Helda

Helda

Tanjung Redeb Website Dinkes-
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai jalan Pulau Panjang dan Rumah Sakit Darurat ex Hotel Cantik Penanggulangan Covid-19 Corona menerima bantuan Dari Karyawan PT. Berau coal dan Warga Berau Peduli berupa 100 baju medis disposble dan 35 buah baju medis yang dapat disterilisasi produksi Sritex, Rabu (8/4/2020).
Bantuan perlengkapan baju medis di serahkan langsung kepada kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi . Bantuan tersebut merupakan hasil donasi dari mahasiswa School of Business and Management ITB, Karyawan PT Berau Coal dan warga Berau peduli.
Corporate Communications Manager PT Berau Coal, Arif Hadianto mengatakan, bantuan selanjutnya akan diberikan untuk mendukung kebutuhan tim medis di Kabupaten Berau.
 
“Bantuan kami akan disalurkan secara bertahap. Selanjutnya akan ada Masker dan  Vitamin, itu semua masih dalam proses pengadaan,” ujar Arif Hadianto.
Bantuan diterima langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Iswahyudi. Bantuan pakaian medis itu akan digunakan tim medis dalam menangani pasien Covid-19.
Dikatakan Iswahyudi jika saat ini tim medis sangat membutuhkan alat pelindung diri untuk menangani pasien Covid-19.
“Terima kasih banyak atas dukungan dan perhatiannya terhadap tim medis yang bertugas. Bantuan ini sangat membantu, apalagi saat ini alat pelindung diri sangatlah dibutuhkan,” pungkas Iswahyudi.(bangun banua)

Tanjung Redeb –

Dinas Kesehatan Berau terus menerima berbagai macam bentuk bantuan dari semua pihak, guna pencegahan dan penanganan Covid-19 di Kabupaten Berau. Selasa (7/4) beragam bantuan diterima langsung oleh Kepala Dinkes Berau, Iswahyudi dari relawan Warga Berau Peduli (WBP).

“Alhamdulillah Bantuan APD dan lainnya yang merupakan hasil galang dana dari Warga Berau kepada kami, telah didistribusikan ke 21 Puskesmas Se Kabupaten Berau dan 2 rumah sakit yaitu RS Pratama Talisayan dan RSUD Abdul Rivai. Untuk 5 puskesmas terdekat dan RSUD, tim kami langsung menyerahkan langsung. Sedangkan sisanya dibantu distribusi melalui Dinas Kesehatan Berau,” jelas perwakilan komunitas Warga Berau Peduli, Fitrial Noor.

Dijelaskannya, pada tahap I ini ada 65 Hazmat Sritex yang bisa dipakai 10 kali, jadi setara 650 kali pakai serta beberapa kelengkapan lainnya. Selain itu ada juga bantuan donasi barang langsung yang berasal dari Nano Mart Berau, Unggulmart Siti Juliana Zahidah Solomart Wahyu Hidayat serta dari Icare Berau.

“Setelah ini, masih ada penyerahan bantuan lagi tahap II khusus untuk RSUD Abdul Rivai serta RS Darurat Covid-19. Alhamdulillah donasi yang terkumpul sejumlah Rp 197 juta dan kas kami saat ini adalah Rp -3 juta. Ini tentu sebagai bukti bahwa donasi yang masuk langsung kami belanjakan dan Alhamdulillah barangnya bisa cepat datang,” tambahnya.

Sementara Kadinkes Iswahyudi mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada para relawan WBP yang telah berjuang bersama dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 ini. (bangun banua)

Tanjung Redeb Website Dinkes – 

Untuk mencegah penyebaran Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19, tak hanya penyemprotan disinfektan di sejumlah tempat yang dilaksanakan  PT. Indo Pusaka Berau (IPB). Senin (6/4) lalu perusahaan yang mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lati, itu terus memberikan kontribusinya mencegahan penyebaran COVID-19. Yakni, dengan memberikan bantuan peralatan atau tempat cuci tangan ke Dinas Kesehatan Berau.

“Menanggapi kondisi Kabupaten Berau yang juga sedang dilanda pandemi COVID-19, langkah kami segera membantu kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan imbauan pemerintah. Kita salurkan melalui Dinas Kesehatan, agar bisa tersalurkan lagi sesuai dengan tempat yang membutuhkan,” ujar Direktur Utama PT. IPB Najemuddin.

