Helda

Helda

CARA untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak, terdapat beberapa jenis tes yang bisa dilakukan. Hampir semua negara kini memiliki caranya masing-masing untuk melakukan tes ini dan beberapa tes banyak yang tengah dikembangkan produsen komersial.
Sebelum melakukan tes, penting untuk mengetahui bahwa tiap negara juga memiliki prioritas sendiri untuk orang-orang yang bisa melakukan tes. Sebab menurut banyak pihak, tidak semua orang perlu diuji untuk COVID-19. Seperti pada kebijakan beberapa negara, mereka yang tidak perlu melakukannya misalnya orang-orang yang tidak memiliki gejala sama sekali atau hanya menunjukkan gejala yang ringan dan bisa pulih di rumah.
Tes Diagnosis Virus Corona di Indonesia
Di Indonesia sendiri, pemerintah dalam waktu dekat akan menambah jenis tes pemeriksaan virus corona COVID-19. Pemerintah akan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM), yakni jenis tes yang sebelumya biasa digunakan untuk pasien penyakit tuberkulosis (TB). Tes ini menambah pemeriksaan yang selama ini sudah digunakan, yaitu polymerase chain reaction (PCR) dan tapid test.
Juru bicara untuk penanganan virus corona di Indonesia, Achmad Yurianto juga telah mengonfirmasi hal ini dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Rabu (1/4). Dalam waktu dekat ini, mesin pemeriksaan TCM segera digunakan yang mana selama ini sudah tergelar di lebih 132 rumah sakit. Kemudian di beberapa puskesmas yang terpilih, akan diusahakan untuk dikonversi agar mampu melaksanakan pemeriksaan COVID-19. 
TCM, PCR, dan Rapid Test
Jadi sejauh ini pemerintah sudah memiliki tiga jenis pemeriksaan, yakni tes cepat molekuler (TCM), polymerase chain reaction (PCR), dan rapid test. Kenali perbedaan ketiganya berikut:
1. Tes Cepat Molekuler (TCM)
Sebelumnya tes ini digunakan untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TB) dengan berdasarkan pemeriksaan molekuler. Metode pemeriksaan COVID-19 ini menggunakan dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge.
Virus SARS-CoV-2 diidentifikasi pada RNA-nya yang menggunakan cartridge khusus. Hasil tes ini terbilang cukup cepat, karena bisa diketahui hasilnya dalam waktu kurang lebih dua jam. Kamu bisa melakukan pemeriksaan TCM ini di 132 rumah sakit dan beberapa puskesmas yang ditunjuk. 
2. Polymerase Chain Reaction (PCR)
Jenis pemeriksaan untuk mendeteksi COVID-19 ini akan menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan. Dua lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus akan menggandakan dirinya. Namun, beberapa sampel seperti sampel cairan dari saluran pernapasan bawah; atau mengambil sampel tinja juga bisa jadi pilihan untuk tes ini. Virus yang aktif akan memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA.
Nah, pada virus corona, material genetik tersebut adalah RNA. Material ini yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi. Berbeda dengan TCM, metode pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya karena melalui dua kali proses yaitu, ekstraksi dan amplifikasi.
3. Rapid Test
Berbeda dengan dua jenis pemeriksaan di atas, pemeriksaan rapid test menggunakan sampel darah untuk diuji. Darah digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin, yakni antibodi yang terbentuk saat tubuh mengalami infeksi. Rapid test bisa dilakukan di mana saja dan waktu untuk melakukannya juga singkat, yakni hanya 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya.
Namun, tes ini memiliki kelemahan, karena bisa menghasilkan 'false negative' atau kondisi saat hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Biasanya, hal ini terjadi saat tes dilakukan kurang dari 7 hari setelah infeksi.
Itulah beberapa jenis tes untuk mendeteksi COVID-19 yang dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia. Nah, jika suatu hari kamu mengalami gejala seperti batuk, pilek, atau radang tenggorokan, segera pastikan bahwa sakitmu ini bukan karena COVID-19.
Jika kamu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap COVID-19, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter.(halodoc.com/bangun banua)
