Helda

Helda

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Untuk memberikan informasi terkait keamanan pangan, sosialisasi dan edukasi harus diberikan secara menyeluruh bahkan hingga ke kampung-kampung. Untuk menyukseskan salah satu program yakni Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD), Dinas Kesehatan Berau dengan dukungan BPOM melakukan advokasi kelembagaan kampung pada Selasa (18/8/2020) agar penyelenggaran GKPD bisa maksimal.

Dengan adanya advokasi ini diharapkan dapat mewujudkan komunikasi dua arah antara stakeholder dengan komunitas desa mengenai program GKPD. Juga diharapkan pemerintah daerah dan perangkat kampung dapat melindungi masyarakat kampung dari pangan yang berisiko terhadap kesehatan. Selain itu juga melalui kegiatan ini kampung memiliki kemandirian untuk melaksanakan keamanan pangan kampungnya masing-masing.

“Kegiatan ini penting dilakukan agar pemerintah daerah memiliki komitmen akan program keamanan pangan. Selain itu agar kampung bisa mandiri melaksanakan program keamanan pangan di lingkungannya, sehingga program ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di Kabupaten Berau,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi.

Sedangkan Camat Pulau Derawan sebagai tuan rumah menyambut baik kegiatan GKPD khususnya di Pulaua Derawan yang merupakan salah satu destinasi wisata. Karena sebagai bagian dari usaha untuk memajukan pariwisata dan perekonomian masyarakat di kampung Pulau Derawan.

“Faktor keamanan merupakan hal penting dalam kepariwisataan. Namun bukan hanya keamanan dalam kaitannya konflik politik, dan bencana alam, tetapi juga keamanan pangan. Karena makanan minuman merupakan kebutuhan pokok dan menjadi pos pengeluaran terbesar kedua setelah akomodasi, dengan demikian perkembangan pariwisata berpengaruh terhadap usaha makanan dan minuman,” terang Camat Pulau Derawan, Muhammad Tasrif.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut mengajak seluruh aparat kampung dan masyarakat kampung untuk bersama-sama bersinergi dengan Dinkes, menyukseskan GKPD di Kampung Pulau Derawan. Sehingga nantinya Pulau Derawan menjadi kampung aman pangan dan menjadi destinasi wisata yang aman, sehingga meningkatkan kunjungan wisata ke Pulau Derawan.

“Mengingat pentingnya keamanan pangan bagi destinasi wisata maka diharapkan juga kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di Kampung Pulau Derawan saja, tetapi juga di kampung lainnya seperti Tanjung Batu,” tambah Tasrif.

Diikuti 30 peserta, kegiatan yang digelar di Kantor Kepala Kampung Pulau Derawan itu menghadirkan narasumber dari Kepala Balai Besar POM Samarinda. Meskipun interaksi pemaparan dan tanya jawab hanya dilakukan melalui zoom meeting, kegiatan berlangsung lancar dan sangat atraktif dengan lemparan pertanyaan-pertanyaan dari peserta kepada narasumber. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES - 

Jangan makan telur mentah, termasuk menghindari makan telur setengah matang sebab, pada telur terdapat  bakteri salmonella. Kemudian hindari juga memakan makanan yang sudah disimpan dalam kulkas lebih dari dua hari.

Hal itu disampaikan  Drs Leonardus Duma Apt,MM dalam acara Komunikasi, Informasi dan Eduksi (KIE) Keamanan Pangan melalui  virtual dari ruang Sangalaki, Kantor Bupati Berau  yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Berau dan diikuti ibu-ibu dari Dhama Wanita dan PKK, dimoderatori Lamlay Sari Ssi Apt , M.Sc, Sabtu (15/8/2020).

Dalam diskusi disampaikan 10 langkah keamanan pangan, antara lain mengolah makanan , suhu 5 derajat dibawahnya penting dipertahankan agar pertumbuhan bakteri bisa ditekan. Makin sedikit bakteri di makanan, makin kecil pula peluang sakit.

“Menyimpan makan dalam lemari es, tidak lebih dari tiga hari. Makanan yang sudah dimasak, kalau mau disimpan dalam kulkas, masukkan ke dalam kulkas paling lama dua jam setelah dimasak,” kata Leonard, seraya menambahkan,  jangan lupa  bersihkan secara teratur talenan dengan larutan sanitaizer  agar bakteri yang ada mati.

 

Menurut Leonard, kalau memasak daging, masak hingga tidak terlihat lagi warna merah dibagian tengah, bersihkan dapur  atau permukaan tempat memasak yang kontak dengan pangan secara teratur menggunakan air panas, deterjen atau sanitaizer.