Peralatan cuci tangan tersebut dipilih, karena dalam mencegah penyebaran COVID-19, salah satunya yang paling disarankan adalah dengan rajin mencuci tangan di air mengalir dengan menggunakan sabun.

“Jadi, bantuan ini merupakan wujud konkret kami kepada pemerintah sehingga bisa meringankan beban pemerintah dalam menanggulangi wabah COVID-19. Ke depannya pun semaksimal mungkin kami bantu, sembari melihat kebutuhan-kebutuhan ke depannya,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi mengapresiasi bantuan yang diberikan IPB. Sebab, sesuai imbauan yang telah disampaikan kepada masyarakat, atau tempat-tempat yang berpotensi untuk melayani masyarakat, agar menyediakan tempat cuci tangan untuk memutus penyebaran virus Corona.

“Kami dari Dinas Kesehatan Kabupaten Berau berterima kasih atas bantuan IPB berupa peratalan cuci untuk mengurangi risiko penyebaran (Corona). Bisa pula hal ini menjadi contoh untuk senantiasa menyediakan cuci tangan,” katanya.  Menurutnya, peralatan cuci tangan tersebut akan ditempatkan di eks Hotel Cantika Swara yang telah dipersiapkan sebagai rumah sakit darurat untuk COVID-19. Rencananya, akan ditempatkan pula di Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan. Iswahyudi juga mengatakan, akan dievaluasi kembali daerah mana saja yang membutuhkan tempat cuci tangan. (hel/bangun banua)

Saat sekolah di seluruh dunia menghentikan kegiatan belajar-mengajar untuk sementara, para orang tua gamang tentang apa yang boleh dan tidak semestinya dilakukan anak mereka. Pertanyaannya, apakah anak memang boleh bermain di luar rumah bersama kawan-kawannya? Apakah anjuran menjaga jarak sosial memutus waktu bermain mereka?

Menurut panduan pencegahan Covid-19 yang dikeluarkan Dinkes Berau, beberapa hal yang perlu diperhatikan di tengah pandemi saat ini adalah, pastikan seluruh area publik bersih dengan melakukan pembersihan lantai, permukaan pegangan tangga/eskalator, tombol lift, pegangan pintu, mesin ATM, mesin kasir, alat pembayaran elektronik, metal detektor, kaca etalase, area bermain anak, musholla, toilet dan fasilitas umum lainnya dengan desinfektan (cairan pembersih) secara berkala minimal 3 kali sehari. 

"Jangan lupa juga menyediakan sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir di toilet dan menyediakan hand sanitizer di setiap pintu masuk, lift, dan tempat lain yang mudah di akses. Tidak dianjurkan menyediakan dispenser di area yang banyak dilewati pengunjung," terang Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Lamlay Sari pada Senin (6/4).

Memasang pesan-pesan kesehatan (cara cuci tangan yang benar, cara mencegah penularan COVID-19 dan etika batuk/bersin) di tempat-tempat strategis seperti di pintu masuk. Menginformasikan kepada pengunjung untuk menggunakan alat-alat ibadah pribadi. Pengelola area publik atau tempat umum harus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat secara berkala. (bangun banua)

Tanjung Redeb -

Meski belum ada laporan adanya warga kabupaten Berau, yang terjangkit virus corona yang saat ini menjadi perhatian dunia, namun Dinas Kesehatan Berau melalui Puskesmas Kampung Bugis terus meningkatkan pengawasan dan antisipasi dini. Upaya tersebut dilakukan dengan melakukan sosialisasi terkait dengan virus corona benerapa waktu lalu. Fasilitas umum, minimarket dan bank, menjadi sasaran sosialisasi.

Sosialisasi ini digelar sebagai upaya untuk menjawab keresahan masyarakat terkait dengan pemberitaan virus corona belakangan ini. Untuk itu, sesuai dengan instruksi Dinas Kesehatan melakukan sosialisasi dengan dimana tujuannya untuk disampaikan lagi terhadap masyarakat, bagaimana cara pencegahan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang virus corona. Dan perlu diketahui jika virus baru tersebut menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan, maka masyarakat sekarang harus bisa merubah prilaku tidak baik dengan pola cara hidup bersih sehat.

Upaya pencegahan sejak dini adalah dengan mengajak seluruh masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan. Misalnya, sering cuci tangan pakai sabun, menggunakan masker jika batuk atau pilek, konsumsi gizi seimbang dengan perbanyak sayur dan buah.

