Helda

Helda

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES -

Masih terus bertambah kasus konfirmasi positif COVID-19 hampir setiap harinya, membuat pihak terkait baik Dinkes Berau maupun RSUD Abdul Rivai mempersiapkan segala antisipasi. Salah satunya yakni pengadaan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) yang rencananya akan dipercepat.

Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Nurmin Baso mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan tempat khusus untuk alat tersebut. Karena alat PCR tidak bisa digabungkan dengan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) saat ini. Dan ruangannya pun harus memiliki spesifikasi tersendiri. Laboratorium PCR akan dibuatkan tiga ruangan, dimana setiap ruangannya diisi alat PCR dan pendukung lainnya. Anggaran yang disediakan pun terbilang cukup fantastis yakni Rp 1,5 miliar.

“Itu anggaran untuk membeli alat PCR sama alat pendukung lainnya. Karena alat PCR tidak bisa dioperasikan jika tidak ada alat pendukungnya. Targetnya, pengurusan administrasi akan rampung akhir tahun ini. Sehingga, awal tahun 2021 alat PCR bisa dibeli dan dioperasikan. Kami akan bermohon ke Kementerian Kesehatan untuk izin operasionalnya. Sementara ini, kami fokus untuk menyiapkan ruangannya dulu,” katanya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi mengatakan, sisa cartridge TCM kurang dari 20. Sehingga, petugas laboratorium harus segera memesan kembali.

“Cartridge-nya tidak diperjualbelikan secara bebas. Dan itu hanya ada di Kementerian Kesehatan. Setelah cartridge digunakan, tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas harus segera memasukkan data pengeluaran cartridge di sistem Kementerian Kesehatan. Sehingga, Kementerian yang melihat itu, secara otomatis akan mengirimkan cartridge tambahannya. Jadi berapa yang hari ini keluar, besok harinya pasti akan dikirimkan dengan jumlah yang sama,” tandasnya. (dw/bangun banua)