SEMENJAK kemunculannya pertama kali di kota Wuhan, Tiongkok, virus corona terbaru, SARS-CoV-2, yang menjadi penyebab COVID-19, hingga kini terus menyebabkan banyak orang terinfeksi di 181 negara dari seluruh belahan dunia. Para ahli masih berjuang untuk menemukan pengobatan terbaik untuk mengatasi virus ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga-lembaga yang berwenang terus mengimbau agar semua orang untuk lebih waspada akan penyebaran virus yang cukup masif ini. Tiap masing-masing individu mesti menerapkan langkah pencegahan virus corona mulai dari diri sendiri. Sementara itu, bagaimana perkembangan COVID-19 selama satu pekan terakhir di Indonesia?
Penambahan Pasien Selama Satu Pekan Terakhir
Sejak diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pertama kali pada (2/3/2020) lalu, hingga kini pasien terus bertambah setiap harinya. Dari awalnya hanya dua pasien, yang kini juga sudah sembuh, para ahli memperkirakan korban masih akan terus bertambah, yaitu:  
• Senin (16/3): 17 kasus.
• Selasa (17/3): 38 kasus.
• Rabu (18/3): 55 kasus.
• Kamis (19/3): 82 kasus.
• Jumat (20/3): 60 kasus.
• Sabtu (21/3): 81 kasus.
• Minggu (22/3): 64 kasus.
• Senin (23/3): 65 kasus.
• Selasa (24/3): 107 kasus.
• Rabu (25/3:) 105 kasus.
• Kamis (26/3): 103 kasus.
• Jumat (27/3): 153 kasus.
• Sabtu (28/3): 109 kasus.
• Minggu (29/3): 130 kasus. 
• Senin (30/3): 129 kasus.
• Selasa (31/3): 114 kasus.
• Rabu (1/4): 149 kasus.
• Kamis (2/4): 113 kasus.
Secara total, jumlah pasien positif virus corona di Indonesia per hari Jumat siang (3/4/2020) pukul 12.00 WIB mencapai 1.790 orang. 
Penetapan Status Pembatasan Sosial Berskala Besar
Sementara itu, dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, Presiden Joko Widodo telah menetapkan status kedaruratan kesehatan. Kebijakan yang diambil bukan lockdown, pemerintah akhirnya mengambil opsi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Melalui konferensi pers yang dilakukan pada Selasa (31/3), Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keppres Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat untuk melaksanakan amanat Undang-Undang tersebut. 
Status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 tahun 2020 yang berisi tujuh pasal.
Nah, berikut di adalah beberapa poin-poin penting tersebut. yaitu:
• Kewenangan Pusat dan Daerah
Pada pasal dua tertulis bahwa pemerintah daerah bisa melakukan PSBB atau pembatasan terhadap pergerakan orang dan barang untuk satu provinsi atau kabupaten/kota. Namun, pelaksanaan status itu harus diusulkan oleh gubernur/bupati/walikota terlebih dulu kepada menteri kesehatan. Sementara itu dalam pasal enam juga tertulis bahwa menteri kesehatan yang menetapkan status itu dengan memperhatikan pertimbangan Ketua Pelaksana Gugus Tugas COVID-19. Ketua Gugus Tugas juga bisa mengusulkan PSBB di wilayah tertentu kepada menteri kesehatan. Jika menteri menyetujui usulan tersebut, kepala daerah di wilayah tertentu wajib melaksanakan status PPSB.
• Kriteria PSBB
Dasar keputusan pemerintah dalam menetapkan status PSBB adalah pertimbangan epidemiologis, besarnya ancaman, efektivitas, isu politik, ekonomi, dan lainnya. Pasal berikutnya juga menyebutkan status pembatasan sosial skala berskala besar harus memenuhi dua kriteria. Pertama, jumlah kasus kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan. Kemudian, terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah lain. 
• Ada Beberapa Kegiatan yang Dilarang
Ada aturan mengenai beberapa kegiatan yang diliburkan atau dibatasi, seperti meliburkan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Pembatasan kegiatan ini juga dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pendidikan, produktivitas kerja, dan ibadah penduduk. Selain itu, pemerintah harus memerhatikan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk, seperti kebutuhan pelayanan kesehatan, kebutuhan pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari lainnya.(halodoc.com/bangun banua)
 

Saat pencegahan penularan virus Corona makin meluas dimana pegawai dan anak sekolah mulai bekerja dan belajar di rumah, adalah kesempatan memanjakan keluarga dengan masakan rumah yang lebih bersih dan bernutrisi. Untuk itu, belanja bahan segar banyak cara bisa dilakukan. Bisa melalui aplikasi belanja sayur online, atau ke supermarket dan pasar tradisional. Lantas, apakah ke pasar tradisional tetap aman dan nyaman dengan adanya virus corona? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memutuskan untuk berbelanja ke pasar.