Sementara Kadis Kesehatan Drs H Iswahyudi, Apt,M Kes saat membuka KIE mengatakan,  tujuan dari KIE ini memang untuk memberikan pengetahuan ke masyarakat agar dapat memilih makanan yang aman dikonsumsi. KIE tahun ini diikuti 200 orang dari perwakilan PKK di 13 kecamatan di Berau, dan digelar secara bertahap.

“Kegiatan kita bagi menjadi 4 tahapan pelaksanaan. Untuk tahap pertama hari ini, tahap kedua 18 Agustus, tahap ketiga 22 Agustus, dan tahap terakhir 29 Agustus, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yakni pembatasan jumlah peserta yang ikut sehingga bisa dilakukan social distancing. Sedangkan untuk narasumbernya yaitu dari BBPOM Samarinda.

Dijelaskan Iswahyudi materi yang diberikan kepada peserta KIE Keamanan Pangan , yakni Peraturan dan Kebijakan Pangan, Keamanan Pangan, Cara Produksi Pangan Yang Baik untuk Industri Rumah Tangga dan Penerapan SSOP.

“Diharapkan peserta dan  masyarakat bisa mendapatkan informasi seputar keamanan pangan yang dikonsumsi. Tak hanya itu, untuk produsen makanan yang menjual makanannya juga bisa memperhatikan makanan yang diolah, mulai  dari proses produksi, kebersihan dapurnya, dan kandungan dalam makanan itu sendiri,” ujar Iswahyudi.

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES -

Keamanan pangan yang dikonsumsi menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan masyarakat. Hal tersebut ditekankan Bupati Berau H.Muharram ketika membuka kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) keamanan pangan, yang digelar Dinas Kesehatan Berau, Sabtu (8/8/2020) pagi di ruang rapat Sangalaki kantor Bupati.

Dikatakannya, selama ini pangan yang dikonsumsi masyarakat belum sepenuhnya terkontrol. Bahkan dari yang paling sederhana saja seperti air minum. Kandungan dalam air atau makanan yang dikonsumsi tidak pernah diperhatikan seksama.

“Jadi dengan adanya KIE keamanan pangan ini diharapkan masyarakat bisa mendapatkan informasi seputar keamanan pangan yang dikonsumsi. Tak hanya itu, untuk produsen makanan yang menjual makanannya juga bisa memperhatikan makanan yang diolah, mulai  dari proses produksi, kebersihan dapurnya, dan kandungan dalam makanan itu sendiri apakah bergizi ataukah tidak,” jelas Muharram.

KIE juga menjadi salah satu akses informasi bagi masyarakat. Sehingga diharapkan juga instansi terkait bisa melakukan kontrol di lapangan kepada produsen dan meneruskan informasi yang didapat kepada konsumen. Apakah makanan tersebut sudah terjamin keamanannya ataukah tidak, dan apakah produknya memiliki label BPOM atau tidak.

“Ini juga penting agar masyarakat bisa cermat dan hati-hati memilih bahan makanan yang akan dikonsumsi. Kalau tidak memiliki BPOM sebaiknya jangan dibeli, dan ini bukan hanya berlaku untuk makanan saja tetapi juga untuk obat-obatan dan kosmetik. Jangan sampai asal memilih karena hanya melihat dari kemasan menarik saja, tanpa mengetahui kandungan di dalamnya yang ternyata membahayakan dan dapat menimbulkan penyakit,” tegasnya.

Sedangkan Kadinkes Berau Iswahyudi mengatakan jika tujuan dari KIE ini memang untuk memberikan pengetahuan ke masyarakat agar dapat memilih makanan yang aman dikonsumsi. KIE tahun ini diikuti 200 orang dari perwakilan PKK di 13 kecamatan di Berau, dan digelar secara bertahap.

“Kita bagi menjadi 4 tahapan pelaksanaan. Untuk tahap pertama hari ini, tahap kedua 18 Agustus, tahap ketiga 22 Agustus, dan tahap terakhir 29 Agustus, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yakni pembatasan jumlah peserta yang ikut sehingga bisa dilakukan social distancing. Sedangkan untuk narasumbernya yaitu dari BBPOM Samarinda, Drs.Leonard Duma yang menyampaikan paparan materinya dan diskusi melalui akses virtual online,” terangnya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Kabar gembira dan kabar sedih terkait perkembangan COVID-19 di Berau silih berganti. Meskipun ada penambahan kasus sembuh, nyatanya kasus positif juga masih ikut terus bertambah. Senin (27/7/2020), Dinas Kesehatan Berau kembali mengeluarkan rilis penambahan 4 kasus positif, dan 7 pasien sembuh. Dan hingga hari ini total konfirmasi positif COVID-19 di Berau sudah di angka 74 kasus, dengan 14 orang masih dirawat di RSUD Abdul Rivai.