Selain itu, hati-hati kontak dengan hewan, rajin olahraga, jangan komsumsi daging yang tidak masak dan jika batuk pilek serta sesak segera ke fasilitas kesehatan terdekat. (amel/bangun banua)

CARA untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak, terdapat beberapa jenis tes yang bisa dilakukan. Hampir semua negara kini memiliki caranya masing-masing untuk melakukan tes ini dan beberapa tes banyak yang tengah dikembangkan produsen komersial.
Sebelum melakukan tes, penting untuk mengetahui bahwa tiap negara juga memiliki prioritas sendiri untuk orang-orang yang bisa melakukan tes. Sebab menurut banyak pihak, tidak semua orang perlu diuji untuk COVID-19. Seperti pada kebijakan beberapa negara, mereka yang tidak perlu melakukannya misalnya orang-orang yang tidak memiliki gejala sama sekali atau hanya menunjukkan gejala yang ringan dan bisa pulih di rumah.
Tes Diagnosis Virus Corona di Indonesia
Di Indonesia sendiri, pemerintah dalam waktu dekat akan menambah jenis tes pemeriksaan virus corona COVID-19. Pemerintah akan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM), yakni jenis tes yang sebelumya biasa digunakan untuk pasien penyakit tuberkulosis (TB). Tes ini menambah pemeriksaan yang selama ini sudah digunakan, yaitu polymerase chain reaction (PCR) dan tapid test.
Juru bicara untuk penanganan virus corona di Indonesia, Achmad Yurianto juga telah mengonfirmasi hal ini dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Rabu (1/4). Dalam waktu dekat ini, mesin pemeriksaan TCM segera digunakan yang mana selama ini sudah tergelar di lebih 132 rumah sakit. Kemudian di beberapa puskesmas yang terpilih, akan diusahakan untuk dikonversi agar mampu melaksanakan pemeriksaan COVID-19. 
TCM, PCR, dan Rapid Test
Jadi sejauh ini pemerintah sudah memiliki tiga jenis pemeriksaan, yakni tes cepat molekuler (TCM), polymerase chain reaction (PCR), dan rapid test. Kenali perbedaan ketiganya berikut:
1. Tes Cepat Molekuler (TCM)
Sebelumnya tes ini digunakan untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TB) dengan berdasarkan pemeriksaan molekuler. Metode pemeriksaan COVID-19 ini menggunakan dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge.
Virus SARS-CoV-2 diidentifikasi pada RNA-nya yang menggunakan cartridge khusus. Hasil tes ini terbilang cukup cepat, karena bisa diketahui hasilnya dalam waktu kurang lebih dua jam. Kamu bisa melakukan pemeriksaan TCM ini di 132 rumah sakit dan beberapa puskesmas yang ditunjuk. 
2. Polymerase Chain Reaction (PCR)
Jenis pemeriksaan untuk mendeteksi COVID-19 ini akan menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan. Dua lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus akan menggandakan dirinya. Namun, beberapa sampel seperti sampel cairan dari saluran pernapasan bawah; atau mengambil sampel tinja juga bisa jadi pilihan untuk tes ini. Virus yang aktif akan memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA.
Nah, pada virus corona, material genetik tersebut adalah RNA. Material ini yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi. Berbeda dengan TCM, metode pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya karena melalui dua kali proses yaitu, ekstraksi dan amplifikasi.
3. Rapid Test
Berbeda dengan dua jenis pemeriksaan di atas, pemeriksaan rapid test menggunakan sampel darah untuk diuji. Darah digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin, yakni antibodi yang terbentuk saat tubuh mengalami infeksi. Rapid test bisa dilakukan di mana saja dan waktu untuk melakukannya juga singkat, yakni hanya 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya.
Namun, tes ini memiliki kelemahan, karena bisa menghasilkan 'false negative' atau kondisi saat hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Biasanya, hal ini terjadi saat tes dilakukan kurang dari 7 hari setelah infeksi.
Itulah beberapa jenis tes untuk mendeteksi COVID-19 yang dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia. Nah, jika suatu hari kamu mengalami gejala seperti batuk, pilek, atau radang tenggorokan, segera pastikan bahwa sakitmu ini bukan karena COVID-19.
Jika kamu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap COVID-19, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter.(halodoc.com/bangun banua)