Pastikan seluruh area pasar dan pedagang kaki lima bersih dengan melakukan pembersihan di area pasar dan area pedagang kaki lima dari sampah dan membersihkan lantai, pegangan tangga, pegangan pintu/rolling door, toilet, kios/los, meja pedagang, tempat penyimpanan uang, gudang atau tempat penyimpanan, tempat parker dan mesin parkir dengan desinfektan (cairan pembersih) secara berkala minimal 3 kali sehari.

Menyediakan sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir dan sabun atau menyediakan hand sanitizer di setiap pintu masuk dan tempat lain yang mudah diakses. Juga menyediakan Pos Pelayanan Kesehatan di pasar.

Tidak menjual-belikan hewan hidup dan makanan siap saji yang setengah matang (tidak matang sempurna). Dimana pedagang juga harus menggunakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan, celemek dan khusus untuk penjual makanan siap saji menggunakan penutup kepala).

Yang tak kalah penting, memasang pesan-pesan kesehatan (cara cuci tangan yang benar, cara mencegah penularan COVID-19 dan etika batuk/bersin) di tempat-tempat strategis seperti di pintu masuk pasar, area pedagang atau tempat lain yang mudah diakses. Pengelola pasar atau pedagang kaki lima harus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat secara berkala. (bangun banua)

