Helda

Helda

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Kabar gembira dan kabar sedih terkait perkembangan COVID-19 di Berau silih berganti. Meskipun ada penambahan kasus sembuh, nyatanya kasus positif juga masih ikut terus bertambah. Senin (27/7/2020), Dinas Kesehatan Berau kembali mengeluarkan rilis penambahan 4 kasus positif, dan 7 pasien sembuh. Dan hingga hari ini total konfirmasi positif COVID-19 di Berau sudah di angka 74 kasus, dengan 14 orang masih dirawat di RSUD Abdul Rivai.

Keempat tambahan positif yaitu TAF (Berau71) warga Tanjung Redeb dan ZD (Berau72) warga Karang Ambon, keduanya merupakan pelaku perjalanan dari Kota Samarinda. Ketiga, MK (Berau73) warga Tanjung Redeb pelaku perjalanan dari Jogjakarta. Keempat ES (Berau74) warga Tanjung Redeb, kontak erat lingkungan kerja Berau68.

Sedangkan tujuh pasien sembuh adalah, Sisko Yudi Susanto (Berau44) warga Karang Ambon pelaku perjalanan dari Kota Banjarmasin. Kedua, Febriona Cerry Setiawan (Berau47) – anak dari Berau45, warga Bedungun. Ketiga, Saut Siregar (Berau52) warga Kampung Tumbit Dayak, pelaku perjalanan Kota Medan. Keempat, Itok Putro Prasetyo (Berau57) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Sukoharjo. Kelima, Eko Fernando (Berau58) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Padang. Keenam, Deni Setiansyah (Berau59) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Banjarmasin. Dan terakhir adalah Ilham (Berau60) pelaku perjalanan dari Makassar.

Dengan demikian, dikatakan Iswahyudi jika Berau sudah berada di gelombang kedua penyebaran COVID-19. Dan masyarakat diminta selalu waspada, ikut berperan aktif mengingatkan keluarga, tetangga hingga lingkup kerjanya untuk selalu menggunakan masker, mematuhi semua protokol kesehatan yang ada. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES

Dinkes Berau melalui bidang Kesehatan Masyarakat, mengadakan Kursus Higiene Sanitasi bagi pengelola DAMIU. Pelatihan dibuka Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi dan dihadiri pemilik Depot Air Minum se-Kabupaten Berau, yakni sebanyak 20 orang.

Pelatihan ini digelar karena Dinkes Berau merupakan salah satu unit pelaksana teknis bidang kesehatan lingkungan dan penyakit, mempunyai tugas dan fungsi salah satunya melakukan analisis berbagai faktor risiko lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu juga merupakan laboratorium rujukan bidang kesehatan lingkungan yang sangat relevan untuk mengkaji kualitas air minum khususnya kualitas air minum dari produk Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU).

“Pelatihan ini diharapkan memberikan pengetahuan bagi pemilik DAMIU bagaimana mengelola usahanya dengan benar, sesuai dengan syarat hygiene air. Karena SDM merupakan faktor yang sangat penting dalam membantu peningkatan program khususnya pengawasan dan pengelolaan DAMIU,” jelas Iswahyudi membuka pelatihan Sabtu (25/7/2020)

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Lamlai Sari juga menjelaskan bahwa dilaksanakannya kegiatan ini agar pemilik DAMIU dalam menjalankan tugasnya diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga dalam teknik pengawasan DAMIU, sehingga hasil dari pemeriksaan dan pengawasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelum mendapatkan materi yakni teknik pengambilan sampel, teknik operasional pengelolaan depot air minum, serta mekanisme pengurusan sertifikat laik hygiene depo, para peserta diberikan lembar quisioner yang harus diisi. Ini juga untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki para pemilik DAMIU terkait hygiene sanitasi ini.

