Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, drg Totoh Hermanto mengungkapkan penyakit kanker memang termasuk penyakit yang tingkat kematiannya cukup tinggi, namun hal itu bisa diantisipasi dengan pola hidup yang sehat.
"Kanker serviks dan payudara salah satu penyakit kanker yang banyak ditakuti kaum wanita. Namun hal itu sebenarnya bisa diantisipasi dengan mengenali gejala, penyebab, dan cara pencegahannya," kata Totoh usai menghadiri seminar kesehatan edukasi kanker di Balai Mufakat kepada media ini .
Kata Totoh, kanker diketahui merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia dan nomor tujuh di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada beberapa tahun terakhir, tingkat prevalensi penyakit kanker tercatat sudah mencapai ratusan ribu orang dari total populasi penduduk.
“Bahkan, berdasarkan prediksi badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), pada 2030, jumlah penderita kanker di Indonesia akan meningkat tujuh kali lipat. Nah, ini yang harus kita antisipasi mulai sekrang,” tegasnya.
Dijelaskannya, pendeteksian dini untuk penyakit ini bisa melalui mamograf, pap smear, kolonosopi, biopsi hingga pengecekan darah secara berkala bisa mengurangi risiko penyebaran sel kanker lebih luas.
Penyakit ini berdasarkan garis keturunan (gen) diketahui bisa membuat seseorang berisiko mengidap penyakit kanker. Namun, orang dengan gaya hidup yang tak sehat juga bisa memicu aktifnya sel kanker itu di dalam tubuh. Jelasnya.
Karena itu Dinkes Berau bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daera Abdul Rivai (RSUDAR), dan TP PKK Berau, kata Totoh, sengaja mengadakan seminar kesehatan tentang kanker ini sebagai upaya pencegahan lebih dini di Kabupaten Berau, dan sengaja digelar, dilatarbelakangi dengan meningkatnya jumlah kematian yang disebabkan penyakit tidak menular, seperti jantung, gagal ginjal, termasuk juga kanker.
"Sehingga penting memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara pencegahan penyakit kanker salah satunya dengan pola hidup sehat," kata dia.

 

Media credits : Youtube Channel - Good Afternoon NET.
Diungkapkannya, walaupun sampai saat ini penyebab pasti kanker serviks dan kanker payudara belum diketahui penyebab pasti, namun perubahan perilaku yang jauh dari hidup sehat dijelaskan Totoh merupakan satu faktor risiko yang memiliki potensi menyebabkan gejala kanker payudara dan serviks.

Berangkat dari kondisi tersebut, penguatan paradigma kesehatan melalui kampanye pentingnya menjalankan praktik pola hidup sehat sehari- hari, mendeteksi dini, penemuan dan tindak lanjut dini kanker bagi pasien yang terindikasi merupakan bagian dari penguatan paradigma kesehatan melalui, yang tertuang dalam program Dinkes yang saat ini terus disosialisasikan.

Pemeriksaan payudara secara klinis, deteksi dini kanker leher rahim dengan IVA ( Inspeksi visual dengan Adam Asetat), atau pengobatan segera dengan krioterapi serta melakukan pemeriksaan Pap Smear diungkapkan Totoh, merupakan bagian tindakan untuk menemukan secara dini ada tidaknya penyakit kanker.

“ Sehingga penyakit dapat segera diobati dan mengalami kesembuhan sekaligus upaya pencegahan bagi kaum wanita melalui imunisasi HPV (vaksinasi human papiloma virus)” Urainya.

Selain tindakan medis, upaya pengendalian penyakit kanker payudara dan serviks khususnya yang dipengaruhi oleh faktor resiko perubahan pola hidup, Totoh menngatakan bahwa pentingnya menjalankan praktik pola hidup sehat sehari- hari dalam upaya pencegahan.

Tindakan pola hidup sehat seperti melakukan aktifitas fisik, mengkonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, diet gizi seimbang, perilaku hidup bersih dan sehat cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok,rajin olahraga, diet sehat dengan kalori seimbang,istirahat yang cukup dan kelola stres. “ Memeriksakan kesehatan secara rutin merupakan pola hidup sehat, yang diharapkan menjadi gaya hidup masyarakat sehari-hari,” Pungkasnya. (Bangun Banua)

KONDISI fisik gedung Puskesmas Tanjung Redeb ini  cukup sederhana, berada di tengah kota Tanjung Redeb, tepatnya di jalan Ramania, tidak ramai hilir mudik lalu lintas kendaraan. Sehingganya tidaklah terlalu  padat  parkiran kendaraan pasien yang berkunjung di puskesmasdi jalan Ramania ini. dan memang puskesmas belum memiliki lahan parkir, karena kondisi lahan tidak memungkinkan.