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru hingga kini masih belum tampak akan membaik dalam waktu dekat. Hingga Rabu (1/4/2020), tercatat sebanyak 858.785 kasus dari 180 negara di seluruh dunia dengan jumlah kematian sebanyak 42.332. Di Indonesia, jumlah kasus sudah mencapai 1.528 orang dengan jumlah kematian sebanyak 136 orang.
Salah satu alasan kasus sulit dikendalikan karena adanya silent carrier, yakni para pengidap COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala. Akibat tidak memiliki gejala, ia merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal, mereka sangat mungkin untuk menularkan virus corona kepada orang-orang di sekitarnya tanpa dapat dikendalikan.
Satu dari Tiga Orang yang Positif Bisa Jadi Silent Carrier
Menurut data pemerintah Tiongkok yang diklasifikasikan dan dilihat oleh South China Morning Post, jumlah silent carrier bisa sepertiga dari mereka yang dites positif. Hal ini semakin memperumit strategi yang digunakan oleh negara-negara untuk mengendalikan COVID-19. 
Data ini juga telah dikonfirmasi para peneliti Jepang, yang dipimpin oleh Hiroshi Nishiura, ahli epidemiologi dari Universitas Hokkaido. Di antara pasien Jepang yang dievakuasi dari Wuhan tempat wabah bermula, sebanyak 30,8 persen pengidap COVID-19 tidak menunjukkan gejala.
Pada akhir Februari, lebih dari 43.000 orang di Tiongkok positif COVID-19 namun tidak memiliki gejala langsung, suatu kondisi yang biasanya dikenal sebagai asimtomatik.  Mereka akhirnya ditempatkan di karantina dan dipantau, tetapi tidak dimasukkan dalam penghitungan resmi kasus yang dikonfirmasi.
Cara Menghitung Kasus Tiap Negara Juga Berbeda
Salah satu kendala dalam pengendalian virus ini adalah perbedaan cara negara-negara dalam menghitung kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan semua orang yang dites positif sebagai kasus terkonfirmasi terlepas dari apakah mereka mengalami gejala dan Korea Selatan melakukan ini. Namun, pemerintah Tiongkok mengubah pedoman klasifikasi pada 7 Februari, hanya menghitung pasien dengan gejala sebagai kasus yang dikonfirmasi. Amerika Serikat, Inggris, dan Italia juga tidak menguji orang tanpa gejala, selain dari pekerja medis yang telah lama terpapar virus.
Pendekatan yang diambil oleh Tiongkok dan Korea Selatan dalam menguji siapa pun yang melakukan kontak dekat dengan seorang pasien terlepas apakah mereka memiliki gejala, dapat menjelaskan mengapa kedua negara Asia ini tampaknya telah berhasil menekan laju pertambahan kasus.
Di Hong Kong, pengujian diperluas bahkan hingga ke pintu kedatangan di bandara, bahkan jika pelancong tidak memiliki gejala. Sementara itu di sebagian besar negara Eropa dan AS, mereka yang memiliki gejala saja yang akan dites, dan jumlah infeksi tercatat terus meningkat dengan cepat.
Semakin banyak penelitian sekarang yang mempertanyakan pernyataan WHO sebelumnya bahwa penularan tanpa gejala adalah “sangat jarang”. Sebuah laporan oleh misi internasional WHO setelah perjalanan ke Tiongkok memperkirakan bahwa infeksi tanpa gejala menyumbang 1 hingga 3 persen dari kasus, menurut surat kabar Uni Eropa.
Para ilmuwan belum sepenuhnya menyetujui peran penularan oleh pasien asimtomatik dalam menyebarkan virus corona. Sebab kebanyakan pasien biasanya mengalami gejala dalam lima hari, meskipun periode inkubasi dapat selama tiga minggu dalam beberapa kasus yang jarang terjadi.
Jika kamu mencurigai gejala penyakit yang belakangan kamu alami, atau sulit membedakan antara infeksi COVID-19 dengan flu biasa sebaiknya segera buka fitur chat di Halodoc untuk menanyakannya pada dokter. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit. 
Physical Distancing dan Karantina Diri Wajib Dilakukan
Cara mencegah penyebaran COVID-19 yang semakin luas, maka semua direkomendasikan untuk melakukan physical distancing dan melakukan karantina. Terlebih bagi mereka yang pernah melakukan kontak dengan pasien positif, mengunjungi negara terinfeksi, atau mengunjungi rumah sakit perawatan COVID-19. Tujuannya agar tingkat infeksi bisa segera menurun dan lebih mudah untuk dikendalikan.
Physical distancing juga menjadi langkah selanjutnya yang perlu diterapkan. Sebelumnya frasa ini menggunakan kata social distancing, yang berarti menjaga jarak agar tidak melakukan tindakan seperti berjabat tangan, dan menjaga jarak setidaknya satu meter saat berinteraksi dengan orang lain. Frasa ini diubah menjadi physical distancing oleh WHO, yang diharapkan masyarakat global hanya menjaga jarak fisik. Sementara kontak sosial dengan keluarga atau orang lainnya tetap berlanjut dengan bantuan smartphone dan teknologi yang ada sekarang. 
Karantina diri juga dapat dilakukan selama 14 hari. Dua minggu dikatakan cukup untuk mengetahui apakah seseorang akan menjadi sakit dan menular ke orang lain. Menurut WHO, karantina direkomendasikan untuk mereka yang diyakini telah terpapar penyakit menular seperti COVID-19, tetapi tidak bergejala.
Selama melakukan physical distancing dan karantina diri, sebaiknya kamu tetap menuruti anjuran pemerintah. Kamu bersama-sama harus mengikuti arahan dari kementerian kesehatan atau lembaga berwenang lainnya demi menekan penyebaran virus corona yang telah menjadi pandemi global ini. (halodoc.com/bangun banua)

Tanjung Redeb –

Gencarnya penyemprotan disinfektan dan pembuatan bilik disinfeksi oleh masyarakat Berau, tidak bisa serta merta digunakan begitu saja. Pasalnya, untuk disinfeksi sendiri efektif jika disemprotkan ke benda mati, bukan pada manusia secara langsung. Bahkan, sesuai dengan rilis Dinkes Berau, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bilik disinfeksi.