Diharapkan dengan pelatihan ini, bagi pengelola DAMIU dapat meningkatkan dan menguatkan kompetensi SDM, sebagai tenaga terlatih dalam mengetahui dan memahami tata cara pengelolaan DAMIU yang benar dan baik, utamanya menjaga kehigienisan sanitasinya. Dengan pengetahuan, khususnya pemilik dan pengelola dapat ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap potensi yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Masyarakat Berau belum bisa bernapas lega meskipun pasien sembuh dari COVID-19 terus bertambah. Pasalnya, selain kesembuhan, kasus positif juga masih terus bertambah. Kali ini adalah transmisi lokal yakni dari kontak erat satu mess dengan Berau 60, sebanyak 4 orang. Mereka adalah AL (Berau 61), SAI (Berau 62), KM (Berau 63) dan RM (Berau 64) yang semuanya beralamat di Kelurahan Tanjung Redeb.

Sampel keempat orang tersebut diperiksa di Klinik Tirta Medical Centre pada 20 Juli 2020. Dengan penambahan ini sudah terjadi transmisi lokal kesekian kalinya, setelah sebelumnya juga ada transmisi lokal dari klaster Gowa dan klaster Manado.

“Total keseluruhan kasus positif COVID-19 di Berau sudah 64 kasus, dan sampai hari ini masih ada 15 pasien yang dirawat. Kita harapkan masyarakat disiplin memakai masker. Jika merasa ada gejala yang mengarah ke gangguan pernapasan, segera periksakan ke dokter. Karena dari kasus akhir-akhir ini yang didapati adalah mereka yang gejalanya ringan tapi ternyata positif Corona,” imbau Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi pada Selasa (21/7/2020).

Dari transmisi lokal yang terhitung cepat inilah dikhawatirkan gelombang kedua penyebaran COVID-19 di Berau sudah mulai berjalan. Apalagi untuk tracing kontak erat para pasien positif juga masih terus dilakukan oleh pihak Dinkes di lapangan. Sehingga tidak menutup kemungkinan masih ada penambahan kasus positif dari para kontak pasien yang dinyatakan positif sebelumnya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Hampir setiap hari ada penambahan kasus positif COVID-19 di Bumi Batiwakkal membuat tenaga kesehatan bekerja ekstra, karena dikhawatirkan menyebabkan penyebaran virus gelombang kedua. Bahkan, kasus terakhir yang menyebabkan satu pasien meninggal dunia yakni Berau 45, dikatakan cukup berbahaya. Hal ini dijelaskan dokter spesialis paru RSUD Abdul Rivai, dr.Robert Naiborhu. Dikatakannya, saat ini virus Corona semakin tidak bisa ditebak.

Dari hasil pengamatan pasien Berau 45, lanjut Robert, virus corona yang menjangkiti pasien disebutnya mirip dengan jenis virus yang mewabah di Jakarta dan Surabaya. Bahkan, dia menyebut virus kali ini lebih berbahaya dibanding jenis pada klaster Gowa. Dari tingkat keparahan dan respon pengobatan juga jelas berbeda.

"Strain (varian genetik atau subtipe) yang dibawa klaster Manado ini, cenderung merusak jaringan paru dan berpotensi besar gagal napas pada beberapa individu yang lebih lemah imunitas tubuhnya. Ini berbeda jauh dengan strain virus corona yang dari Sulawesi (klaster Gowa). Mulai dari proses inkubasi yang lebih cepat, karakteristik gejala, keluhan lebih berat, dan respons terhadap pengobatan standar juga berbeda," terangnya dihubungi Senin (20/7/2020).

Sedangkan untuk para pelaku perjalanan yang dinyatakan positif COVID-19, dikatakannya selalu merujuk pada kota asal keberangkatan masing-masing. Ini untuk mengetahui pola penyakit yang ada di daerah asal.

“Data daerah asal pelaku perjalanan ini sangat penting guna mempersiapkan kemungkinan apa yang dapat berkembang kemudian hari. Dan dari beberapa pasien pelaku perjalanan yang mendapat perawatan, kebanyakan mereka tingkat keparahannya ringan sampai sedang, belum ada yang berat. Untuk sementara ini semua pasien yang ada masih respon terhadap pengobatan yang diberikan,” tambahnya.