Keempat tambahan positif yaitu TAF (Berau71) warga Tanjung Redeb dan ZD (Berau72) warga Karang Ambon, keduanya merupakan pelaku perjalanan dari Kota Samarinda. Ketiga, MK (Berau73) warga Tanjung Redeb pelaku perjalanan dari Jogjakarta. Keempat ES (Berau74) warga Tanjung Redeb, kontak erat lingkungan kerja Berau68.

Sedangkan tujuh pasien sembuh adalah, Sisko Yudi Susanto (Berau44) warga Karang Ambon pelaku perjalanan dari Kota Banjarmasin. Kedua, Febriona Cerry Setiawan (Berau47) – anak dari Berau45, warga Bedungun. Ketiga, Saut Siregar (Berau52) warga Kampung Tumbit Dayak, pelaku perjalanan Kota Medan. Keempat, Itok Putro Prasetyo (Berau57) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Sukoharjo. Kelima, Eko Fernando (Berau58) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Padang. Keenam, Deni Setiansyah (Berau59) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Banjarmasin. Dan terakhir adalah Ilham (Berau60) pelaku perjalanan dari Makassar.

Dengan demikian, dikatakan Iswahyudi jika Berau sudah berada di gelombang kedua penyebaran COVID-19. Dan masyarakat diminta selalu waspada, ikut berperan aktif mengingatkan keluarga, tetangga hingga lingkup kerjanya untuk selalu menggunakan masker, mematuhi semua protokol kesehatan yang ada. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES

Dinkes Berau melalui bidang Kesehatan Masyarakat, mengadakan Kursus Higiene Sanitasi bagi pengelola DAMIU. Pelatihan dibuka Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi dan dihadiri pemilik Depot Air Minum se-Kabupaten Berau, yakni sebanyak 20 orang.

Pelatihan ini digelar karena Dinkes Berau merupakan salah satu unit pelaksana teknis bidang kesehatan lingkungan dan penyakit, mempunyai tugas dan fungsi salah satunya melakukan analisis berbagai faktor risiko lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu juga merupakan laboratorium rujukan bidang kesehatan lingkungan yang sangat relevan untuk mengkaji kualitas air minum khususnya kualitas air minum dari produk Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU).

“Pelatihan ini diharapkan memberikan pengetahuan bagi pemilik DAMIU bagaimana mengelola usahanya dengan benar, sesuai dengan syarat hygiene air. Karena SDM merupakan faktor yang sangat penting dalam membantu peningkatan program khususnya pengawasan dan pengelolaan DAMIU,” jelas Iswahyudi membuka pelatihan Sabtu (25/7/2020)

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Lamlai Sari juga menjelaskan bahwa dilaksanakannya kegiatan ini agar pemilik DAMIU dalam menjalankan tugasnya diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga dalam teknik pengawasan DAMIU, sehingga hasil dari pemeriksaan dan pengawasan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelum mendapatkan materi yakni teknik pengambilan sampel, teknik operasional pengelolaan depot air minum, serta mekanisme pengurusan sertifikat laik hygiene depo, para peserta diberikan lembar quisioner yang harus diisi. Ini juga untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki para pemilik DAMIU terkait hygiene sanitasi ini.

Diharapkan dengan pelatihan ini, bagi pengelola DAMIU dapat meningkatkan dan menguatkan kompetensi SDM, sebagai tenaga terlatih dalam mengetahui dan memahami tata cara pengelolaan DAMIU yang benar dan baik, utamanya menjaga kehigienisan sanitasinya. Dengan pengetahuan, khususnya pemilik dan pengelola dapat ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap potensi yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Masyarakat Berau belum bisa bernapas lega meskipun pasien sembuh dari COVID-19 terus bertambah. Pasalnya, selain kesembuhan, kasus positif juga masih terus bertambah. Kali ini adalah transmisi lokal yakni dari kontak erat satu mess dengan Berau 60, sebanyak 4 orang. Mereka adalah AL (Berau 61), SAI (Berau 62), KM (Berau 63) dan RM (Berau 64) yang semuanya beralamat di Kelurahan Tanjung Redeb.

