Helda

Helda

Tanjung Redeb Website Dinkes –

Prestasi membanggakan kembali diukir oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau. Kali ini adalah untuk penerapan aplikasi E-Logistik yang sejak 3 tahun terakhir dikelola oleh Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) Berau. Menurut keterangan staf IFK dan pengelola aplikasi Taswan Satriadi, bahwa  penghargaan diumumkan pada Rapat Koordinasi Nasional Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan di Banjarmasin pada 3-6 Maret 2020.

Berau menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan lantaran sudah terintegrasi secara berkala, dengan memasukkan laporan yang dikirim setiap bulannya secara berkala selama 2019 hingga bulan Februari kemarin.

Gedung terletak di Jalan Pulau Panjang, yang berhadapan langsung dengan RSUD Abdul Rivai tersebut, memang sudah sejak 2018 lalu mulai menggunakan aplikasi e-logistik dari Kementerian Kesehatan RI. Dimulai dengan memasukkan data 30 jenis obat, saat ini sudah 700 lebih data nama obat yang diinput oleh IFK Berau.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kini menggunakan aplikasi E-Logistik dalam memudahkan kerja mereka mendata kebutuhan obat-obatan dan vaksin di daerah. Penerapannya pun dilakukan juga sampai ke daerah-daerah. Aplikasi E-Logistik ini mengakomodir pencatatan dan pelaporan dari instalasi farmasi. Aplikasi ini memudahkan monitoring pengelolaan obat dan vaksin di kabupaten kota.

Pentingnya pengelolaan logistik diprediksi akan meningkat, khususnya di era Jaminan Kesehatan Nasional. Manajemen logistik obat dan bahan medis habis pakai (BMHP) yang baik akan memberikan kemudahan untuk mengelola pengadaan, penyimpanan, dan distribusi dalam rangka untuk memenuhi permintaan pasien yang semakin lama semakin meningkat.

Data yang termuat di aplikasi tersebut diambil dari masukan data dari puskesmas, naik ke kabupaten kota dan provinsi. Setelah provinsi baru ke Kementerian Kesehatan. Kemenkes dimudahkan setelah aplikasi ini bergulir, sebab pemerintah langsung memonitor persediaan obat dan vaksin di seluruh daerah.

Sebelum ada aplikasi tersebut, penginputan data menggunakan sistem manual. Dan dengan aplikasi ini juga, kebutuhan dasar masyarakat atas obat-obatan dan vaksin terpenuhi. Aplikasi juga memiliki keuntungan peningkatan efektivitas ketersediaan obat dan vaksin. Juga dapat mempermudah relokasi obat dari daerah yang berlebih ke daerah yang kekurangan obat.(amel/Bangun Banua)

Tanjung Redeb –

Setelah menunggu selama 14 hari, masyarakat Berau bisa merasa lega. Pasalnya, pasien yang dirawat dan diisolasi di RSUD Abdul Rivai, sudah dinyatakan negatif dari virus COVID-19. Namun, meskipun begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau meminta masyarakat tetap waspada dan melakukan instruksi sesuai protokol yang diberikan pemerintah dan Kemenkes RI.

Diketahuinya hasil pemeriksaan sampel dahak milik pasien terduga Corona yang dikirim beberapa waktu lalu, dipaparkan oleh Dinkes Berau dalam press releasenya tertanggal 9 Maret 2020. Dalam release tersebut dijelaskan jika hasil pemeriksaan dari sampel pasien yang sebelumnya diisolasi, adalah hegatif. Hasil ini diinformasikan oleh Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC) kepada Dinkes Kaltim melalui whatssapp kepada tim gerak cepat Dinkes Berau.

“Hasil pemeriksaan pasien dengan status pengawasan adalah negatif. Dokumen resmi akan dirilis Balitbangkes Kemenkes RI dalam beberapa hari ke depan. Namun, dengan memantau kondisi pasien yang sehat secara fisik 3 hari ini, tidak ada keluhan batuk pilek dan nyeri tenggorokan, maka pasien diperbolehkan pulang, dan tetap diisolasi di rumah hingga dokumen resmi hasil sampel diterbitkan. Hal ini dilakukan agar mengurangi tekanan psikologis pada pasien jika terlalu lama diisolasi,” jelas Kepala Dinkes Berau, Iswahyudi dalam press release itu.

Selain hasil sampel, pasien diperbolehkan pulang juga karena hasil evaluasi berkala sesuai pedoman kesiapsiagaan menghadapi COVID-19 yang diterbitkan Kemenkes RI pada 17 Februari 2020. Selain diwajibkan istirahat di rumah, pasien juga diminta mengonsumsi banyak protein dan tetap dalam pemantauan TGC Berau. Juga wajib kontrol seminggu ke depan kepada dokter spesialis paru RSUD Abdul Rivai.