SEMENJAK kemunculannya pertama kali di kota Wuhan, Tiongkok, virus corona terbaru, SARS-CoV-2, yang menjadi penyebab COVID-19, hingga kini terus menyebabkan banyak orang terinfeksi di 181 negara dari seluruh belahan dunia. Para ahli masih berjuang untuk menemukan pengobatan terbaik untuk mengatasi virus ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga-lembaga yang berwenang terus mengimbau agar semua orang untuk lebih waspada akan penyebaran virus yang cukup masif ini. Tiap masing-masing individu mesti menerapkan langkah pencegahan virus corona mulai dari diri sendiri. Sementara itu, bagaimana perkembangan COVID-19 selama satu pekan terakhir di Indonesia?
Penambahan Pasien Selama Satu Pekan Terakhir
Sejak diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pertama kali pada (2/3/2020) lalu, hingga kini pasien terus bertambah setiap harinya. Dari awalnya hanya dua pasien, yang kini juga sudah sembuh, para ahli memperkirakan korban masih akan terus bertambah, yaitu:  
• Senin (16/3): 17 kasus.
• Selasa (17/3): 38 kasus.
• Rabu (18/3): 55 kasus.
• Kamis (19/3): 82 kasus.
• Jumat (20/3): 60 kasus.
• Sabtu (21/3): 81 kasus.
• Minggu (22/3): 64 kasus.
• Senin (23/3): 65 kasus.
• Selasa (24/3): 107 kasus.
• Rabu (25/3:) 105 kasus.
• Kamis (26/3): 103 kasus.
• Jumat (27/3): 153 kasus.
• Sabtu (28/3): 109 kasus.
• Minggu (29/3): 130 kasus. 
• Senin (30/3): 129 kasus.
• Selasa (31/3): 114 kasus.
• Rabu (1/4): 149 kasus.
• Kamis (2/4): 113 kasus.
Secara total, jumlah pasien positif virus corona di Indonesia per hari Jumat siang (3/4/2020) pukul 12.00 WIB mencapai 1.790 orang. 
Penetapan Status Pembatasan Sosial Berskala Besar
Sementara itu, dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, Presiden Joko Widodo telah menetapkan status kedaruratan kesehatan. Kebijakan yang diambil bukan lockdown, pemerintah akhirnya mengambil opsi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Melalui konferensi pers yang dilakukan pada Selasa (31/3), Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keppres Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat untuk melaksanakan amanat Undang-Undang tersebut. 
Status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 tahun 2020 yang berisi tujuh pasal.
Nah, berikut di adalah beberapa poin-poin penting tersebut. yaitu:
• Kewenangan Pusat dan Daerah
Pada pasal dua tertulis bahwa pemerintah daerah bisa melakukan PSBB atau pembatasan terhadap pergerakan orang dan barang untuk satu provinsi atau kabupaten/kota. Namun, pelaksanaan status itu harus diusulkan oleh gubernur/bupati/walikota terlebih dulu kepada menteri kesehatan. Sementara itu dalam pasal enam juga tertulis bahwa menteri kesehatan yang menetapkan status itu dengan memperhatikan pertimbangan Ketua Pelaksana Gugus Tugas COVID-19. Ketua Gugus Tugas juga bisa mengusulkan PSBB di wilayah tertentu kepada menteri kesehatan. Jika menteri menyetujui usulan tersebut, kepala daerah di wilayah tertentu wajib melaksanakan status PPSB.
• Kriteria PSBB
Dasar keputusan pemerintah dalam menetapkan status PSBB adalah pertimbangan epidemiologis, besarnya ancaman, efektivitas, isu politik, ekonomi, dan lainnya. Pasal berikutnya juga menyebutkan status pembatasan sosial skala berskala besar harus memenuhi dua kriteria. Pertama, jumlah kasus kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan. Kemudian, terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah lain. 
• Ada Beberapa Kegiatan yang Dilarang
Ada aturan mengenai beberapa kegiatan yang diliburkan atau dibatasi, seperti meliburkan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Pembatasan kegiatan ini juga dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pendidikan, produktivitas kerja, dan ibadah penduduk. Selain itu, pemerintah harus memerhatikan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk, seperti kebutuhan pelayanan kesehatan, kebutuhan pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari lainnya.(halodoc.com/bangun banua)
 

Saat pencegahan penularan virus Corona makin meluas dimana pegawai dan anak sekolah mulai bekerja dan belajar di rumah, adalah kesempatan memanjakan keluarga dengan masakan rumah yang lebih bersih dan bernutrisi. Untuk itu, belanja bahan segar banyak cara bisa dilakukan. Bisa melalui aplikasi belanja sayur online, atau ke supermarket dan pasar tradisional. Lantas, apakah ke pasar tradisional tetap aman dan nyaman dengan adanya virus corona? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memutuskan untuk berbelanja ke pasar.