Sampel keempat orang tersebut diperiksa di Klinik Tirta Medical Centre pada 20 Juli 2020. Dengan penambahan ini sudah terjadi transmisi lokal kesekian kalinya, setelah sebelumnya juga ada transmisi lokal dari klaster Gowa dan klaster Manado.

“Total keseluruhan kasus positif COVID-19 di Berau sudah 64 kasus, dan sampai hari ini masih ada 15 pasien yang dirawat. Kita harapkan masyarakat disiplin memakai masker. Jika merasa ada gejala yang mengarah ke gangguan pernapasan, segera periksakan ke dokter. Karena dari kasus akhir-akhir ini yang didapati adalah mereka yang gejalanya ringan tapi ternyata positif Corona,” imbau Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi pada Selasa (21/7/2020).

Dari transmisi lokal yang terhitung cepat inilah dikhawatirkan gelombang kedua penyebaran COVID-19 di Berau sudah mulai berjalan. Apalagi untuk tracing kontak erat para pasien positif juga masih terus dilakukan oleh pihak Dinkes di lapangan. Sehingga tidak menutup kemungkinan masih ada penambahan kasus positif dari para kontak pasien yang dinyatakan positif sebelumnya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Hampir setiap hari ada penambahan kasus positif COVID-19 di Bumi Batiwakkal membuat tenaga kesehatan bekerja ekstra, karena dikhawatirkan menyebabkan penyebaran virus gelombang kedua. Bahkan, kasus terakhir yang menyebabkan satu pasien meninggal dunia yakni Berau 45, dikatakan cukup berbahaya. Hal ini dijelaskan dokter spesialis paru RSUD Abdul Rivai, dr.Robert Naiborhu. Dikatakannya, saat ini virus Corona semakin tidak bisa ditebak.

Dari hasil pengamatan pasien Berau 45, lanjut Robert, virus corona yang menjangkiti pasien disebutnya mirip dengan jenis virus yang mewabah di Jakarta dan Surabaya. Bahkan, dia menyebut virus kali ini lebih berbahaya dibanding jenis pada klaster Gowa. Dari tingkat keparahan dan respon pengobatan juga jelas berbeda.

"Strain (varian genetik atau subtipe) yang dibawa klaster Manado ini, cenderung merusak jaringan paru dan berpotensi besar gagal napas pada beberapa individu yang lebih lemah imunitas tubuhnya. Ini berbeda jauh dengan strain virus corona yang dari Sulawesi (klaster Gowa). Mulai dari proses inkubasi yang lebih cepat, karakteristik gejala, keluhan lebih berat, dan respons terhadap pengobatan standar juga berbeda," terangnya dihubungi Senin (20/7/2020).

Sedangkan untuk para pelaku perjalanan yang dinyatakan positif COVID-19, dikatakannya selalu merujuk pada kota asal keberangkatan masing-masing. Ini untuk mengetahui pola penyakit yang ada di daerah asal.

“Data daerah asal pelaku perjalanan ini sangat penting guna mempersiapkan kemungkinan apa yang dapat berkembang kemudian hari. Dan dari beberapa pasien pelaku perjalanan yang mendapat perawatan, kebanyakan mereka tingkat keparahannya ringan sampai sedang, belum ada yang berat. Untuk sementara ini semua pasien yang ada masih respon terhadap pengobatan yang diberikan,” tambahnya.

Untuk itu, Robert meminta masyarakat tidak menganggap remeh virus ini. Bahkan, semua protokol kesehatan yang sudah disusun pemerintah harus disiplin dijalankan dan diterapkan. Terlebih, untuk yang memiliki kelainan penyakit pernapasan seperti penyempitan atau sumbatan saluran pernapasan tentu akan berpengaruh pada tingkat keparahan COVID-19 ini.

“Penggunaan masker sudah ditetapkan dalam protokol pemerintah, mulai dari cara penggunaan, standar masker yang diperlukan dan kapan dipergunakan. Jadi, bagi mereka yang sebelumnya sudah memiliki gangguan pernapasan, tetap harus menggunakan masker saat perjalanan keluar rumah. Dan jika memakai masker ini menjadi kendala bagi yang bersangkutan, maka frekuensi keluar rumah harus dikurangi dan dipertimbangkan dengan baik. Keluar rumah hanya untuk hal penting,” tegasnya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Deretan pasien sembuh dari COVID-19 di Berau bertambah lagi. Senin (20/7/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau merilis empat pasien sembuh tersebut. Mereka adalah Hartopo (Berau 40) warga Tanjung Redeb, Edward Aldu Setiawan (Berau 46) warga Bedungun, Sheisha Carlise Setiawan (Berau 48) warga Bedungun, dan Radius Lidan Mandaso (Berau 51) juga warga Bedungun.

