Helda

Helda

TANJUNG REDEB WEBSITE DINKES- 
 
Simpangan KM 5 , Teluk Bayur dan Simpang Gunung Tabur –Bulungan,  Bupati Berau H Muharram bersama Ketua TP PKK Hj Sri Juniarsih dan Ketua Forum Berau Sehat Najemuddin membagikan takjil, masker dan hand sanitizer kepada masyarakat, Minggu (26/4/2020).
 
Pembagian 1.000 takjil, 500 masker dan 500 hand sanitizer ini dikuti dengan edukasi bagaimana melindungi diri ketika keluar rumah.  Seperti yang dilakukan Muharram, memberikan sekelumit wejangan agar warga menggunakan masker. 
 
“Nah..pakai ya maskernya ketika keluar rumah, jaga diri,” kata Bupati Muharram memberikan masker kepada  pengendara sepeda motor yang tidak  mengenakan masker.
 
“Ah ini lagi , ganteng ganteng,ngak pakai masker," kata Muharrm mencandai seorang anak muda bersepeda motor, sambil  memberi masker dan takjil.
 
Meski dengan waktu pendek, Muharram mengupayakan pesan kepada masyarakat yang intinya dalam suasana pandemi covid-19 ini warga harus menjaga diri dan berhati hati. Stay di rumah, dan jika keluar rumah gunakan masker, dan mencuci tangan mengunakan air mengalir.
 
Pembagian takjil, masker dan hand sanitizer ini dilaksanakan Bupati bersama TP PKK dan FBS, yang mana pembagian dilaksanakan di beberapa titik.
Di Tanjung Redeb takjil, masker dan  hand sanitizer dibagi bagikan oleh TP PKK dan FBS di simpang jalan SA Maulana – jalan Pangerah Antasari (dekat Kenctucky Fried Chiken) , Tepian Teratai di Jalan Pulau Derawan, Simpang Hotel Bumi Segah, simpang KM 5 , Alun Alun Teluk Bayur, Depan Keraton Gunung Tabur dan lokasi terakhir adalah simpang Gunung Tabur menuju Bulungan.   
 
Dengan sesi waktu  yang singkat dimulai dari pukul 15.30 wita , sehingga Muharram dan Sr Juniarsih yang juga ketua umum FBS hanya membagi di lokasi KM 5, alun Alun Kecamatan Teluk Bayur dan kecamatan Gunung Tabur. Sementara lokasi lainya diwaktu bersamaan dibagikan anggota TP PKK dan FBS. (bangun banua)

TANJUNG REDEB WEBSITE DINKES –

Sama halnya dengan Alat Pelindung Diri (APD), masker juga sangat dibutuhkan khususnya di kondisi mewabahnya virus corona saat ini. Sebagai pelengkap APD, masker juga dibagi dalam beberapa kelas. Untuk kelas pertama, APD menggunakan masker bedah dan sarung tangan. Sedangkan kelas kedua ditambah menggunakan kacamata, gown dan haircap. Kelas ketiga adalah kelas khusus yakni APD ditambah bot, coverbot, hazmat, handscoon, google, face shield dan masker N95.

Dijelaskan Humas RSUD Abdul Rivai, dr.Erva Anggriana, ada dua jenis masker yang biasa digunakan yakni masker bedah dan masker N95. Sedangkan saat ini banyak orang yang menggunakan masker bedah sebagai masker anti polusi.

“Padahal masker bedah memiliki lapisan penyaring yang lebih sedikit daripada simple mask (masker polusi). Dan fungsinya untuk menghambat penyebaran infeksi, bukan penyaring udara. Oleh sebab itu, ketika menggunakan masker bedah di luar ruangan dan menggunakan sebagai masker anti polusi, tentu tak seefektif respirator atau simple mask,” jelasnya pada Senin (27/4/2020).

Berbeda dengan masker bedah, masker respirator atau biasa disebut masker N95, dirancang khusus pas menutupi wajah, meskipun desainnya dibuat sama yakni untuk mencegah penyebaran virus atau bakteri. Bahkan, masker N95 ini juga dilengkapi alat efisien guna menyaring partikel berbahaya meskipun dengan ukuran sangat kecil.