JANTUNG adalah organ vital yang harus kita jaga kesehatannya. Organ ini mengendalikan seluruh sistem tubuh karena berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Alasan lain mengapa kita harus menjaga kesehatan jantung adalah saat ini penyakit jantung masih bertengger di posisi pertama sebagai penyakit paling mematikan di dunia. 
Menerapkan pola hidup sehat adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan jantung. Kalau kamu peduli dengan kesehatan jantung, berikut sejumlah kebiasaan yang perlu kamu terapkan untuk meningkatkan fungsi jantung, yaitu:
1. Mendapatkan Waktu Tidur yang Cukup
Bagi kamu yang punya kebiasaan begadang, mulai tinggalkan kalau ingin punya jantung yang lebih sehat. Perlu diketahui bahwa orang dewasa dan paruh baya yang tidur tujuh jam semalam memiliki lebih sedikit kalsium di dalam arterinya dibandingkan mereka yang tidur kurang dari lima jam atau lebih dari sembilan jam. Kandungan kalsium di dalam arteri adalah pertanda awal dari penyakit jantung. 
2. Pertahankan Tekanan Darah Normal
Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat merusak dinding arteri dan membuat jaringan parut. Akibatnya, darah dan oksigen sulit keluar masuk dari hati. Kondisi ini membuat jantung harus memompa lebih keras dan lebih cepat aus. Jumlah oksigen yang tidak memadai kemudian dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. 
Nah, untuk mengelola tekanan darah di angka yang normal, kamu perlu memeriksakannya setiap 3-5 tahun. Individu yang telah mencapai usia di atas 40 tahun atau memiliki tekanan darah tinggi disarankan untuk memeriksakannya setiap tahun. Selain rutin memeriksakan tekanan darah, kamu perlu mengurangi asupan garam dan minum alkohol tidak lebih dari satu atau dua gelas sehari.
3. Kurangi Asupan Lemak Jenuh
Kadar lemak di dalam tubuh yang terlalu banyak berisiko menyumbat arteri, sehingga aliran darah berisiko terhambat. Itu sebabnya, kurangi lemak jenuh yang sering ditemukan dalam daging dan produk susu berlemak. Pilih potongan-potongan daging yang lebih ramping dan pilih bagian yang rendah lemak. Kamu perlu menghindari lemak trans yang ditemukan di beberapa makanan olahan. Lemak trans juga meningkatkan kolesterol "jahat" (LDL) dalam darah.
4. Cek Diabetes
Gula darah yang tinggi dapat merusak arteri, sehingga berpeluang tinggi menyebabkan penyakit diabetes. Cara mencegahnya, kamu bisa mengganti nasi putih yang mengandung karbohidrat olahan menjadi beras merah yang kaya serat. Hindari mengonsumsi makanan yang terlalu manis dan tinggi gula. Jangan lupa untuk cek gula darah rutin, terutama bagi individu yang berusia di atas 45 tahun, mengidap obesitas, ibu hamil dan punya riwayat keluarga diabetes. 
5. Lebih Aktif
Usahakan untuk lebih aktif setiap hari. Bagi kamu yang diharuskan untuk duduk berjam-jam saat bekerja, pastikan sempatkan waktu untuk berolahraga ringan sebentar. Kamu bisa melakukan olahraga ringan selama 30 menit sehari atau setidaknya lima hari dalam seminggu. Kamu juga bisa melakukan aktivitas apa pun yang membuat tubuh bergerak dan mengeluarkan keringat. 
6. Perbanyak Buah, Sayur dan Kacang-Kacangan
Jantung bekerja lebih baik saat dijalankan dengan bahan bakar yang bersih. Maksudnya, perbanyak konsumsi makanan nabati, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, kamu harus mengurangi makanan olahan, seperti roti putih, pasta, kerupuk, dan kue kering sedikit demi sedikit. 
7. Berhenti Merokok
Sudah bukan rahasia lagi jika merokok dan asap rokok tidak baik bagi kesehatan jantung. Jika kamu punya kebiasaan merokok, berhentilah dan jangan menghabiskan waktu di sekitar orang lain yang merokok juga. Ini juga berlaku pada rokok elektronik yang lebih dikenal sebagai vape. Meski berbeda dengan rokok biasa, vape masih mengandung nikotin yang sama-sama beracun.(halodoc)
PERNAH mengalami jantung berdetak lebih lambat dari biasanya? Bila pernah, rasanya kamu mesti harap-harap cemas. Sebab, kondisi ini bisa saja menandai adanya gangguan jantung bradikardia.
Detak jantung seseorang sebenarnya memang dipengaruhi oleh usia dan aktivitas hariannya. Contohnya, orang yang sedang bersantai tentunya memiliki detak jantung yang lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang usai berolahraga. 
Nah, yang mesti diketahui, bila jumlah denyut jantung yang berlebihan atau berdetak lebih lambat dari biasanya bisa menimbulkan masalah pada kesehatan tubuh. 
Lantas, apa jadinya bila jantung berdetak lebih lambat dari biasanya? Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan bradikardia. Seseorang yang mengidapnya umumnya tak merasakan keanehan atau gejala.  Namun,  bila lambatnya detak jantung sering terjadi dan diiringi gangguan irama jantung, ini yang mesti diperhatikan. Sebab, kondisi ini bisa berdampak pada organ dan jaringan tubuh lain yang tidak terpenuhi pasokan darah. 
Kembali ke pertanyaan di atas, kira-kira apa dampaknya bila bradikardia bagi tubuh? 
Dari Sesak Napas hingga Pingsan
Seperti penjelasan di atas, umumnya bradikardia tak menimbulkan gejala. Namun, sebagian kasusnya bisa berbeda alias menimbulkan berbagai keluhan pada pengidapnya. Misalnya: 
• Sesak napas.
• Kelelahan.
• Linglung atau masalah pada ingatan. 
• Pusing.
• Nyeri pada dada.
• Mudah lelah saat beraktivitas fisik.
• Kelemahan.
• Hampir pingsan atau pingsan. 
Segeralah temui dokter bila kamu mengalami gejala-gejala di atas. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat. 
Lalu, apa jadinya bila bradikardia dibiarkan tanpa penanganan? 
Dari Gangguan Jantung hingga Komplikasi
Jantung yang berdetak melambat pada remaja, atlet, ataupun orang yang sedang tidur, memang dapat terjadi dan hal tersebut normal. Namun, bila kondisi ini sering terjadi, maka bisa menimbulkan gejala berupa pusing atau sesak napas. Nah, hal ini bisa saja disebabkan oleh adanya gangguan aktivitas listrik pada jantung, yang berperan sebagai pengatur detak jantung. 
Penyebab gangguan listrik di jantung ini bisa berbeda-beda pada tiap orang. Salah satu contohnya, kebiasaan merokok atau penyalahgunaan obat-obatan yang bisa memicu terjadinya gangguan pada listrik jantung. Nah, hal inilah yang bisa menyebabkan detak jantung melambat. 
Nah, hal yang mesti diwaspadai, kondisi bradikardia yang parah dan tak ditangani dengan tepat bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Mulai dari hipertensi, hipotensi, sinkop (pingsan), angina pektoris, hingga gagal jantung. 
Tak cuma itu saja dampaknya. Dalam tahap yang parah, dampak bradikardia bisa menyebabkan kematian. Nah, karena seseorang yang memasuki usia 65 tahun atau lebih cenderung memiliki detak jantung yang lambat dan lemah, makanya para lansia membutuhkan penanganan dan perawatan khusus.
Gegara Infeksi Sampai Hipertensi
Selain hal-hal di atas, ada pula faktor-faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko terjadinya bradikardia. Misalnya: 
• Adanya infeksi pada jaringan jantung.
• Komplikasi dari operasi jantung.
• Terjadinya kerusakan jaringan jantung, terkait penuaan. 
• Sleep apnea obstruktif, gangguan pernapasan berulang selama tidur. 
• Rusaknya jaringan jantung karena penyakit jantung atau serangan jantung. 
• Cacat jantung kongenital, kelainan jantung bawaan lahir. 
• Penumpukan zat besi pada organ (hemokromatis).
• Tekanan darah tinggi (hipertensi).(halodoc)