Disinfeksi dilakukan di lingkungan atau area sarana dan prasaran, benda mati yangs ering disentuh atau dipegang, bukan pada orang atau manusia. Tidak disarankan penggunaan disinfektan pada manusia atau orang baik melalui bilik disinfeksi, semprotan dan alat lainnya karena dapat menimbulkan dampak yang sangat membahayakan kesehatan seperti alergi, iritasi kulit, selaput lendir dan terhirup serta dampak kumulatif lainnya.

Panduan tentang bilik disinfeksi untuk pencegahan Covid-19 sampai saat ini belum ada dari Kementerian Kesehatan RI sehingga tidak direkomendasikan. Dan penggunaan disinfektan secara berlebihan serta tidak sesuai aturan dapat membahayakan kesehatan sehingga harus mengikuti aturan penggunaan atau pemakaian yang tercantum pada label atau brosur. (bangun banua)

Tanjung Redeb Website Dinkes – 
Pemkab Berau terus melakukan berbagai persiapan. Selain menyiapkan fasilitas di RSUD Abdul Rivai, Pemkab Berau juga mencari alternatif lain, untuk mengantisipasi jika virus ini mewabah.
Salah satunya, rencana menjadikan eks Hotel Cantika Swara di Jl Pulau Panjang, Kecamatan Tanjung Redeb. Hotel ini akan dijadikan tempat karantina warga yang dicurigai terinfeksi virus corona.
Sekretaris Daerah, Muhammad Gazali bersama Kadis Kesehatan Berau, Iswahyudi meninjau eks Hotel Cantika Swara yang akan dijadikan tempat karantina.
Eks Hotel Cantika Swara rencananya akan dijadikan lokasi karantina jika terjadi lonjakan infeksi virus corona.
Menurutnya, bekas hotel ini memiliki 60 kamar dengan kondisi yang masih layak digunakan. Apalagi, hotel ini juga memiliki pagar keliling untuk membatasi aktivitas keluar masuk area karantina atau isolasi ini.
Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi mengatakan, rencananya eks Hotel Cantika ini akan digunakan untuk karantina warga yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP).
“Untuk orang yang berstatus ODP rencananya akan disiapkan 10 kamar, setiap kamar terdiri dari dua pasien,” ungkapnya.
“Sedangkan untuk yang Pasien Dalam Pengawasan (PDP)  tetap dirawat di rumah sakit karena memerlukan ruang ICU dan perawatan intensif,” jelasnya.
Sekda Berau Muhammad Gazali mengatakan, kapasitas ruangan rumah sakit yang ada saat ini tidak dapat menampung jika terjadi lonjakan pasien.
Mempersiapkan bangunan bekas hotel ini merupakan langkah antisipasi, jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan ODP dan PDP.
“Ini sebagai langkah antisipasi jika terjadi lonjakan wabah virus corona, segala sesuatu harus kita persiapkan,” tegasnya. (bangun banua)
Tanjung Redeb Wesite Dinkes-
Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Kabupaten Berau memaksimalkan pengawasan  terhadap pelintas batas  masuk lewat darat dan laut  dalam rangka antisipasi mewabahnya pandemi  virus corona (COVID-19) di Kabupaten Berau.
Sekretaris Daerah Berau,  Muhammad Gazali sebagai Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 menjelaskan ada 10 titik posko di darat untuk memeriksa suhu badan  orang yang masuk dari Bulungan (Kaltara) dan dari Kutai Timur. Ada Posko yang digeser ke Merapun dan di Makassang.
“Posko itu digeser letaknya agar dapat penerangan listrik, tidak terlalu dekat dengan permukiman, dan jarak antar pokso tidak terlalu berdekatan,” kata Gazali, Senin (30/3/2020).
Dijelaskan pula, di wilayah kecamatan pesisir seperti Biduk-Biduk, Batu Putih, Posko siaga penuh selama 24 jam, petugas berjaga bergantian setiap  8 jam  memantau  orang masuk  lewat dari Sangkulirang (Kutim) dan lewat laut  melalui Teluk Sulaiman.
Sepuluh Posko yang ada tersebar  di Kecamatan Biduk-biduk, Batu Putih, Biatan, Tanjung Batu, Maratua, Pulau Derawan, Dermaga Wisata, Pelabuhan Barang Teratai, Perbatasan Kutim-Berau dan Perbatasan Berau-Bulungan.
“Saya ucapkan terima kasih peran serta kecamatan yang telah sama-sama ikut melakukan pengawasan ini,”ungkapnya.