Untuk itu, Robert meminta masyarakat tidak menganggap remeh virus ini. Bahkan, semua protokol kesehatan yang sudah disusun pemerintah harus disiplin dijalankan dan diterapkan. Terlebih, untuk yang memiliki kelainan penyakit pernapasan seperti penyempitan atau sumbatan saluran pernapasan tentu akan berpengaruh pada tingkat keparahan COVID-19 ini.

“Penggunaan masker sudah ditetapkan dalam protokol pemerintah, mulai dari cara penggunaan, standar masker yang diperlukan dan kapan dipergunakan. Jadi, bagi mereka yang sebelumnya sudah memiliki gangguan pernapasan, tetap harus menggunakan masker saat perjalanan keluar rumah. Dan jika memakai masker ini menjadi kendala bagi yang bersangkutan, maka frekuensi keluar rumah harus dikurangi dan dipertimbangkan dengan baik. Keluar rumah hanya untuk hal penting,” tegasnya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Deretan pasien sembuh dari COVID-19 di Berau bertambah lagi. Senin (20/7/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau merilis empat pasien sembuh tersebut. Mereka adalah Hartopo (Berau 40) warga Tanjung Redeb, Edward Aldu Setiawan (Berau 46) warga Bedungun, Sheisha Carlise Setiawan (Berau 48) warga Bedungun, dan Radius Lidan Mandaso (Berau 51) juga warga Bedungun.

Berau 46 dan Berau 48 adalah anak dari Berau 45 yang mendapat perawatan selama kurang lebih seminggu. Dan ibundanya juga telah dinyatakan sembuh beberapa hari sebelumnya. Sedangkan Berau 51 adalah kontak erat di lingkungan kerja Berau 45.

Hingga saat ini, masih ada 11 pasien positif yang dirawat di RSUD Abdul Rivai. Dimana salah satunya adalah anak dari Berau 45. Sedangkan sisanya merupakan kontak erat di lingkungan kerja, dan pelaku perjalanan dari beberapa daerah.

Dengan demikian, sampai Senin sore ini rekapitulasi penanganan COVID-19 Berau adalah, masih ada 11 pasien yang dirawat dari total 60 kasus konfirmasi positif. 48 selesai isolasi atau sembuh dan meninggal dunia 1 orang. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Dalam sepekan terakhir Berau terus mendapatkan penambahan kasus positif COVID-19. Minggu (19/7/2020) siang, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau kembali merilis tambahan dua orang terkonfirmasi positif Corona dari pemeriksaan sampel di Klinik Tirta Medical Centre, pada 17 Juli 2020. Dua orang tersebut adalah pelaku perjalanan.

Mereka adalah DS (Berau 59) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Banjarmasin, dan IL (Berau 60) warga Kelurahan Gayam yang merupakan pelaku perjalanan dari Kota Makassar. Saat ini keduanya sudah menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai.

“Kembali diimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan protokol kesehatan yang ada. Karena dikhawatirkan ini akan menjadi gelombang kedua penyebaran COVID-19 di Berau, dengan terus bertambahnya kasus positif, dan sudah ada beberapa kasus transmisi lokal. Dimana untuk transmisi lokal terhitung kontak singkat dan bisa langsung terpapar,” jelas Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau, Iswahyudi.

Penambahan kasus ini tidak bisa dianggap remeh. Karena walaupun ada pasien yang bisa sembuh dengan imun tubuhnya sendiri, tetapi jika ada yang memiliki riwayat perjalanan berisiko tinggi, serta memiliki gejala mengarah ke COVID-19 harusnya segera memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit.

Sampai hari ini total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Berau sebanyak 60 kasus, dan pasien yang masih menjalani perawatan 15 orang. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES - 
 
Hasil tracing dari pasien Berau 45 yang meninggal beberapa waktu lalu, membuahkan hasil. 4 orang yang merupakan kontak erat di lingkungan kerja dinyatakan positif COVID-19. Selain itu, ada 2 tambahan kasus positif dari pelaku perjalanan.
 