Banyak jenis diet yang mengklaim mampu mendukung kesehatan jantung. Meski begitu, penting untuk memilih jenis diet yang sudah didukung oleh bukti ilmiah dan mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Berikut jenis diet yang baik untuk kesehatan jantung:

1.Diet Mediterania

Diet mediterania didasarkan pada pola makan orang-orang Yunani dan Italia Selatan pada zaman dulu. Secara umum, diet ini menekankan pada konsumsi makanan utuh yang diproses seminimal mungkin, seperti biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, polong-polongan, ikan, dan minyak zaitun ekstra virgin.

Selain itu, makanan seperti unggas, telur, produk susu rendah lemak dan anggur merah juga boleh dikonsumsi dalam jumlah sedang. Sementara makanan dengan gula tambahan yang tinggi, karbohidrat olahan, makanan ringan yang diproses dan daging merah olahan perlu dibatasi atau dihindari sama sekali.

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa diet Mediterania bisa menurunkan risiko penyakit jantung, serta faktor risiko penyakit jantung seperti kadar kolesterol dan trigliserida tinggi, obesitas, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.

Manfaat diet mediterania untuk jantung diperkirakan karena metode diet tersebut yang menekankan pada makanan nabati yang utuh dan diproses secara minimal, serta lemak sehat.

2.Diet DASH

DASH atau Dietary Approaches to Stop Hypertension dirancang untuk membantu mencegah dan mengobati hipertensi atau tekanan darah tinggi. Pada gilirannya, diet ini juga bisa mengurangi risiko penyakit jantung.

Mirip diet Mediterania, diet DASH merekomendasikan jumlah kelompok makanan tertentu berdasarkan kebutuhan kalori kamu, dengan fokus pada biji-bijian, buah-buahan, sayuran, produk susu rendah lemak, dan daging tanpa lemak sambil membatasi daging merah, biji-bijian olahan, dan gula tambahan.

Dengan pola makan tersebut, diet DASH dipercaya mendukung kesehatan jantung. Penelitian juga menunjukkan bahwa diet DASH bisa mengurangi faktor risiko jantung, seperti tekanan darah, obesitas, kadar kolesterol, dan resistensi insulin.

3.Diet Vegan dan Vegetarian

Diet vegan dan vegetarian adalah pola makan yang menghilangkan semua daging, termasuk unggas, daging merah, dan ikan. Sementara beberapa vegetarian masih memasukkan sumber produk hewani lainnya, seperti telur dan produk susu, vegan secara ketat menghindari bahan makanan yang diturunkan dari hewani, seperti susu, telur, serbuk sari lebah, madu, dan gelatin.

Diet ini menekankan pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, serta minyak dan lemak nabati. Proporsi makanan nabati yang tinggi ini membuat diet vegan dan vegetarian dapat memberikan asupan serat yang tinggi, antioksidan, dan senyawa antiinflamasi yang membantu kesehatan jantung. Selain itu, mengonsumsi produk kedelai utuh seperti tahu, secara teratur juga bermanfaat bagi jantung

4.Diet Flexitarian

Dicetuskan oleh ahli diet Dawn Jackson Blatner, diet flexitarian adalah pola makan yang berfokus pada makanan nabati, tapi masih memperbolehkan daging, ikan, susu dan produk hewani lainnya dalam jumlah sedang. Diet ini juga menganjurkan untuk mengonsumsi makanan utuh yang diproses minimal dan membatasi atau menghindari tambahan gula, daging olahan dan makanan olahan lainnya.