“Kode N95 menunjukkan jika masker ini dapat menyaring partikel particulate matter (PM) 2,5 hingga 95 persen. Inilah sebab mengapa masker ini diandalkan untuk mereka yang bekerja meneliti sekitar zat berbahaya atau saat menangani pandemi Covid-19 seperti saat ini,” tambahnya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB WEBSITE DINKES –

Masih berstatus zona merah, hingga Minggu siang (26/4/2020), tercatat masih ada 129 orang yang termasuk ODP, PDP maupun positif Covid-19 di Kabupaten Berau. Dari rilis data Dinas Kesehatan Berau, hingga pukul 11.00 Wita ini terdapat 77 ODP yang masih dalam proses pemantauan, 45 PDP proses pengawasan, dan 7 positif corona yang masih dalam perawatan.

Dijelaskan Koordinator Poli Covid-19, dr.Erva Anggriana, ketujuh pasien positif sampai saat ini masih dirawat di RSUD Abdul Rivai dan kondisinya semakin membaik. Sedangkan di RSD Hotel Cantika ada 40 pasien yang dirawat. Dan sisanya diisolasi di Hotel Melati.

“Pasien yang dirawat di RSD berstatus PDP yang mayoritas dari kalster Gowa. Dan ada 1 pasien yang berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG), juga dirawat di RSD. Untuk OTG ini tidak merasakan gejala apapun dan 5 hari ke depan sudah bisa lepas dari pengawasan tim medis. Sampai saat itu, kami masih menunggu hasil tes swab terakhir untuk memastikan benar-benar sembuh,” jelas Erva.

Sedangkan untuk PDP yang dirawat juga sudah tidak ada gejala. Tetapi karena mereka memiliki kontak erat dengan pasien positif Covid-19 dan dianggap berisiko, maka statusnya tetap dalam pengawasan.  

Sebelumnya, dari hasil swab test 6 PDP yang merupakan satu keluarga asal Kecamatan Segah dinyatakan negatif. Namun hasil tes tersebut tidak serta merta membuat mereka langsung dipulangkan, karena mereka masih harus menjalani Rapid Diagnostic Test (RDT).

“Karena mereka merupakan keluarga dari salah satu pasien positif Covid-19, maka istri dan kelima anaknya tetap diisolasi di RSD sejak 10 April lalu. Apalagi pada awal gejala mereka sempat mengeluhkan batuk. Tetapi saat ini kondisi mereka sudah normal, dan tinggal menunggu hasil tes swab terakhir nanti,” terang Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES –

Terus bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19 di Berau dalam 2 minggu terakhir ini, membuat Dinkes Berau dan RSUD Abdul Rivai ekstra memperhatikan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para perawat yang berkontak langsung dengan pasien. Juga obat-obatan penunjang terapi pasien Covid-19.

“Risiko para tenaga kesehatan untuk terpapar Covid-19 ini sangat tinggi jika tidak menggunakan APD lengkap. Selain itu, APD ini adalah perlengkapan wajib digunakan untuk melindungi diri dari bahaya cidera atau penyakit serius saat sedang bekerja. Dan untuk APD ini juga sudah didesain sesuai dengan jenis pekerjaannya. APD untuk petugas laboratorium tidak sama dengan APD yang digunakan petugas yang merawat pasien dengan penyakit menular,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi pada Jumat (24/4/2020).

Penggunaan APD ini juga berdasarkan standar Kemenkes, WHO dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yakni cover all jumpsuit seperti baju astronot, penutup kepala, kacamata pelindung, masker, sarung tangan dan sepatu. Sedangkan untuk lamanya waktu pemakaian, disesuaikan dengan kondisi di lapangan.  Selain melindungi tenaga medis dari virus di dalam ruangan, juga mencegah virus tersebut keluar ruangan.

Meskipun dikatakan APD hanya bisa dipergunakan sekali dalam jangka waktu 4-6 jam saja, ada beberapa yang bisa dipakai berkali-kali seperti sepatu dan kacamata, yang tentunya sudah dibersihkan terlebih dahulu sesuai prosedur kesehatan. (bangun banua)

TANJUNG REDEB, WEBSITE DINKES -
Lambatnya proses pengiriman sampel swab hingga menunggu hasil para Pasien Dalam Pemantauan (PDP) di Berau, menjadi masalah krusial dalam pandemi corona ini. Mulai dari pengiriman hasil swab melalui jalur darat ke Samarinda, kemudian diteruskan ke Surabaya bisa memakan waktu hingga seminggu.

“Proses pengirimannya saja sudah lama. Kemudian di Surabaya antre untuk diperiksa. Bisa lebih dari seminggu hingga hasil tes swabnya keluar. Jadi, kalau tes ini bisa diperiksa di Kaltim pastinya akan lebih cepat keluar hasilnya,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi, beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, ada 2 rumah sakit di Kaltim yang bisa mendapatkan Polymerase Chain Reaction (PCR) yaitu RSUD Abdul Wahab Syahranie di Samarinda dan RS Pertamina Balikpapan. Ini lantaran kedua RS tersebut sudah type A. sedangkan untuk di Berau sendiri belum ada RS type A. 

