desa ini, setelahberjalan, ada monitoring dari Balai Pom berupa pengawasan rutin, evasluasi dan laporan. Dan penilaianya menjelang kahir kegiatan BPOM sudah mulai mengumpulkan daa dan dokumen dari semua desa yang di intevensi.

Misal di Kabupaten Berau ada tiga desa yang di intervensi, kampung Maluang, kelurahan Bugis dan kelurahan Gunung Panjang.

Aktivitas pada pengawalan desa PAMAN , tim membuat program, dan memastikan rancangan program kemana pangan dalam RPJMDES, dan memampaatkan APBD Desa atau Kampung, sebutan untuk di Berau. Aktivitas  keamanan PAMAN Desa  didampingi oleh BPOM.

Page 2 of 2