Studi observasi telah menunjukkan adanya hubungan antara diet nabati dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah. Buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan kacang-kacangan yang ditekankan dalam diet Flexitarian juga dikaitkan dengan perbaikan faktor risiko penyakit jantung.(halodoc)

Penyakit Jantung

December 02, 2020

JANTUNG adalah organ terpenting dalam tubuh manusia dan mempunyai ukuran sebesar kapalan tangan. Jantung berfungsi memompa dan menyebarkan darah dengan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Penyakit jantung menggambarkan serangkaian kondisi yang memengaruhi jantung. Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan jantung adalah penyakit pembuluh darah, seperti penyakit arteri koroner, gangguan detak (irama) jantung, dan juga cacat jantung bawaan.

Istilah penyakit jantung juga kerap dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular. Penyakit ini umumnya mengacu pada kondisi yang melibatkan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang dapat menyebabkan serangan jantung, nyeri dada (angina), atau stroke.

Gejala Penyakit Jantung

Gejala penyakit jantung pada umumnya, antara lain:

  • Detak jantung yang tak beraturan.
  • Mudah lelah.
  • Napas terasa berat.
  • Sulit tidur.
  • Berdebar karena hal yang tidak pasti.

Penyebab Penyakit Jantung

Ada banyak penyebab penyakit jantung tergantung faktor yang memicunya. Kalau penyakit jantung koroner terjadi jika aliran darah ke jantung terhambat oleh adanya lemak. Penimbunan lemak di dalam arteri jantung ini dikenal dengan aterosklerosis yang merupakan penyabab utama penyakit jantung koroner. Aterosklerosis bisa mengurangi suplai darah ke jantung serta menyebabkan terbentuknya penggumpalan darah.

Jika hal tersebut terjadi, maka aliran darah ke jantung akan terblokir sepenuhnya dan serangan jantung dapat terjadi. Faktor pemicunya meliputi kolesterol yang tinggi, merokok, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab penyakit jantung, seperti:

  • Kebiasaan merokok.
  • Kadar kolesterol yang tinggi.
  • Pola hidup tidak terjaga.
  • Hipertensi atau tekenan darah tinggi meningkat.
  • Kelebihan berat badan.
  • Adanya penyakit diabetes.
  • Faktor usia dan jenis kelamin.

 

Diagnosis Penyakit Jantung

Penyakit jantung yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan komplikasi yang dapat menghilangkan nyawa seseorang. Saat jantung tidak menerima suplai darah yang cukup untuk memompa darah, maka kinerja pun akan menurun. Kondisi ini dikenal sebagai gagal jantung dan dapat terjadi secara tiba-tiba maupun bertahap.

Melalui tahap diagnosis awal, dokter biasanya menanyakan tentang gejala, riwayat kesehatan keluarga, serta pola hidup yang dilakukan. Jika dokter mencurigai kamu mengidap penyakit jantung, maka dokter akan menganjurkan untuk menjalani beberapa pemeriksaan, seperti tes darah, elektrokardiogram, angiografi koroner, CT scan, dan MRI scan. 

Pencegahan Penyakit Jantung

Ada berbagai cara untuk pencegahan penyakit jantung yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Menerapkan pola hidup sehat dengan mengurangi makanan berkolesterol tinggi serta melakukan olahraga secara rutin.
  • Berhenti merokok.
  • Mengurangi konsumsi minuman keras.

Khusus bagi pengidap angina atau angina duduk, pencegahan penyakit jantung perlu dilakukan demi menghindari serangan jantung serta komplikasinya. Oleh karena itu, pengidap angina dianjurkan untuk meminum obat-obatan yang diberikan oleh dokter dan sesuai dengan dosis. 

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila pernah melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan kesehatan sistem kardiovaskular dinyatakan baik, maka pemeriksaan setahun sekali bisa dilakukan. Namun kalau hasil pemeriksaan terpampang adanya kelainan tertentu, pemeriksaan selanjutnya akan lebih dekat waktunya.

 

4 Diet Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Selain menerapkan gaya hidup sehat seperti rajin berolahraga dan tidak merokok, diet juga menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Peradangan, tekanan darah, kolesterol dan faktor risiko penyakit jantung lainnya bisa dipengaruhi oleh makanan yang kamu konsumsi.