Gazali juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh personil Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19  yang telah bekerja semaksimal mungkin melakukan pengawasan secara detail dan meminta seluruh personil dapat menjaga kesehatan dan tidak lupa memproteksi diri.
“Petugas dilapangan  berhadapan langsung kesejumlah pendatang ketika ingin masuk ke Berau.  Jaga kesehatan, jangan lupa lindungi diri dalam bertugas,” pesannya.(bangun banua)
Dunia kini tengah menghadapi krisis kesehatan masyarakat serius, yang membuat seperlima warga dunia menghabiskan waktu sepenuhnya di dalam rumah untuk mengkarantina diri. Sejak diberlakukannya frasa “physical distancing” dari “social distancing” oleh WHO sejak 20 Maret lalu, gagasan perubahan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman pada masyarakat, jika saat ini bukan saatnya untuk memutus hubungan sosial dengan teman atau keluarga.
Gagasan tersebut dimaksudkan untuk menjaga jarak fisik guna memastikan virus tidak menyebar. WHO juga telah menjelaskan jika menjaga jarak dan mengkarantina diri merupakan bentuk menahan penyebaran dari virus corona. Meski dikarantina, bukan berarti orang-orang tersebut menjadi terisolasi secara sosial. Membangun komunitas dan kebersamaan justru sangat penting di masa seperti ini, guna menjaga kesehatan mental.
Penggunaan frasa physical distancing diharapkan dapat memperjelas imbauan WHO, yaitu menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit tidak menyebar. Apakah hal tersebut jadi keputusan yang lebih baik?
Physical Distancing Dinilai Lebih Penting
Penggunaan frasa “social distancing” dirasa kurang tepat, karena pada dasarnya yang diperlukan adalah menjaga jarak fisik. Virus corona membuat banyak orang khawatir karena cara penyebarannya yang sangat cepat lewat droplet atau percikan air liur pengidap. Virus yang bersarang di saluran pernapasan ini dapat menyebar dalam radius hingga satu setengah meter. Untuk itu, jarak aman untuk physical distancing saat berada di tempat umum adalah dua meter. Kurang dari jarak tersebut seseorang akan berisiko tinggi untuk tertular, apalagi jika mereka tidak memakai masker. 
Social Distancing Tidak Diperlukan
Interaksi sosial melalui perangkat gadget atau cara komunikasi non-fisik lainnya masih sangat diperlukan. Faktanya adalah, bermedia sosial dapat memperluas interaksi sosial di masa seperti sekarang ini, sehingga akan sangat membantu bagi kesehatan mental setiap orang. Mengkarantina diri merupakan tindakan tidak berhubungan secara fisik dengan orang lain, tapi tetap melakukan interaksi sosial dengan orang-orang seperti biasa.
Pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan interaksi sosial. Namun, di tengah wabah mematikan seperti Covid-19 ini, penting bagi setiap orang untuk saling membantu melewati wabah ini, salah satunya adalah dengan physical distancing. Meski demikian, kamu dapat melakukan interaksi sosial berikut ini di rumah, sehingga kegiatan karantina tidak membosankan!
• Video call. Saat mengkarantina diri, otomatis kamu akan merasa sangat bosan jauh dari keluarga. Jangan sungkan untuk menelepon atau video call, karena kemungkinan besar mereka juga tengah merasakan hal yang sama denganmu.
• Conference call. Physical distancing bikin kamu tidak bisa nongkrong bareng kawan-kawan? Coba dengan melakukan conference call bersama. Dengan begitu, kegiatan karantina diri akan lebih mengasikkan.
• Bermain game. Kini banyak aplikasi yang bisa kamu mainkan secara bersamaan dengan orang pilihanmu, coba untuk memainkannya dengan fitur suara, ya! Jadi, kamu tetap merasa bermain dengan orang tersebut di hadapanmu!
• Media sosial. Perlu sangat bijak bermain media sosial di saat seperti ini. Pasalnya, beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan media sosial sebagai ajang menyebarkan hoax.(halodoc.com/bangun banua)