“Metode paling akurat untuk mendeteksi virus penyebab Covid-19 adalah PCR. Tetapi tidak semua laboratorium di Indonesia bisa melakukan pengetesan. PCR adalah pemeriksaan spesimen dahak hasil swab tenggorokan dan mulut untuk mengetahui DNA virus dalam tubuh, dimana pemeriksaan ini dilakukan dengan peralatan khusus dan tenaga medis berpengalaman,” tambahnya.

Untuk saat ini, ada 12 laboratorium pemeriksa Covid-19 yang ditunjuk berdasarkan keputusan Kemenkes nomor HK.01.07/MENKES/182/2020. Dan untuk Kaltim memang tidak ada. Semua laboratorium pemeriksa itu melakukan screening spesimen yang diterima untuk dilanjutkan ke laboratorium rujukan Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes. 

Tetapi, bila dibandingkan dengan luar negeri, Indonesia termasuk cepat. Karena di luar negeri tidak cukup dengan PCR dan Rapid Test, melainkan dengan pemeriksaan darah lengkap yang namanya CDC Complete termasuk pemeriksaan ginjal dan liver. (bangun banua)
TANJUNG REDEB - 
 
Tenaga kesehatan yang menangani masyarakat yang dikarantina di Hotel Melati jalan H,Isa II  Tanjung Redeb dan RSDC (Rumah Sakit Darurat Covid-19) Cantika, Rabu (22/4/2020) pagi mendapat bantuan dari Tim Pengerak (TP) PKK dan Forum Berau Sehat (FBS). Pemberian bantuan ini setelah berkeliling hingga perbatasan Kutim, perbatasan Berau-Bulungan.
Hj Sri Juniarsih Muharram ketua TP PKK dan Sekretaris FBS Sharial bersama anggotanya menyerahkan bantuan masker, makanan minuman susu, vitamin ke hotel melati, yang mana di hotel tersebut bantuan diserahkan kepada perwakilan tenaga kesehatan Sulasmi Sungkono Amd Keb.
Kepada perwakilan tenaga kesehatan, Sri Juniarsih menyatakan support dan apresiasinya kepada kalangan tenaga kesehatan yang selama ini bekerja menangani masyarakat yang dikarantina. Adapun masyarakat yang dikarantina saat ini adalah remaja yang merupakan santri di luar kota Berau,  jumlahnya ada 9 orang.
Setelah penyerahan di hotel Melati, Sri Juniarsih menyerahkan  di halaman rumah jabatan Bupati, bantuan berupa  masker, makanan dan minuman susu dan vitamin untuk tenaga kesehatan di RSDC Cantika. Yang mana bantuan diterima drg. Eka Hadiwijaya. 
Disebutkan drg Eka bahwa saat ini   PDP (pasien dalam pemantauan), di RSDC Cantika berjumlah  37 orang. 
Sementara itu jumlah dokter yang bertugas 7 orang, 18 orang yang mengurus pasien, dan 22 orang penunjang medis.
Sri Juniarsih juga memberikan support kepada kalangan tenaga kesehatan dan para penunjangnya yang bertugas,  mereka merupaan garda terdepan dalam situasi pandemi covid-19. (hel/bangun banua)

Hasil tes swab dari beberapa orang yang dikirim pekan lalu akhirnya keluar. 3 orang yang sampelnya dites dinyatakan positif Covid-19. Sehingga kasus positif Corona di Berau saat ini total sudah 7 orang. Hasil tes ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi pada Selasa (21/4/2020) sore di kantor BPBD Berau.

"1 orang dari Kecamatan Segah, dan 2 orang dari Kecamatan Sambaliung. 2 orang dari mereka adalah kelompok sama yang sebelumnya sudah terkonfirmasi positif. Sedangkan untuk 1 orang dari Sambaliung yang positif Corona adalah mahasiswa yang berkuliah di Jogjakarta, yang sebelumnya dinyatakan negatif pada 16 April lalu," jelas Iswahyudi.

Mahasiswa tersebut sudah dirawat sejak 2 April lalu di RSUD Abdul Rivai dan sudah diswab ulang. Bahkan kini kondisinya sehat. Dan untuk 1 warga Sambaliung lainnya sudah menjalani isolasi bersama 6 orang anggota keluarganya sejak 11 April.