Pada dasarnya, diet tinggi serat, lemak sehat, dan antioksidan terbukti membantu mendukung kesehatan jantung, sementara pola makan yang tinggi gula tambahan dan daging olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.(halodoc)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Melihat jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 yang terus bertambah hingga mencapai angka total 600 orang, Plt Bupati Berau Agus Tantomo menyampaikan update terakhir sekaligus penjelasan kepada masyarakat dalam video pendek berdurasi 4 menit.

Dalam video yang dibuat pada Senin (7/12/2020) itu, Agus menyampaikan jumlah terakhir masyarakat yang terpapar COVID-19 yakni 599 orang dan 87 orang masih menjalani perawatan sementara pasien meninggal sudah 5 orang.

"Situasi ini menunjukkan bahwa COVID-19 ini belum bisa kita kendalikan dengan baik. Masih ada klaster baru dan ada kecenderungan situasi ini semakin memburuk dan akan semakin sulit ditangani," jelas Agus Tantomo.

Lebih lanjut, Agus Tantomo mengatakan saat ini kapasitas rumah sakit pun mulai penuh, dimana hanya bisa menampung 70 pasien COVID-19. Untuk isolasi pun sudah tidak mampu lagi menampung pasien yang positif.

"Namun pemerintah daerah telah mengambil langkah dengan menyiapkan alternatif tempat isolasi bagi yang positif," tuturnya.

Tak kalah penting, lanjut Agus Tantomo mengingatkan masyarakat terkait adanya klaster baru yang cenderung sulit dikontrol yaitu klaster keluarga.

"Yang paling menghawatirkan juga sudah mulai terjadi yaitu atau tenaga kesehatan para dokter dan perawat yang selama ini menjadi garda terdepan dalam hal penanganan COVID-19 sudah banyak yang menjadi korban banyak yang sudah terpapar, data terakhir menunjukkan paling tidak ada 7 dokter dan ada beberapa perawat juga positif," ujarnya.

Agus Tantomo menyampaikan kepada semua warga Berau jika situasi sekarang sangat tidak ideal sangat tidak bagus dalam hal penanganan COVID-19. Dan ini tentu situasi yang membahayakan, sebab dari sekian banyak pasien positif yang sembuh itu karena jasa dan kerja keras para tenaga kesehatan dokter dan perawat.

"Oleh sebab itu ada beberapa arahan dan petunjuk saya kepada kita semua. Pertama, tolong jangan longgarkan protokol kesehatan di manapun, bahkan di rumah sekalipun, sudah terbukti ada klaster keluarga. Dan tolong diingat pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan peraturan daerah tentang disiplin protokol COVID-19 Insya Allah saya akan memimpin pelaksanaan peraturan. Itu demi kebaikan bersama," ucapnya.

Plt Bupati Berau itu menegaskan agar masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan selalu memakai masker, hindari kerumunan dan rutin cuci tangan.

Sebelumnya, Ketua DPRD Berau Madri Pani juga meminta agar pemerintah daerah bisa mengambil langkah konkret dalam memutus dan mengendalikan penyebaran Virus Corona di Bumi Batiwakkal, julukan Kabupaten Berau.

"Saya meminta kepada Plt Bupati Berau untuk bisa menuntaskan penanganan covid-19 yang semakin hari semakin meningkat. Beberapa waktu lalu kita di Berau sudah zona kuning namun sekarang kembali menjadi zona merah sehingga perlu penanganan serius, karena kesehatan di atas segala-galanya," tuturnya. (tb/bangun banua)

DI MASA  pandemi, sangat penting untuk menjaga sistem imun tetap kuat. Sistem imun membantu tubuh menangkal zat asing yang dapat menyebabkan penyakit. Namun, jika sudah sakit, peran imunomodulator menjadi sangat penting. 

Imunomodulator dapat memengaruhi sistem imun tubuh, baik memperkuat atau menekan imun agar tidak bereaksi berlebihan. Dengan begitu, sistem imun bisa kembali pulih dan menjalankan fungsinya dengan baik untuk melindungi tubuh. 

Imunomodulator Penting, tapi Tidak Boleh Sembarangan

Sebenarnya, tubuh memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan sistem imun. Jika sedang sakit, imunomodulator mungkin dibutuhkan. Namun, jika kamu dalam keadaan sehat, sebaiknya jangan sembarangan konsumsi imunomodulator, ya. Sebab, dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan. 