Meskipun sudah dinyatakan negatif, masyarakat tetap diimbau untuk waspada. Dan untuk pencegahan penularan COVID-19 di lingkup kerja, pemerintah mengeluarkan protokol dan imbauan Kemenkes yaitu, menjaga area dan fasilitas kantor agar tetap bersih dengan melakukan pembersihan permukaan alat kantor seperti meja, kursi, telepon, keyboard dan lainnya dengan menggunakan disinfektan secara berkala.

Menyediakan akses sarana cuci tangan berupa air mengalir dan sabun atau hand sanitizier di tempat umum area kerja seperti pintu masuk, ruang rapat, lift, toilet dan lainnya. Juga menyediakan masker dan tisu bagi tamu atau pengunjung yang memiliki gejala batuk pilek atau demam. Selain itu, pesan-pesan kesehatan juga perlu dipasang di tempat strategis.

Yang terpenting, sebelum melakukan perjalanan dinas ke luar negeri agar memperhatikan negara yang telah terjangkit COVID-19. Sebisa mungkin menghindari penugasan pegawai yang memiliki risiko penyakit. Jika harus melakukan perjalanan dinas ke negara terjangkit, selalu jaga kesehatan. Jika ada gejala sakit harus memberikan informasi pada kantor tempatnya bekerja. Setelah pulang dari penugasan luar pun keluarga harus melakukan pemantauan mandiri selama 14 hari dan mengukur suhu tubuh 2 kali sehari. (amel/bangun banua)

Tanjung Redeb Website Dinkes –
Jamaah haji Kabupaten Berau harus bisa mengelola diri sendiri dalam hal kesehatan. Ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau Drs Iswahyudi Apt M kes disela sela acara Pengukuran Kebugaran Jamaah Haji Berau di Halaman Kantor Dinkes Minggu (6/2/2020).
Mengelola diri sendiri yang di maksud Iswahyudi, adalah jamaah harus paham benar kondisi kesehatan diri. Misal sebut Iswahyudi, seorang jamaah haji pernah menderita hipertensi, sehingganya dia selalu menjaga agar hipertensi nya tidak naik. “Dengan menjaga pola makan pengaturan untuk mereka yang memiliki riwayat hipertensi,” jelasnya.
Bahan makanan yang dianjurkan yakni makanan yang segar, sumber hidrat arang, protein nabati dan hewani, sayur sayuran dan buah buahan yang banyak mengandung serat.
Tentunya makanan yang diolah tanpa atau sedikit mengandung garamnatrium, vetsin dan kaldu bubuk. Sedangkan sumber protein hewani pengunaan daging ayam, ikan yang paling banyak 100 gram perhari.
Sedangkan bahan makanan yang dibatasi adalah garam dapur , dan bahan makanan yang mengandung seperti soda kue.
Hindari sosis makan seperti otak, ginjal, paru jantung dan daging kambing. Serta keripik yang asin, makan menganduung soda aau makanan minuman kaleng.
Penderita hipertensi sebaik juga menghindari makanan yang diawetkan seperti dendeng , abon, ikan asin, telur pindang dan selai kacang, mentega dan keju.
Iini salah satu contoh cara mengelola diri, bagi yang menderita hipertensi. Namun jamaah haji tahun ini ynag berjumlah 151 orang dibagi menjadi 4 rombongan kemudian di bagi lagi menjadi kelompok. Dalam satu kelompok ada yang berusia lansia, dan dalam hal ini ketua kelompok membantu mereka yang lansia, juga mengigatkan mereka yang misal memiliki hipertensi. Ada gelang khusus selain gelang jamaah haji, mereka yang memiliki riwayat hipertensi. Selain jamaah dapat mengelola diri sendiri, ketua kelompok juga memperhatikan jamaah lansia dan memiliki riwayat penyakit.
Sisi lai juga ada petugas kesehatan dalam jamaah haji Kabupaten. Meski demikian, tegas iswahyudi, agar jamaah bisa mengelola diri sendiri, tidak saja hipertensi, termasuk mereka yang diabet dan penyakit lainya.
Dan tentunya saat ini harus menjga kesehatan fisik dan mental untuk mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji.  (helda/bangun banua)
Tanjung Redeb Website Dinkes -
Pada acara Lomba Gado Gado Cegah Stunting dalam rangkaian  Hari Jadi Kota Tua Teluk Bayur ke 108 tahun  di alun alun kecamatan Teluk Bayur Minggu (8/2/2020) Ketua Forum Berau Sehat Hj Sri Juniarsih M Pd kepada seluruh undangan yang hadir, bahwa lomba membuat makanan gado gado ini lebih menekankan kepada masyarakat agar makan dengan pola makanan bergizi.
“Mari kita mencegah stunting  dengan makan makanan bergizi seperti makan ikan, sayur dan buah buahan,” kata Sri Juniarsih.
Dan salah satu fokus dari Pemerintah dan Forum Berau Sehat adalah mencegah stunting sejak dini. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
"Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih",
Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Dalam acara HUT Kota Tua Teluk Bayur, yang di gagas oleh Kecamatan Teluk Bayur bersama Masyarakat, digelar Forum Komunikasi Kecamatan Sehat Teluk Bayur juga melaksanakan deklarasi anti rokok, alkohol dan narkotika. (helda/bangun banua)