"Sudah kita lakukan tes swab juga untuk keenam anggota keluarganya, dan masih menunggu hasilnya," tambahnya.

Sedangkan untuk 1 warga Segah, sudah dirawat sejak 1 April lalu. Melihat banyaknya kasus positif dari kelompok yang sama yakni klaster Gowa, Dinkes juga melakukan tes swab lagi untuk beberapa orang lainnya yang juga termasuk klaster Gowa. (bangun banua)

Empat Pasien Dalam Pemantauan (PDP) yang juga dinyatakan positif Covid-19, dan menjalani perawatan di RSUD Abdul Rivai sejak 3 minggu lalu, kondisinya terus membaik. Hal ini diungkapkan Direktur RSUD Abdul Rivai, Nurmin Baso.

“Kondisi 4 pasien positif itu terus menunjukkan progres bagus, stabil dan menuju kesembuhan. Semoga kondisinya bisa terus dipertahankan para pasien dan bisa segera pulih. Mohon doanya semoga pasien cepat sembuh dan bisa kembali ke rumahnya. Kami juga memberikan perawatan dan melayani pasien ini semaksimal mungkin,” ujar Nurmin Baso pada Sabtu (18/4/2020).

Sampai saat ini masih ada 13 PDP yang menjalani isolasi di RSUD Abdul Rivai, termasuk empat pasien yang terkonfirmasi positif. Dimana mereka masih mendapat perawatan dan menjalani masa inkubasi. Dan berdasarkan data terakhir Dinkes Berau, hingga Senin (20/4/2020) pagi, jumlah pasien yang masih dalam pemantauan sebanyak 67 orang, dan 76 orang selesai masa inkubasi. Sementara pasien dalam pengawasan 13 orang yang sedang proses penyembuhan, dan 16 pasien dinyatakan negatif berdasarkan hasil tes swab.

“Satu PDP yang hasil swab baru keluar beberapa hari lalu dinyatakan negatif, dan sudah dipulangkan. Tapi orang tersebut tetap diminta untuk menjaga kesehatan serta ikuti anjuran pemerintah, paling tidak jangan banyak keluar rumah dulu,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinkes Berau Iswahyudi, beberapa hari lalu menjelaskan jika kondisi salah satu dari 3 kasus baru yang terkonfirmasi positif corona, yang dipaparkan Bupati Berau Muharram, sempat menurun. Tetapi yang bersangkutan masih bisa berkomunikasi. Sedangkan dua pasien lainnya kondisi kesehatannya menunjukkan perkembangan yang baik.

“Satu pasien masih mengalami sesak. Satunya lagi masih ada gejala batuk, dan satu pasien sudah sehat. Tetapi yang sehat ini akan dites swab ulang,” katanya.

Sementara di Rumah Sakit Darurat Covid-19 di eks Hotel Cantika Swara, ada 8 pasien yang merupakan warga Segah, sedang menjalani perawatan. 8 orang ini masih menunggu hasil tes swab dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya. (bangun banua)

TANJUNG REDEB WEBSITE DINKES –
 
Selain mendapatkan perawatan dan asupan makanan bergizi, para pasien baik yang berstatus positif maupun Pasien Dalam Pemantauan (PDP), diberi obat khusus yang tidak dijual bebas. Seperti yang juga digunakan kota-kota lain di Indonesia, Berau juga menggunakan beberapa obat tersebut. Tetapi untuk saat ini Tamiflu (obat antivirus golongan neuraminidase inhibitor (NAI) yang biasa digunakan untuk mengobati influenza tipe A dan tipe B) menjadi obat yang dipergunakan di Berau.
 
“Awalnya, Indonesia kan menggunakan Chloroquin sebagai obat anti malaria tetapi sekarang tidak lagi karena dianggap resisten. Untuk di Jakarta menggunakan Avigan untuk pasien Covid-19 dengan takaran kandungan Favipamivir 200 miligram. Kalau di Berau menggunakan kandungan Tamiflu atau Oseltamivlir 75 miligram,” jelas Kepala Satgas RS Darurat Covid-19, dr Jusram Sp PD  pada Sabtu (18/4/2020).
Tamiflu ini juga merupakan salah satu obat yang direkomendasikan Menteri Kesehatan. Tamiflu sebagai regimen pengobatan pasien Covid-19, karena hingga saat ini belum ada obat khusus maupun vaksin yang spesifik bekerja untuk mengatasi Covid-19. Selain itu, Tamiflu juga berdasarkan rekomendasi maupun protokol yang dikeluarkan oleh perhimpunan dokter paru Indonesia.
 