Imunomodulator berbeda dengan vitamin yang dapat dikeluarkan tubuh ketika tidak lagi diperlukan atau kadarnya berlebihan. Jadi, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter  jika ingin mengonsumsi produk yang mengandung imunomodulator untuk jangka panjang. 

Sebagai upaya memelihara kesehatan dan menjaga sistem imun tubuh, pilihan terbaik adalah menerapkan gaya hidup sehat. Misalnya, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, istirahat yang cukup, hindari stres, dan konsumsi vitamin bila perlu. 

Vitamin C dan Zinc Menjaga Sistem Imun Tubuh

Cara untuk menjaga fungsi sistem imun tetap kuat, ada hal mudah yang bisa dilakukan, yaitu memastikan kebutuhan nutrisi tubuh tercukupi. Bagaimana caranya? Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, terutama yang mengandung vitamin C dan zinc. 

Meski banyak sekali nutrisi mikro esensial yang dibutuhkan tubuh dalam meningkatkan imun, kombinasi vitamin C dan zinc memainkan peran penting. Vitamin C bekerja dengan cara mendukung fungsi berbagai sel kekebalan dan meningkatkan kemampuan untuk melindungi tubuh dari infeksi. 

Vitamin C juga diperlukan untuk regenerasi sel, membantu menjaga sistem imun tetap kuat, dengan cara membersihkan sel-sel lama dan menggantinya dengan yang baru. Vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk melindungi dari kerusakan akibat stres oksidatif. 

Stres oksidatif adalah stres yang terjadi akibat akumulasi molekul reaktif yang dikenal sebagai radikal bebas. Stres ini memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Nah, agar penyerapan vitamin C dalam tubuh bisa berjalan dengan baik, dibutuhkan peran zinc, yaitu mineral yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan jaringan tubuh. Menurut European Journal of Immunology, asupan zinc berguna untuk mengaktifkan sel T (limfosit T). 

Sel tersebut bertugas untuk mengendalikan respons imun dan menyerang sel yang membawa kuman penyebab penyakit. Jika tubuh kekurangan asupan zinc, sistem imun akan terganggu. 

Asupan vitamin C dan zinc bisa didapatkan secara alami dari makanan. Vitamin C bisa kamu dapatkan dari buah dan sayur, seperti jambu biji, kiwi, jeruk, pepaya, kubis, brokoli, kembang kol, dan paprika merah. Sementara zinc bisa didapatkan dari tiram, kepiting, lobster, daging ayam, daging sapi, kacang-kacangan, jamur, susu, dan yogurt.(halodoc)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi meminta masyarakat selalu waspada dengan penyebaran Virus Corona (COVID-19), terutama munculnya transmisi lokal atau klaster rumah tangga. Menurutnya hingga saat ini sudah ada lebih dari 10 klaster yang berasal dari rumah tangga.

"Untuk klaster keluarga sudah banyak mungkin 10-an lebih. Bahkan seminggu terakhir ini jumlahnya terus bertambah, bisa 4 atau 5 orang. Termasuk sejumlah pejabat di Berau, Nakes, dan ada juga klaster rumah tangga dari masyarakat biasa," ujarnya, Selasa (8/12/2020)

Adanya peningkatan jumlah kasus transmisi lokal dari klaster keluarga, Iswahyudi mengingatkan agar penerapan protokol kesehatan perlu ditingkatkan dan dijalankan secara disiplin. Apalagi untuk klaster baru yakni klaster keluarga, cenderung sulit dikontrol.

"Sebenarnya cukup sederhana, jadi Prokes itu tidak hanya diluar rumah tapi di dalam rumah juga diterapkan. Jika ada orang luar atau tamu, tetap menggunakan masker dan rutin cuci tangan. Yang paling menghawatirkan juga sudah mulai terjadi yaitu atau tenaga kesehatan yaitu dokter dan perawat yang selama ini menjadi garda terdepan, ternyata juga sudah banyak yang terpapar. Bahkan data terakhir menunjukkan paling tidak ada 7 dokter dan ada beberapa perawat yang positif," tuturnya.

Situasi ini cukup membahayakan, sebab dari sekian banyak pasien positif yang sembuh itu karena jasa dan kerja keras para tenaga kesehatan dokter dan perawat, namun yang jadi masalah sekarang adalah mereka yang diandalkan untuk menyembuhkan justru terpapar COVID-19.

Sebelumnya, Plt Bupati Berau Agus Tantomo juga menyampaikan kepada semua warga Berau jika situasi sekarang sangat tidak ideal. Dan dengan tumbangnya beberapa nakes, tentunya berpengaruh dalam hal penanganan COVID-19.