Meski demikian, tak terhitung  sudah masyarakat dilayani di puskesmas ini, sejak berdirinya tahun 1974 atau 45 tahun yang lalu. Untuk tahun 2018 kemarin tingkat kunjungan di wilayah UPTD Puskesmas Tanjung Redeb sejumlah 21.639 kunjungan.

Kini telah bertajuk UPTD Puskesmas Tanjung Redeb yang memiliki luas wilayah kerja,  membawahi  dua buah puskesmas pembantu di kelurahan Gunung Panjang serta Pusban  Bedungun dan 23 Posyandu balita dan 2 Posyandu Lanjut Usia (Usila).

Menurut keterangan Kepala UPTD Puskesmas Tanjung Redeb H Kasran A.Md.Kep untuk gedung puskesmas di Tanjung Redeb beroperasi  setiap hari, dengan jam pelayanan mulai Senin hingga  Kamis mulai pukuk 08.00-11.00 wita, Jumat mulai 08.00-9.30 wita dan Sabtu 08.00-10.00 wita.

Selama kurun waktu 2018 puskesmas melayani pasien umum, BPJS, Jamkesmas dan Jamkesda.

Kemudian, apa saja pelayanan kesehatan untuk masyarakat di Puskesmas ini ?

Untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal, ada pelayanan kesehatan ibu hamil. “Selama tahun 2018 sejumlah 808 ibu hamil di puskesmas Tanjung, Pusban Bedungun dan Pukesmas pembantu di Gunung Panjang, cerita Kasran.

Sedangkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah UPTD Puskesmas Tanjung selama 2018 sejumlah 655 kelahiran atua sebar 84,7 persen . “Ini menandakan bahwa sebagian besar ibu hamil sudah memahami betul pentingnya pertolongan kesehatan dilakukan tenaga kesehatan,” kata Kasran.

Selanjutnya cakupan pelayanan ibu nifas (bufas) sebanyak 656 bufas dan kunjunganya ibu nifas 2 sebanyak 527.

Untuk pelayanan imunisasi TT dan tablet fe pada ibu hamil. (bumil) , da sejumlah 808. Sedangkan penanganan bumi resiko tinggi ada sebanyak  176 mendapatkan penanganan dan rujukan. Untuk ibu nifas juga ada pemberian vitamin A pada ibu nifas.

Untuk pelayanan kesehatan anak, UPTD Puskesmas , ada cakupan kunjungan  neonatus danpemberian ASI ekslusif . Dianjurkan kepada ibu yang telah melahirkan untuk mendapatkan ASI ekslusif karena ASIdilengkapi kandungan yang memperkeat sistem imun bayi berupa cairan kekuningan yang bernama kolostrum.

“Jumlah bayi yang berkunjung di UPTD puskesmas tanjung selama 2018 sebanyak 234, sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif  163 bayi.” Kata Kasran.

Setelah ASI, bayi bayi ini juga mendapatkan vitamin A , penimbangan dan imunisasi, baik di puskesmas, maupun puskesmas pembantu.

Jika tadi ibu dan Balita, maka ada usila yakni usia lanjut. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Redeb terdapat 1.255 usia lanjut yang berumur di atas 60 tahun sebagai sasaran kesehatan. Ada posyandu Lansia yang beroperasi di wilayah Tanjung Redeb melayani masyarakat lansia.

 Kini Keluarga Berencana (KB) yang aktif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Redeb, selama tahun 2018 peserta  yang aktif 6.499 mereka menggunakan KB suntik, pil, kondom,implan,WOW,MOP dan IUD.

Untuk sarana pelayanan kesehatan di puskesmas Tanjung Redeb, denga pelayanan UGD;

Lalu berapa tenaga kesehatan dan penunjang di Puskesmas Tanjung ?

Ada 6 dokter umum masing masing 3 PNS dan 3 PTT, 1  dokter gigi (PTT), perawat gigi 1 orang.Sarjana keperawatan 1 orang, DIII keperawatan 11 orang,  D III Kebidanan 9 orang, Apoteker 2 orang, D III Farmasi dan asisten apoteker 1 orang, D III Gizi 2 orang, Sarjana Kesehatan Masayrakat 1 orang, tenaga sanitasi 2 orang, TU 1 orang, PCPM 1 orang, pekarya 1 orang, CS 1 orang dan sopir 1 orang.  

Saat ini akreditasi UPTD Puskesmas Tanjung Redeb berada di tingkatan dasar untuk menuju ketingkatan selanjutnya. Komisi akreditasi pusat memberikan penilaian kepada UPTD Puskesmas . Disebutkan Kasran, bahwa penilaian mencakup administrasi dan management , usaha kesehatan masyarakat dan usaha kesehatan perorangan.

Dinas Kesehatan Berau mengelar workshop lintas program atau sektor sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), Senin (24/6) di Balai Mufakat. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kabupaten Berau, Ir M Gazali MM. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dalam program mewujudkan masyarakat yang sehat dan kuat di Bumi Batiwakkal.