Tanjung Redeb -

Mengantisipasi terus menyebar dan beredarnya isu di sosial media tentang virus corona yang ada di Bumi Batiwakkal, DPRD Berau melakukan rapat dengar pendapat gabungan komisi  dengan mengundang Dinas Kesehatan (Dinkes), RSUD Abdul Rivai, dan Bandara Kalimarau. Pertemuan tersebut dipimpin Wakil Ketua I DPRD Berau, Syarifatul Sya'diah. Dalam kesempatan tersebut, Dinkes Berau sebagai ujung tombak telah mengambil beberapa langkah guna mengurangi kekhawatiran masyarakat.

Beberapa hal yang menjadi langkah Dinkes yaitu Dinkes bersama seluruh jajaran termasuk puskesmas-puskesmas, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus Corona. Dinkes selalu meningkatkan koordinasi dengan OPD dalam pencegahan dan penanggulangan COVID-19. Bahkan, tim sudah terbentuk dan sudah berjalan koordinasi dan alur penanganan melalui tim gerak cepat (TGC). Dan Dinkes juga berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas SDM atau petugas kesehatan yang ada.  

Hearing yang digelar pada Selasa (3/3) bertempat di Ruang Rapat Gabungan Komisi pada pukul 14.00 Wita ini sangat penting dilakukan karena kekhawatiran masyarakat Kabupaten Berau yang meningkat setelah adanya 10 warga Kabupaten Berau, yang baru pulang melancong dari lawakan luar negeri. Dari 10 warga yang dirahasiakan identitasnya, satu diantaranya harus menjalani konservasi di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai Kabupaten Berau. Sementara 9 warga lainnya dalam pengawasan (TGC) Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang dilaporkan kondisinya makin baik. Informasi adanya warga yang diisolasi tersebut telah terkonfimasi oleh pihak rumah sakit melalui Humas RSUD, Dr Erva Angriana.

Wakil Ketua DPRD Syarifatul Syadiah mengatakan hearing tersebut juga untuk mengetahui lebih lanjut soal adanya pasien suspect virus Corona. Ia juga mengatakan berdasarkan data yang diperoleh dari OPD dan rumah sakit yang melayani pasien kondisinya membaik dan kecil kemungkinan terjangkit Virus Corona atau Covid-19.

"Alhamdulillah pasien suspect itu kondisinya dari hari ke hari semakin membaik artinya kemungkinan kecil sekali dia terinfeksi karena masa inkubasi virus Corona itu 14 hari. InsyaAllah hasilnya negatif dan kita harapkan itu walaupun mesti dibuktikan hasil tes sample yang dikirim ke Litbangkes, dan kita masih menunggu hasilnya," tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, Syarifatul mengaku lega dan meminta warga tak panik juga memberi stigma kepada pasien. Wakil ketua DPRD Berau dari Fraksi Partai Golkar itupun berharap masyarakat tidak terlalu khawatir dengan isu Virus Corona yang sudah masuk di Berau.

"Apalagi memberi stigma kepada pasien dan keluarganya itu sebaiknya jangan, yang terpenting kita lakukan budaya hidup sehat karena dengan tubuh sehat insyaAllah penyakit tak akan masuk tubuh kita," tambahnya.

Soal pengunaan masker, Syarifatul beharap mendahulukan masyarakat yang sakit ketimbang yang masih sehat.