"Oleh sebab itu, ada beberapa arahan dan petunjuk saya kepada kita semua. Pertama, tolong jangan longgarkan protokol kesehatan dimanapun bahkan di rumah sekalipun. Karena sudah terbukti ada klaster keluarga," ucapnya.

Plt Bupati Berau itu menegaskan, agar masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, selalu memakai masker, hindari kerumunan dan rutin cuci tangan.

"Dan tolong diingat, pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan peraturan daerah tentang disiplin protokol COVID-19. Dan insyaAllah saya akan memimpin pelaksanaan peraturan Itu demi kebaikan bersama," tutupnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlang Samoedro mengungkap, ada dua penyebab munculnya klaster keluarga COVID-19 di Indonesia. Penyebab pertama yakni, salah satu anggota keluarga yang terpapar di luar rumah dan menularkannya pada anggota keluarga lainnya.

Penyebab kedua, kata Erlang, adalah karena adanya pembebasan aktivitas di masyarakat di masa pandemi COVID-19. Hal tersebut, menurut dia, juga menjadi pemicu munculnya klaster keluarga karena semakin banyak orang yang beraktivitas di luar.

"Lagi-lagi kadang-kadang tidak sadar dia terinfeksi dari lingkungan sekitar misalnya dari kantor atau teman atau ketika lagi bersosialisasi itu yang jadi masalah," ucapnya. (tb/bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES - 

Salah satu penyakit yang mendapat pengawasan dari Pemda tak terkecuali di Berau, adalah Tuberkulosis (TB). Dan di tahun 2020, untuk Berau, penyakit yang menyerang paru-paru ini jumlahnya menurun. Menurut data Dinas Kesehatan Berau, dari 13 kecamatan di Berau, pada tahun 2019 jumlah orang terduga TB sebanyak 3.364 orang, dan di tahun 2020 turun menjadi 2.716. Nmaun, realisasi jumlah orang yang terduga TB yang telah mendapatkan pelayanan sesuai standar, atau yang baru diketahui menderita TB pada Januari-Oktober 2020 hanya sebesar 19 persen atau baru ditemukan sebanyak 527 orang. 

Kemudian capaian Case Detection Rate (CDR) sebagai salah satu indikator digunakan dalam pengendalian TB, yaitu proporsi jumlah pasien baru yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut di tahun 2019 silam, telah tercapai sebanyak 56 persen. Sedangkan Januari-Oktober 2020 masih mengalami penurunan 14 persen saja. Kedua angka tentu masih dibawah target yang ditetapkan dari total target yaitu 100 persen. 
 
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Berau, Garna Sudarsono menjelaskan, meskipun perhitungan baru mencapai triwulan ke 3, pihaknya mengakui bahwa capaian terbilang sangat rendah. Jika angka penemuan kasusnya rendah, maka kemungkinan dampak penularannya akan lebih meluas. Dan memang ada banyak faktor yang mempengaruhi penemuan kasus, tetapi di tahun 2020 ini memang terkendala adanya pandemi COVID-19. 
 
"Selama ini pencarian kasus dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya seperti secara pasif yakni menunggu pasien berobat puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga, pihaknya akan secara otomatis mendapatkan laporan terkait adanya suspek dan pasien yang positif TBC. Selama pandemi, pasien TB merasa enggan untuk pergi ke fasilitas kesehatan karena ketakutan akan terpapar oleh virus. Apalagi, pasien TB memiliki gejala yang dianggap cukup serupa, yaitu batuk yang berkelanjutan dan lama. Itulah salah satu trigger yang menyebabkan ketakutan tersebut," jelasnya.
 
Saat ini, meskipun sudah menjelang akhir tahun, akses yang untuk mendapatkan diagnosis, pencegahan dan pengobatan serta perawatan akan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Meski begitu, bukan berarti pihaknya tidak memberikan perhatian pada penderita TB. Sejauh ini penanganan bagi yang positif TB hingga mereka yang bergolongan tuberkulosis multi drug resistant (TB-MDR) telah mengalami penanganan yang cukup baik. Serta mereka terus dipantau untuk melakukan pengobatan secara berlangsung selama 6 bulan lamanya. Selain secara pasif, seharusnya pihak Dinkes melakukan penjaringan secara bersamaan, dengan petugas kesehatan turun langsung ke masyarakat. Kendati begitu, mereka belum melakukan kegiatan tersebut di tengah pandemik. Karena sangat rawan untuk menimbulkan kasus baru. 
 