Yang kontak erat Berau 45 adalah MRS (Berau 53) warga Teluk Bayur, SRN (Berau 54) warga Tanjung Redeb, KP (Berau 56) warga Kampung Tubaan Kecamatan Tabalar. Sedangkan RAO (Berau 55) warga Sambaliung adalah kontak erat Berau 46. Dan untuk pelaku perjalanan yakni IPP (Berau 57) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kabupaten Sukoharjo, dan EF (Berau 58) yang juga warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Padang.
 
"Sudah terjadi transmisi lokal di sekitar lingkup pasien positif COVID-19. Dan kondisi para pasien ini hanya menunjukkan gejala ringan. Tapi meskipun begitu, diminta masyarakat untuk tetap waspada. Apalagi yang tambahan positif ini kontak langsung dengan pasien juga terhitung singkat. Untuk itu kita harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan karena kita tidak tahu siapa yang sudah terpapar," jelas Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau, Iswahyudi saat merilis penambahan kasus positif, Jumat (17/7/2020).
 
Selain tambahan kasus positif, 2 pasien juga dinyatakan sembuh yaitu Basri (Berau 49) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Makasar, dan Rinny Indrawati Angkol (Berau 50) yang merupakan istri dari Berau 45.
 
"Istri Berau 45 ini cepat sembuh karena beliau aktif berolahraga sehingga daya tahan tubuh atau imun tubuhnya kuat," tambahnya.
 
Hingga Jumat sore, rekapitulasi penanganan COVID-19 Berau sudah ada 58 kasus positif, dimana 44 orang dinyatakan sembuh, 1 meninggal dunia, dan 13 orang masih dirawat di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai. (bangun banua)
TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES -
 
Tiga bulan mendapatkan perawatan di RSUD Abdul Rivai, akhirnya Selasa (14/7/2020), pasien COVID-19 terakhir dari klaster Gowa yakni Berau-10 dinyatakan sembuh. Ini setelah dua kali berturut-turut hasil swabnya negatif. 
 
Selain itu, Berau-39 warga Kampung Pilanjau Kecamatan Sambaliung, yang merupakan pelaku perjalanan dari Maluku juga dinyatakan sembuh. Namun, berita gembira ini juga dibarengi penambahan dua kasus positif baru.
 
"Satu dari warga Kelurahan Bedungun yakni Berau-51 yang merupakan kontak erat pada lingkungan kerja Berau-45 yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Dan satunya lagi adalah Berau-52 warga Kampung Tumbit Dayak Kecamatan Sambaliung, pelaku perjalanan dari Kota Medan," jelas Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Berau, Iswahyudi.
 
Untuk Berau-51, dikatakannya adalah hasil tracing lanjutan Berau-45. Dimana sampel dikirim 9 Juli 2020 ke Labkesda Provinsi Kaltim, dan ternyata hasilnya positif.
 
Hingga Selasa sore, masih ada 9 pasien positif COVID-19 yang dirawat di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai. Mereka adalah 4 orang anggota keluarga Berau-45 dan 5 pelaku perjalanan. (bangun banua)
TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES -
 
Setelah lama bertahan tanpa kasus meninggal dunia (MD) akibat COVID-19, Sabtu (11/7/2020) malam, di Balai Mufakat Jalan Cendana, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Berau merilis kasus MD pertama yakni Berau 45. 
 
Dikatakan Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Berau, H.Muharram, Berau 45 Meninggal dunia setelah 5 hari dirawat intensif di RSUD Abdul Rivai, akibat pneumonia berat. Selama dirawat, dikatakannya jika kondisi pasien terus mengalami penurunan hingga akhirnya gagal nafas.
 