“Setiap pasien harus mengkonsumsi obat tersebut 2 kali sehari selama 5 hari. Dan dalam 1 kaplet berisi 10 butir. Selain itu ada juga beberapa obat lain seperti vitamin C, Chloroquin, Azitromicin dan obat sitomatis yang sebatas mengatasi gejala tetapi tidak menyembuhkan penyebab penyakitnya. Misalnya, pasien sakit kepala, demam dan muntah akan diberi obat sitomatis sesuai yang dirasakan,” tambahnya.
Tamiflu ini juga sempat digunakan saat flu burung mewabah di Indonesia pada 2005. Di Amerika Serikat, tamiflu juga kerap diresepkan untuk penanganan wabah flu yang rutin terjadi di sana. Tamiflu bekerja dengan cara menghambat aktivitas enzim neuraminidase yang terdapat di permukaan virus. Dengan mengurangi aktivitas enzim tersebut, kemungkinan virus untuk hinggap di tubuh, bereplikasi, serta menginfeksi tubuh dapat berkurang.
Manfaat lain penggunaan Tamiflu adalah mempersingkat waktu pemulihan pasien dalam waktu singkat, hanya 1-2 hari dari biasanya 5-6 hari. Obat ini bekerja maksimal jika diresepkan dalam waktu 48 jam setelah tanda-tanda flu pertama kali muncul.
 
“Seperti obat-obatan lainnya, Tamiflu juga memiliki kemungkinan terjadinya efek samping pada beberapa orang. Tingkat keparahan dari efek samping yang muncul bisa bervariasi. Namun secara umum bisa menimbulkan efek samping antara lain mual, muntah dan sakit kepala. Tidak menutup kemungkinan juga obat ini memicu reaksi alergi. Jadi pemberian harus sesuai takaran yang diresepkan untuk pasien,” tutupnya. (mel/bangun banua)
Kelay Website Dinkes –
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Berau bersama Forum Berau Sehat (FBS) tak hentinya memberikan support dan bantuan bagi puskesmas yang tersebar di Berau, yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Setelah pada Senin (13/4) kemarin 5 puskesmas yakni Tanjung Redeb, Sambaliung, Kampung Bugis, Teluk Bayur dan Gunung Tabur,  Selasa Pasar sanggam Adji dilayas dan Tim di Perbatasan Berau Buungan,kini giliran Kampung Kelay dan pos pembantu Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19 di  perbatasan Berau-Kutim  yang mendapatkan bantuan.
Penyerahan bantuan diberikan Ketua TP-PKK Berau yang juga Ketua Umum FBS Sri Juniarsih Muharram bersama H Najemuddin ketua Harian FBS pada Rabu (15/4). Dan diterima Kepala UPT Puskesmas Kelay Arnel Panimpa dan Camat Kelay Toris.
Masker, hand sanitizer, serta makanan kemasan dan minuman dengan komposisi vitamin, adalah bantuan yang diberikan untuk kemudian dibagikan bagi para tenaga kesehatan yang bertugas di UPT Puskesmas Kelay dan tim di perbatasan. Dengan adanya bantuan itu diharapkan setidaknya dapat mencukupi kebutuhan di puskesmas di kampung Kelay.
“Mudahan ini bisa membantu dan dipergunakan oleh para tenaga kesehatan yang ada di sini. Karena tidak bisa dipungkiri jika para tenaga kesehatan inilah yang berperan penting di situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Kalau mereka sehat dan kondisinya selalu prima dengan asupan vitamin, pelayanan maksimal juga akan dapat diberikan kepada masyarakat,” terang Sri Juniarsih
Tak hanya itu, adanya pembagian masker yang dilakukan banyak pihak adalah salah satu bentuk ikhtiar guna meminimalisir penyebaran virus corona di Berau. Terlebih dengan adanya gerakan masker untuk semua, tentunya sangat dianjurkan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Mencuci tangan menggunakan sabun di air mengalir dan  menjaga jarak, juga perlu diperhatikan dan dilakukan
Ketua harian FBS, Najemuddin juga mengingatkan masyarakat khususnya yang akan berobat ke puskesmas untuk selalu menggunakan masker. Sampaikan secara jujur keluhan apa yang dialami agar dapat diberikan pengobatan yang tepat. Dan jika tidak sangat terpaksa harus ke puskesmas, sebaiknya ditunda dulu.
“Sering mencuci tangan dan konsumsi makanan sehat bergizi serta rajin olahraga untuk memperkuat sistem imun,” tutupnya. (bangun banua)