“Kondisi seperti ini akan menjadi serba salah, tapi kami terus upayakan dalam pencarian dan penanganan yang baik. TB memang tidak seharusnya tenggelam ditengah hiruk pikuk wabah,” ungkapnya.
 
Garna menegaskan, pengelolaan program TB pada puskesmas memang merupakan ujung tombak dalam penemuan, pengobatan dan evaluasi penderita. Tanpa penemuan suspek maka program pemberantasan TB paru dari penemuan sampai pengobatan tidak akan berhasil, sehingga proses penemuan suspek TB paru oleh petugas sangat menentukan dalam mencapai indikator keberhasilan. Hal ini menjadi evaluasi bagi mereka juga, bahkan dari pihak Kementerian. Apalagi memang benar diakui Pandemik mampu melumpuhkan segalanya. Jangan sampai TB menjadi pembunuh penyakit menular di kemudian hari, lantaran penanganan dan ketakutan di masyarakat masih menyelimuti. Walaupun begitu, pola penerapan hidup sehat dan kedisiplinan penggunaan masker, diharapkan dapat menekan angka kasus TB di Kabupaten Berau.
 
pPerlu diketahui jika TB adalah suatu penyakit bakteri menular yang berpotensi serius yang terutama mempengaruhi paru-paru. Bakteri penyebab TB menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan bakteri yang menyebabkan tuberkulosis tidak memiliki gejala. Ketika gejala memang terjadi, biasanya berupa batuk (kadang-kadang ada bercak darah), penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, dan demam. Dan pengobatan tidak selalu diperlukan untuk orang-orang tanpa gejala. Pasien dengan gejala aktif akan membutuhkan perjalanan pengobatan panjang yang melibatkan beberapa antibiotik. (dw/bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES - 

Terus bertambahnya jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Berau, membuat RSUD Abdul Rivai kewalahan. Bahkan, dengan jumlah yang sudah mencapai 87 pasien yang menjalani perawatan, membuat ruang isolasi hampir penuh. Untuk itu, Dinkes Berau mencari alternatif ruang isolasi tambahan selain yang ada di RSUD Abdul Rivai, guna berjaga apabila ruangan yang ada di RSUD sudah penuh.  

“Iya ruang isolasi sudah hampir penuh. Jadi, selain memaksimalkan penggunaan Politeknik Negeri Sinarmas, juga akan bekerja sama dengan salah satu hotel atau penginapan untuk menampung pasien terkonfirmasi COVID-19. Mungkin nanti pasien COVID-19 sebagian ada yang dirawat di hotel atau penginapan yang ditunjuk,” katanya. 
 
Hotel atau penginapan itu nantinya, akan menampung pasien dengan gejala ringan. Sementara untuk pasien tekonfirmasi tanpa gejala, direkomendasikan untuk karantina mandiri. Dan untuk yang memiliki gejala berat saja yang bakal dirawat di RSUD dr Abdul Rivai. dan sampai saat ini ada 60 pasien terkonfirmasi COVID-19 menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr Abdul Rivai. Ini karena pasien yang dirawat memiliki gejala cukup berat, sehingga diperlukan penanganan khusus dari tim medis. 
 
“Untuk jumlah kamar isolasi di RSUD dr Abdul Rivai itu juga sekitar 60. Namun, saat ini satu kamar bisa diisi lebih dari dua orang, karena ada yang satu keluarga,” jelasnya. 
 
Untuk itu, Iswahyudi mengimbau agar masyarakat terus mematuhi protokol kesehatan. Dengan melaksanakan 3M. Yakni, menjaga jarak, mencuci tangan di air mengalir dengan menggunakan sabun, dan memakai masker saat berinteraksi dengan orang lain. 
 
“Saat ini tenaga kesehatan itu sudah banyak yang terpapar. Kalau kasus terkonfirmasi terus meningkat, tenaga kesehatan yang bekerja sekarang bisa knock out (KO). Bisa-bisa pasien enggak ada yang rawat,” tuturnya. 
 
Lanjutnya, saat ini Kabupaten Berau berstatus zona merah. Di mana, pemerintah kabupaten bakal mengevaluasi kebiasaan hidup masyarakat. Bahkan, bisa jadi pembatasan kembali dilakukan. 
 
“Kalau zona merah ini bertahan lama, maka tempat nongkrong bisa kembali ditutup,” tandasnya. (dw/bangun banua)
Page 1 of 30