Pelaksanaan workshop ini dihadiri oleh seluruh kepala kampung dan camat, lurah, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan. Target dalam kegiatan ini untuk mewujudkan STBM di setiap kampung sekaligus mengaplikasikan perilaku hidup sehat di masyarakat yang dapat mencegah penyebaran penyakit.

Sebelum membuka kegiatan, Gazali menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan sosialisasi dan kampanye untuk mewujudkan program ini. Sehingga bisa diterapkan oleh seluruh masyarakat. Dan menghasilkan generasi yang kuat secara mental dan fisik. “Kepada para kepala kampung yang hadir saat ini saya minta agar selalu gencar mengkampanyekan STBM ini kepada masyarakatnya masing-masing,” jelasnya.

Dalam menjaga kesehatan di masyarakat ia mengharapkan agar kepala kampung bisa melakukan pembenahan kepada generasi muda. Sejak dini diharapkan agar mempersiapkan generasi yang kuat dan cerdas. “Kalau ada masyarakat yang kurang mampu dan sedang hamil, kepala kampung bisa memberikan perhatian penuh. Karena yang akan dilahirkannya nanti merupakan penerus dari kampung itu. Jadi sejak dini sudah bisa diperhatikan generasi yang akan lahir di kampung masing-masing. Tentu harapannya, setiap kampung bisa memiliki generasi yang kuat dan cerdas,” tegasnya.

Gazali mengatakan dalam penerapan STBM ini ada lima pilar yang harus diterapkan, yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum-makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga. “Diharapkan agar lima pilar ini bisa diaplikasikan untuk mempermudah upaya peningkatan akses sanitasi masyarakat yang lebih baik dan mengubah serta mempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan sehat. Begitu juga dengan target mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri bisa terlaksana,” Tandasnya.(Bangun Banua)

Untuk meningkatkan cakupan minum obat penyakit kaki gajah (Filariasis), Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, menggelar kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Pemberian obat pencegahan massal (POPM), baru baru ini  di Hotel Palmy Exlusif. Dalam kegiatan yang dibuka secara resmi Bupati Berau, H Muharram S.Pd MM ini, dihadiri Pemateri dari Kementerian Kesehatan, dengan diikuti, perwakilan OPD lintas sektor, Para Kepala Puskesmas, dokter dan petugas Filariasis kabupaten setempat. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari.

Kepala Dinkes Berau, drg Totoh Hermanto mengatakan, kegiatan sosialisasi dan advokasi POPM ini dalam rangka mendukung gerakan Indonesia bebas Filariasis. Kegiatan ini merupakan tahun keempat yang dilaksanakan. Dengan capaian, pada tahun 2016 lalu POPM hingga 85 persen, 2017 capai 87 persen dan 2018 capai 87 persen. Totoh mengungkapkan bahwa saat ini kasus filariasis sebanyak dua. Satu pasien sudah tertangani dan sembuh, sementara satu lagi masih dalam proses pengobatan.

Saat ini Dinkes berupaya untuk membantu pasien agar secepatnya sembuh. “Melalui kegiatan ini kita harapkan dapat meningkatkan POPM. Hasil ini juga diharapkan bisa ditindaklanjuti hingga ke kampung dan kecamatan oleh seluruh kepala puskesmas yang hadir,” jelasnya. Sementara Kepala Dinkes Kaltim, Rini Ratno Sukesi mengatakan bahwa kegiatan dilaksanakan selama 5 tahun berturut-turut. Sejauh ini hasil yang telah dicapai sudah sangat memuaskan. Tentu diharapkan hal ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi. “Karena ditargetkan pada tahun 2020 mendatang sudah harus bebas filariasis.

"Saya dorong agar tenaga kesehatan yang ada bisa membantu dalam melakukan sosialisasi dan pencegahan sejak dini,” katanya. Ditambahkan Bupati Muharram, penyakit apapun yang sifatnya menular harus diseriusi sejak dini. Jangan sampai memakan korban jiwa ataupun menyebarkan ke masyarakat. “Apapun itu namanya kita harus respon cepat. Karena penyakit ini akan sangat menganggu aktivitas masyarakat. Yang akhirnya bisa menghambat pembangunan daerah,” katanya.

Muharram menegaskan bahwa para petugas kesehatan yang ada di puskesmas menjadi ujung tombak kepada masyarakat untuk memberikan sosialisasi dan himbauan terkait menjaga hidup bersih dan sehat. “Awal mula penyakit ini karena pola hidup kita yang tidak bersih dan sehat.

Oleh karena itu harus selalu kita jaga lingkungan sekitar kita untuk menghindarkan dari penyakit. Karena itu pola hidup bersih dan sehat itu harus diterapkan masyarakat ” pungkasnya.(bangun banua)

Page 2 of 3