"Agar dapat mencegah penularan penyakit dari yang sakit ke yang tidak sakit," tutupnya. (amel/bangun banua)

Tanjung Redeb Website Dinkes –
Dalam acara pembukaan Pengukuran Kebugaran Jamaah Haji kabupaten Berau Sabtu (7/3/2020) di halaman kanto Dinas Kesehatan jalan Mawar Tanjung Redeb, Bupati Berau H Muharram S Pd MM mengimbau kepada seluruh jamaah haji agar selain menjaga kesehatan fisik juga menjaga kesehatan batin.
“ Yang paling besar adalah menjaga kesehatan batin, hidup bahagia tenang, tidak suka marah marah, tidak suka iri dan dengki,” ungkap Muharram.
Disebutkan bahwa marah yang menyebabkan stres, menurut penelitian orang yang marah satu menit, mengurangi imun tubuh 11 jam kedepan. Sehingganya daya tahan tubuh jadi kurang.  Jauh lebih baik  ketimbang tidak marah.
“Hindari marah, karena yang membuat itu adalah hati. Dalam tubuh manusia itu adalah hati. Sering sering mendengarkan ceramah Aa Gym , management kalbu.” paparnya.
Muharram berterima kasih Dinas Kesehatan  yang melaksanakan program pengukuran kebugaran, “lebih baik bisa mengatasi terlebih dahulu, kedepan melalui dinas kesehatan, puskesmas puskesmas ini tidak saja menerima pasien sakit, tetapi juga menerima yang sehat, untuk berkonsultasi kesehatan.
Paradigma kesehatan kedepan, lebih baik mencegah daripada mengobati.(helda/bangun banua)
Tanjung Redeb Website Dinkes-
Halaman Kantor Dinas Kesehatan, Sabtu (7/3/2020) sejak pukul 5.30 atau tepatnya setelah shalat subuh dipenuhi dengan calon jamaah haji sejumlah 151 orang.
Calhaj ini mengikuti serangkaian kegiatan  diprogramkan oleh Dinkes Berau yakni pengukuran kebugaran jasmani tahap II. Tampak puluhan petugas kesehatan dari baik itu dari Dinkes dan dari 21 Puskesmas dengan peralatannya memeriksa kesehatan calhaj.
Menurut keterangan Kadis Kesehatan Iswahyudi melalui Kepala seksi kesehatan lingkungan kesehatan kerja dan olahraga Suhartini SKM , bahwa pengukuran kebugaran kesehatan jamaah haji dilaksanakan secara terintegrasi.
  
Mengapa ? karena ibadah haji merupakan ibadah dengan kemampuan fisik. Dan upaya pemerintah dalam melakukan persiapan sejak dini agar jemaah dapat mencapai istithaah. Dan persiapan ini dilakukan sejak jauh hari sebelumnya, dilakukan secara terkoordinasi dan terarah.    
Adapun yang dilakukan Sabtu pagi, jamaah melaksanakan latihan fisik dengan berlari dan berjalan kaki, seusai dengan kemampuan. 
Pengukuran atau tes kebugaran dilaksanakan dengan etode rockpot (tes lapangan/jalan untuk mengukur daya tahan jantung dan paru). 
Kegiatan ini diawali dengan pengukuran denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemanasan, peregangan dan diakhiri dengan pengukuran denyut nadi sesudah. Hasilyang dicatat adalah waktu tempuh yang dicapai calhaj. Tampak Sekkab Berau Muhammad Gazali beserta istri Ida Rugayah dan kadishub Abdurahman beserta istri mengikuti pengukuran kebugaran. 
Calhaj juga diperiksa tekanan darah,  gula darah, kolestrol dan purin. Dan jika ada ditemukan , secepatnya berkonsultasi untuk mengatasinya.
Acara pengukuran kebugaran ini dibuka Bupati Berau H Muharam S Pd MM yang sebelumnya diberikan pidato pembuka kepada Dinas Kesehatan Drs H Iswahyudi APT M,Kes. (helda/bangun banua)

Tanjung Redeb –

Meskipun sudah sejak Februari berjalan, pemberian vitamin A untuk bayi dan balita masih diberikan hingga kini di Kabupaten Berau. Terlebih, untuk posyandu yang jaraknya jauh dari pusat kota, terkadang belum bisa memberikan vitamin A secara maksimal kepada masyarakat.

Seperti yang dilakukan puskesmas Sambaliung beberapa waktu lalu saat menjalankan Program Indonesia Sehat (PIS), dimana pendataan dilakukan sekaligus pemberian vitamin A. Bahkan, PKK Berau pun ikut memberikan vitamin A gratis ketika  kunjungan kerja ke beberapa posyandu seperti posyandu semangka di Limunjan.

“Masyarakat yang memiliki bayi dan balita agar dapat berkunjung rutin ke posyandu setiap bulannya. Dan masalah stunting pada anak dapat dicegah dengan selalu memantau pertumbuhan bayi dan balita di posyandu. Di bulan Februari dimana vitamin A diberikan secara gratis, bisa dimanfaatkan sebagai waktu memantau tumbuh kembang anak melalui posyandu,” terang Ketua TP PKK Berau, Sri Juniarsih Maksir.

