Video Informasi dan Edukasi tentang pentingnya peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah sesuai dengan porsinya. Dalam rangka mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) oleh Direktorat Promkes dan PM Kemenkes RI

Video Informasi Langkah Cerdas Jaga Keamanan Pangan oleh Direktorat Promkes dan PM Kemenkes RI

Video Edukasi tentang GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) oleh Direktorat Promkes dan PM Kemenkes RI

Jakarta - Terburu-buru untuk berangkat aktivitas di pagi hari mungkin membuatmu sampai tak sempat sarapan. Ketimbang mengisi perut kosong dengan makanan yang tidak bergizi, kamu bisa memilih buah sebagai alternatif.

Buah merupakan 'rumah' bagi serangkaian nutrisi, vitamin, cairan, serat dan manfaat kesehatan lainnya. Tidak semua buah cocok dimakan saat perut kosong, namun ketiga buah ini bisa jadi pilihan terbaik untuk sarapan sehatmu seperti dikutip dari berbagai sumber:

 

Semangka, buah yang segar.
Semangka, buah yang segar. Foto: iStock/Shine

 

 

 

1. Semangka
Semangka memberi tubuhmu cairan dalam jumlah yang cukup saat perutmu kosong. Selain itu, semangka juga mengandung kadar likopen yang cukup tinggi yang baik bagi jantung dan mata.

Kiwi.
Kiwi. Foto: iStock


2. Kiwi
Kiwi bisa membantu menyingkirkan racun dari tubuh dan kaya serat bisa membantu menambah energi. Mengonsumsi satu hingga tiga buah kiwi sehari cukup untuk mendapatkan tambahan nutrisi, seperti vitamin C, vitamin K, vitamin E, folat, dan potasium. Perut yang masih kosong akan membantu tubuh menyerap nutrisi baik dari kiwi dengan baik ke sistem pencernaan.

Pepaya bisa bantu BAB makin lancar.
Pepaya bisa bantu BAB makin lancar. Foto: iStock


3. Pepaya
Memakan pepaya yang rendah kalori dan tinggi serat bisa membantumu yang ingin menurunkan bobot dan kolesterol. Buah ini juga mengandung enzim pencernaan yang bisa membersihkan saluran cerna dan juga mengurangi gejala-gejala seperti sembelit, kembung, konstipasi dan sakit perut. Pepaya kaya akan vitamin A dan C yang bisa membantu meningkatkan sistem imun. Super fruit satu ini dipercaya dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan mencegah kanker usus besar.

 

Sumber

Jakarta - Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat edaran yang memuat tentang penghapusan merkuri mulai dari pelarangan produksi merkuri, penggunaan merkuri dan penggantian alat kesehatan mengandung merkuri paling lambat pada akhir tahun 2020 mendatang. Meski peraturan pelarangan alat kesehatan bermerkuri telah ada sejak beberapa tahun lalu, implementasinya belum maksimal dilakukan oleh fasilitas kesehatan.

"Baru 26,6 persen fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak menggunakan alat kesehatan bermerkuri. Jadi lebih dari 73 persen masih menggunakan," ujar Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, dr Kirana Pritasari, kepada detikHealth, Selasa (30/7/2019).

"Jangan-jangan RS vertikal juga masih menggunakan," tambahnya.

 

Puskesmas, klinik, laboratorium kesehatan, apotek, dan Unit Transfusi Darah (UTD) disebutnya juga masih menggunakan alat kesehatan bermerkuri.

"Memang dari segi ekonomi lebih menguntungkan memakai alat kesehatan bermerkuri karena harganya yang cukup terjangkau," tambahnya.


Merkuri atau raksa (Hg) merupakan logam berat yang berbahaya. Penggunaannya sangat dibatasi karena bisa mencemari lingkungan dan terakumulasi di tubuh manusia.

Adapun alat kesehatan yang mengandung merkuri dan masih banyak digunakan di fasilitas kesehatan antara lain termometer, tensimeter, amalgam gigi, kateter yang tingkat perkiraan kandungan merkurinya berbeda. Misalnya tensimeter mengandung perkiraan kandungan merkuri sekitar 110-200 gram.

"Kami mengharapkan agar masyarakat lebih aware pada alat kesehatan yang mengandung merkuri. Demikian juga dengan tenaga kesehatan agar bisa menjadi monitor penggunaan alat kesehatan bermerkuri," pungkasnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Sekertaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, dr Agus Hadian Rahim, SpOT, MEpid, MHKes, mengatakan alat kesehatan yang tidak bermerkuri masuk dalam komponen kompetensi alat. Artinya harus ada konsekuensi bahwa rumah sakit tersebut tidak kompeten melaksanakan pelayanannya.

"(Jika masih menggunakan alat kesehatan bermerkuri) Akan beresiko menurunkan akreditasi rumah sakit. Rumah sakit kena sanksi yang besar dan tidak boleh beroperasi," tutup Agus.

 

Sumber

Page 1 of 3