"Kondisi paru-paru pasien ini sudah tidak normal. Sejak dirawat 6 Juli 2020 lalu, Pneumonia akibat virus Corona sudah menyerang hampir seluruh bagian paru-parunya. Dan Berau 45 dinyatakan meninggal dunia 11 Juli 2020 pukul 16.19 WITA, dan sudah dimakamkan sekitar pukul 18.00 WITA di pemakaman yang khusus disiapkan bagi pasien COVID-19 yakni di Jalan Bukit Ria Tanjung Redeb," jelasnya.
 
Untuk kasus MD pertama di Berau ini dikatakan Muharram memang pasien terlambat ditangani. Ini karena yang bersangkutan tidak mau melapor dan agak lama juga baru mau dites swab.
 
Selain kasus kematian pertama karena COVID-19, juga dirilis penambahan kasus positif yakni nyonya RIA (Berau 50), yang merupakan istri dari Berau 45. Selain itu ada juga 1 pelaku perjalanan dari Makassar yakni BR (Berau 49) warga Kelurahan Bugis Kecamatan Tanjung Redeb, yang merupakan salah satu karyawan tambang yang kembali dari cuti.
 
Sedangkan untuk ODP dan PDP yang juga sempat kontak dengan keluarga Berau 45 sudah dikarantina mandiri selama 14 hari, dan hasil swabnya negatif. Sampai saat ini tracing masih terus dilakukan dan terus bertambah. 
 
Hingga Sabtu malam rekapitulasi kasus COVID-19 Berau adalah, untuk pasien positif yang mendapat perawatan di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai sebanyak 9 orang, dan kematian akibat Corona sudah 1 orang. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Cantika Swara di Jalan Pulau Panjang, ditutup secara resmi pengoperasiannya Rabu (8/7/2020) pagi, karena tak ada penambahan ODP dan PDP sejak sebulan terakhir. Penutupan ditandai dengan pelepasan balon  oleh Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Berau, H.Muharram didampingi Sekda M.Gazali, Ketua Satgas RSDC dr.Jusram, Direktur RSUD Abdul Rivai dr.Nurmin Baso, dan Ketua DPRD Berau Madri Pani.

RSDC ini adalah salah satu fasilitas khusus yang disiapkan Pemkab Berau untuk mengawasi dan merawat ODP serta PDP, yang dioperasikan sejak awal April 2020. 4 dokter dan 28 perawat (14 perawat dari rekrutmen relawan dan 14 perawat dari puskesmas dan RSUD Abdul Rivai) yang disiapkan untuk penanganan semua pasien disana, mendapat penghargaan dari Pemkab Berau.

“Terimakasih untuk semua tenaga medis yang sudah berjuang maksimal sebagai garda terdepan untuk merawat pasien di RSDC ini. Meskipun sudah tidak ada ODP dan PDP, kita tetap harus waspada dan tetap disiplin menjalankan semua protokol kesehatan yang ada,” terang Muharram.

RSDC ini sebenarnya sudah tidak beroperasi sejak 1 Juli 2020. Bahkan, sejak pertengahan Juni memang hampir tidak ada penambahan ODP maupun PDP lagi. Terlebih dengan penambahan ruang isolasi di RSUD Abdul Rivai bagi pasien positif COVID-19, sampai saat ini masih bisa menampung jumlah pasien positif yang ada. Namun, untuk tenaga kesehatan yang ada masih tetap berjaga jika tiba-tiba ada penambahan kasus pemantauan dan pengawasan ada lagi. Tak hanya untuk pasien PDP, RSDC juga menjadi tempat istirahat para nakes yang merawat pasien COVID-19 di RSUD Abdul Rivai.

Untuk tenaga medis yang bertugas di RSDC ini kontraknya juga sudah selesai per 30 Juni 2020. Dan ini juga sama waktunya dengan habisnya masa peminjaman gedung oleh Bank Kaltimtara. Sejak awal merebaknya pandemi corona di Bumi Batiwakkal ini, tercatat ada 167 ODP yang dipantau dan 71 PDP yang diawasi. (bangun banua)

Page 1 of 23