Pastikan seluruh area pasar dan pedagang kaki lima bersih dengan melakukan pembersihan di area pasar dan area pedagang kaki lima dari sampah dan membersihkan lantai, pegangan tangga, pegangan pintu/rolling door, toilet, kios/los, meja pedagang, tempat penyimpanan uang, gudang atau tempat penyimpanan, tempat parker dan mesin parkir dengan desinfektan (cairan pembersih) secara berkala minimal 3 kali sehari.

Menyediakan sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir dan sabun atau menyediakan hand sanitizer di setiap pintu masuk dan tempat lain yang mudah diakses. Juga menyediakan Pos Pelayanan Kesehatan di pasar.

Tidak menjual-belikan hewan hidup dan makanan siap saji yang setengah matang (tidak matang sempurna). Dimana pedagang juga harus menggunakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan, celemek dan khusus untuk penjual makanan siap saji menggunakan penutup kepala).

Yang tak kalah penting, memasang pesan-pesan kesehatan (cara cuci tangan yang benar, cara mencegah penularan COVID-19 dan etika batuk/bersin) di tempat-tempat strategis seperti di pintu masuk pasar, area pedagang atau tempat lain yang mudah diakses. Pengelola pasar atau pedagang kaki lima harus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat secara berkala. (bangun banua)