Ya, selama bulan Februari, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posyandu di seluruh Kabupaten Berau menyediakan vitamin A secara gratis untuk balita berusia 6 - 9 bulan.

Beberapa posyandu yang sudah memberikan vitamin A diantaranya posyandu Tunas Mekar di Sei Bebanir Bangun, posyandu di Inaran, posyandu di Gurimbang, posyandu Mandiri di Kelurahan Bugis, posyandu Anthorium Kelurahan Gayam, posyandu Al Ikhwan Kelurahan Gunung Panjang,

Kesehatan mata sangat penting, maka dengan mendapatkan vitamin A, anak-anak sebagai generasi bangsa memperoleh banyak manfaat. Manfaatnya yaitu dapat meningkatkan kesehatan mata dan mencegah kebutaan, juga meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit seperti penyakit diare, campak, penyakit infeksi lainnya serta kanker. Serta juga untuk memperbaiki tumbuh kembang anak yang optimal.

Selain bayi dan balita yang mendapatkan vitamin A, ibu pun mendapatkan manfaat lain jika rutin membawa buah hatinya ke posyandu yaitu mendapatkan pengetahuan seputar tumbuh kembang anak dan makanan tambahan bergizi. Ibu hamil pun akan mendapatkan tablet tambah darah.(amel/bangun banua)

Syarat Pelunasan dan Penunjang Prosesi Haji

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2020 ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, kembali mengadakan sosialisasi kesehatan haji yang dilaksanakan di Balai Mufakat beberapa waktu lalu. Ini karena selain Istithaah atau kesehatan haji sebagai syarat utama pemberangkatan calon jamaah haji (CJH), hal ini juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji.
Dikatakan Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional (yankestrad) Dinkes Berau, Sitti Zakiah, jika sosialisasi ini bukan hanya semata memberikan informasi kepada CJH yang diundang, melainkan juga kepada masyarakat. Bahwasannya, selain melakukan tes kesehatan, pihak Dinkes juga melakukan pemantauan kesehatan para calhaj secara berkala.
“Kegiatan sosialisasi ini diadakan setiap seminggu sekali. Bukan hanya sekadar informasi yang diberikan tetapi juga melakukan olahraga bersama dengan para calhaj, guna menjaga kondisi mereka agar tetap fit, sampai sebelum keberangkatan. Ini bukan untuk mempersulit atau menghambat masyarakat untuk berhaji. Tapi lebih bertujuan melindungi agar saat melakukan prosesi haji benar-benar ditunjang dengan kesehatan yang baik,” terang wanita berhijab itu ketika ditemui pada Rabu (4/3).
 
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (Kemenag) turut menjadi pendukung utama penegakan aturan tersebut. Bahkan, rekomendasi Istithaah telah menjadi syarat utama pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).
 
Istithaah haji, lanjutnya, bukan hanya bicara kemampuan materi, tapi juga soal kesehatan jamaah haji pra embarkasi, embarkasi hingga kepulangan nanti. Tujuannya supaya selama sekitar 40 hari di Arab Saudi, jamaah mampu beribadah secara aman, nyaman, sehat, dan menjadi haji mabrur.
 
Penegakan Istithaah Kesehatan Haji diperkuat dengan surat edaran dari Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag dalam Surat Edaran Nomor 4001/2018. Artinya, hingga di tingkat daerah harus benar-benar memerhatikan Permenkes Istithaah Kesehatan Haji.
 
“Teknisnya, data kesehatan CJH dikontrol. Lalu, diinput dokter ke pusat data Siskohat Kesehatan (Siskohatkes) dan terhubung ke Siskohat Kemenag. Hasilnya dikaji untuk mengetahui kondisi seorang CJH dinyatakan istithaah atau tidak. Jika dinyatakan tidak memenuhi istithaah, mereka tidak bisa melakukan pelunasan di bank. Memang seperti itu seharusnya,” sambungnya.
 
Skrining tersebut diperketat agar tidak ditemui lagi jamaah yang tidak memenuhi syarat istithaah dari sisi kesehatan, tetapi tetap diperbolehkan melunasi BPIH. Bahkan, ada jamaah yang sudah berada di asrama haji, kemudian dinyatakan tidak mampu berhaji dari sisi kesehatan. Demi mengurangi risiko kesehatan pula, CJH juga diimbau untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi saat musim haji nanti yang diperkirakan mencapai lebih dari 50 derajat Celcius.(amel/bangun banua)