Berau 46 dan Berau 48 adalah anak dari Berau 45 yang mendapat perawatan selama kurang lebih seminggu. Dan ibundanya juga telah dinyatakan sembuh beberapa hari sebelumnya. Sedangkan Berau 51 adalah kontak erat di lingkungan kerja Berau 45.

Hingga saat ini, masih ada 11 pasien positif yang dirawat di RSUD Abdul Rivai. Dimana salah satunya adalah anak dari Berau 45. Sedangkan sisanya merupakan kontak erat di lingkungan kerja, dan pelaku perjalanan dari beberapa daerah.

Dengan demikian, sampai Senin sore ini rekapitulasi penanganan COVID-19 Berau adalah, masih ada 11 pasien yang dirawat dari total 60 kasus konfirmasi positif. 48 selesai isolasi atau sembuh dan meninggal dunia 1 orang. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES –

Dalam sepekan terakhir Berau terus mendapatkan penambahan kasus positif COVID-19. Minggu (19/7/2020) siang, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau kembali merilis tambahan dua orang terkonfirmasi positif Corona dari pemeriksaan sampel di Klinik Tirta Medical Centre, pada 17 Juli 2020. Dua orang tersebut adalah pelaku perjalanan.

Mereka adalah DS (Berau 59) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Banjarmasin, dan IL (Berau 60) warga Kelurahan Gayam yang merupakan pelaku perjalanan dari Kota Makassar. Saat ini keduanya sudah menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai.

“Kembali diimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan protokol kesehatan yang ada. Karena dikhawatirkan ini akan menjadi gelombang kedua penyebaran COVID-19 di Berau, dengan terus bertambahnya kasus positif, dan sudah ada beberapa kasus transmisi lokal. Dimana untuk transmisi lokal terhitung kontak singkat dan bisa langsung terpapar,” jelas Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau, Iswahyudi.

Penambahan kasus ini tidak bisa dianggap remeh. Karena walaupun ada pasien yang bisa sembuh dengan imun tubuhnya sendiri, tetapi jika ada yang memiliki riwayat perjalanan berisiko tinggi, serta memiliki gejala mengarah ke COVID-19 harusnya segera memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit.

Sampai hari ini total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Berau sebanyak 60 kasus, dan pasien yang masih menjalani perawatan 15 orang. (bangun banua)

TANJUNG REDEB,WEBSITE DINKES - 
 
Hasil tracing dari pasien Berau 45 yang meninggal beberapa waktu lalu, membuahkan hasil. 4 orang yang merupakan kontak erat di lingkungan kerja dinyatakan positif COVID-19. Selain itu, ada 2 tambahan kasus positif dari pelaku perjalanan.
 
Yang kontak erat Berau 45 adalah MRS (Berau 53) warga Teluk Bayur, SRN (Berau 54) warga Tanjung Redeb, KP (Berau 56) warga Kampung Tubaan Kecamatan Tabalar. Sedangkan RAO (Berau 55) warga Sambaliung adalah kontak erat Berau 46. Dan untuk pelaku perjalanan yakni IPP (Berau 57) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kabupaten Sukoharjo, dan EF (Berau 58) yang juga warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Padang.
 
"Sudah terjadi transmisi lokal di sekitar lingkup pasien positif COVID-19. Dan kondisi para pasien ini hanya menunjukkan gejala ringan. Tapi meskipun begitu, diminta masyarakat untuk tetap waspada. Apalagi yang tambahan positif ini kontak langsung dengan pasien juga terhitung singkat. Untuk itu kita harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan karena kita tidak tahu siapa yang sudah terpapar," jelas Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau, Iswahyudi saat merilis penambahan kasus positif, Jumat (17/7/2020).
 
Selain tambahan kasus positif, 2 pasien juga dinyatakan sembuh yaitu Basri (Berau 49) warga Kelurahan Bugis pelaku perjalanan dari Kota Makasar, dan Rinny Indrawati Angkol (Berau 50) yang merupakan istri dari Berau 45.
 
"Istri Berau 45 ini cepat sembuh karena beliau aktif berolahraga sehingga daya tahan tubuh atau imun tubuhnya kuat," tambahnya.
 
Hingga Jumat sore, rekapitulasi penanganan COVID-19 Berau sudah ada 58 kasus positif, dimana 44 orang dinyatakan sembuh, 1 meninggal dunia, dan 13 orang masih dirawat di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai. (bangun banua)
Page 1 of 23