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru hingga kini masih belum tampak akan membaik dalam waktu dekat. Hingga Rabu (1/4/2020), tercatat sebanyak 858.785 kasus dari 180 negara di seluruh dunia dengan jumlah kematian sebanyak 42.332. Di Indonesia, jumlah kasus sudah mencapai 1.528 orang dengan jumlah kematian sebanyak 136 orang.
Salah satu alasan kasus sulit dikendalikan karena adanya silent carrier, yakni para pengidap COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala. Akibat tidak memiliki gejala, ia merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal, mereka sangat mungkin untuk menularkan virus corona kepada orang-orang di sekitarnya tanpa dapat dikendalikan.
Satu dari Tiga Orang yang Positif Bisa Jadi Silent Carrier
Menurut data pemerintah Tiongkok yang diklasifikasikan dan dilihat oleh South China Morning Post, jumlah silent carrier bisa sepertiga dari mereka yang dites positif. Hal ini semakin memperumit strategi yang digunakan oleh negara-negara untuk mengendalikan COVID-19. 
Data ini juga telah dikonfirmasi para peneliti Jepang, yang dipimpin oleh Hiroshi Nishiura, ahli epidemiologi dari Universitas Hokkaido. Di antara pasien Jepang yang dievakuasi dari Wuhan tempat wabah bermula, sebanyak 30,8 persen pengidap COVID-19 tidak menunjukkan gejala.
Pada akhir Februari, lebih dari 43.000 orang di Tiongkok positif COVID-19 namun tidak memiliki gejala langsung, suatu kondisi yang biasanya dikenal sebagai asimtomatik.  Mereka akhirnya ditempatkan di karantina dan dipantau, tetapi tidak dimasukkan dalam penghitungan resmi kasus yang dikonfirmasi.
Cara Menghitung Kasus Tiap Negara Juga Berbeda
Salah satu kendala dalam pengendalian virus ini adalah perbedaan cara negara-negara dalam menghitung kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan semua orang yang dites positif sebagai kasus terkonfirmasi terlepas dari apakah mereka mengalami gejala dan Korea Selatan melakukan ini. Namun, pemerintah Tiongkok mengubah pedoman klasifikasi pada 7 Februari, hanya menghitung pasien dengan gejala sebagai kasus yang dikonfirmasi. Amerika Serikat, Inggris, dan Italia juga tidak menguji orang tanpa gejala, selain dari pekerja medis yang telah lama terpapar virus.
Pendekatan yang diambil oleh Tiongkok dan Korea Selatan dalam menguji siapa pun yang melakukan kontak dekat dengan seorang pasien terlepas apakah mereka memiliki gejala, dapat menjelaskan mengapa kedua negara Asia ini tampaknya telah berhasil menekan laju pertambahan kasus.
Di Hong Kong, pengujian diperluas bahkan hingga ke pintu kedatangan di bandara, bahkan jika pelancong tidak memiliki gejala. Sementara itu di sebagian besar negara Eropa dan AS, mereka yang memiliki gejala saja yang akan dites, dan jumlah infeksi tercatat terus meningkat dengan cepat.
Semakin banyak penelitian sekarang yang mempertanyakan pernyataan WHO sebelumnya bahwa penularan tanpa gejala adalah “sangat jarang”. Sebuah laporan oleh misi internasional WHO setelah perjalanan ke Tiongkok memperkirakan bahwa infeksi tanpa gejala menyumbang 1 hingga 3 persen dari kasus, menurut surat kabar Uni Eropa.
Para ilmuwan belum sepenuhnya menyetujui peran penularan oleh pasien asimtomatik dalam menyebarkan virus corona. Sebab kebanyakan pasien biasanya mengalami gejala dalam lima hari, meskipun periode inkubasi dapat selama tiga minggu dalam beberapa kasus yang jarang terjadi.
Jika kamu mencurigai gejala penyakit yang belakangan kamu alami, atau sulit membedakan antara infeksi COVID-19 dengan flu biasa sebaiknya segera buka fitur chat di Halodoc untuk menanyakannya pada dokter. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit. 
Physical Distancing dan Karantina Diri Wajib Dilakukan
Cara mencegah penyebaran COVID-19 yang semakin luas, maka semua direkomendasikan untuk melakukan physical distancing dan melakukan karantina. Terlebih bagi mereka yang pernah melakukan kontak dengan pasien positif, mengunjungi negara terinfeksi, atau mengunjungi rumah sakit perawatan COVID-19. Tujuannya agar tingkat infeksi bisa segera menurun dan lebih mudah untuk dikendalikan.
Physical distancing juga menjadi langkah selanjutnya yang perlu diterapkan. Sebelumnya frasa ini menggunakan kata social distancing, yang berarti menjaga jarak agar tidak melakukan tindakan seperti berjabat tangan, dan menjaga jarak setidaknya satu meter saat berinteraksi dengan orang lain. Frasa ini diubah menjadi physical distancing oleh WHO, yang diharapkan masyarakat global hanya menjaga jarak fisik. Sementara kontak sosial dengan keluarga atau orang lainnya tetap berlanjut dengan bantuan smartphone dan teknologi yang ada sekarang. 
Karantina diri juga dapat dilakukan selama 14 hari. Dua minggu dikatakan cukup untuk mengetahui apakah seseorang akan menjadi sakit dan menular ke orang lain. Menurut WHO, karantina direkomendasikan untuk mereka yang diyakini telah terpapar penyakit menular seperti COVID-19, tetapi tidak bergejala.
Selama melakukan physical distancing dan karantina diri, sebaiknya kamu tetap menuruti anjuran pemerintah. Kamu bersama-sama harus mengikuti arahan dari kementerian kesehatan atau lembaga berwenang lainnya demi menekan penyebaran virus corona yang telah menjadi pandemi global ini. (halodoc.com/bangun banua)

Tanjung Redeb –

Gencarnya penyemprotan disinfektan dan pembuatan bilik disinfeksi oleh masyarakat Berau, tidak bisa serta merta digunakan begitu saja. Pasalnya, untuk disinfeksi sendiri efektif jika disemprotkan ke benda mati, bukan pada manusia secara langsung. Bahkan, sesuai dengan rilis Dinkes Berau, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bilik disinfeksi.

Disinfeksi dilakukan di lingkungan atau area sarana dan prasaran, benda mati yangs ering disentuh atau dipegang, bukan pada orang atau manusia. Tidak disarankan penggunaan disinfektan pada manusia atau orang baik melalui bilik disinfeksi, semprotan dan alat lainnya karena dapat menimbulkan dampak yang sangat membahayakan kesehatan seperti alergi, iritasi kulit, selaput lendir dan terhirup serta dampak kumulatif lainnya.

Panduan tentang bilik disinfeksi untuk pencegahan Covid-19 sampai saat ini belum ada dari Kementerian Kesehatan RI sehingga tidak direkomendasikan. Dan penggunaan disinfektan secara berlebihan serta tidak sesuai aturan dapat membahayakan kesehatan sehingga harus mengikuti aturan penggunaan atau pemakaian yang tercantum pada label atau brosur. (bangun banua)