Coronavirus

March 31, 2020
Pengertian Coronavirus
Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya.
Namun, beberapa jenis virus corona juga bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius, seperti:
• Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV).
• Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).
• Pneumonia.
SARS yang muncul pada November 2002 di Tiongkok, menyebar ke beberapa negara lain. Mulai dari Hongkong, Vietnam, Singapura, Indonesia, Malaysia, Inggris, Italia, Swedia, Swiss, Rusia, hingga Amerika Serikat. Epidemi SARS yang berakhir hingga pertengahan 2003 itu menjangkiti 8.098 orang di berbagai negara. Setidaknya 774 orang mesti kehilangan nyawa akibat penyakit infeksi saluran pernapasan berat tersebut. 
Sampai saat ini terdapat tujuh coronavirus (HCoVs) yang telah diidentifikasi, yaitu:
• HCoV-229E.
• HCoV-OC43.
• HCoV-NL63.
• HCoV-HKU1.
• SARS-COV (yang menyebabkan sindrom pernapasan akut).
• MERS-COV (sindrom pernapasan Timur Tengah).
• COVID-19 atau dikenal juga dengan Novel Coronavirus (menyebabkan wabah pneumonia di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019, dan menyebar ke negara lainnya hingga Januari 2020. 
Faktor Risiko Infeksi Coronavirus  
Siapa pun dapat terinfeksi virus corona. Akan tetapi, bayi dan anak kecil, serta orang dengan kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap serangan virus ini. Selain itu, kondisi musim juga mungkin berpengaruh. Contohnya, di Amerika Serikat, infeksi virus corona lebih umum terjadi pada musim gugur dan musim dingin. 
Di samping itu, seseorang yang tinggal atau berkunjung ke daerah atau negara yang rawan virus corona, juga berisiko terserang penyakit ini. Misalnya, berkunjung ke Tiongkok, khususnya kota Wuhan, yang pernah menjadi wabah COVID-19 yang bermulai pada Desember 2019.
 
Penyebab Infeksi Coronavirus  
Infeksi coronavirus disebabkan oleh virus corona itu sendiri. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umumnya, seperti: 
• Percikan air liur pengidap (batuk dan bersin).
• Menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi.
• Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona. 
• Tinja atau feses (jarang terjadi)
Khusus untuk COVID-19, masa inkubasi belum diketahui secara pasti. Namun, rata-rata gejala yang timbul setelah 2-14 hari setelah virus pertama masuk ke dalam tubuh. Di samping itu, metode transmisi COVID-19 juga belum diketahui dengan pasti. Awalnya, virus corona jenis COVID-19 diduga bersumber dari hewan. Virus corona COVID-19 merupakan virus yang beredar pada beberapa hewan, termasuk unta, kucing, dan kelelawar. 
Sebenarnya virus ini jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia dan menyebar ke individu lainnya. Namun, kasus di Tiongkok kini menjadi bukti nyata kalau virus ini bisa menyebar dari hewan ke manusia. Bahkan, kini penularannya bisa dari manusia ke manusia.  
Gejala Infeksi Coronavirus  
Virus corona bisa menimbulkan beragam gejala pada pengidapnya. Gejala yang muncul ini bergantung pada jenis virus corona yang menyerang, dan seberapa serius infeksi yang terjadi. Berikut beberapa gejala virus corona yang terbilang ringan:
• Hidung beringus.
• Sakit kepala.
• Batuk.
• Sakit tenggorokan.
• Demam.
• Merasa tidak enak badan.
Hal yang perlu ditegaskan, beberapa virus corona dapat menyebabkan gejala yang parah. Infeksinya dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia (disebabkan oleh COVID-19), yang mengakibatkan gejala seperti:
• Demam yang mungkin cukup tinggi bila pasien mengidap pneumonia.
• Batuk dengan lendir.
• Sesak napas.
• Nyeri dada atau sesak saat bernapas dan batuk.
Infeksi bisa semakin parah bila menyerang kelompok individu tertentu. Contohnya, orang dengan penyakit jantung atau paru-paru, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi, dan lansia. 
Diagnosis Infeksi Coronavirus  
Untuk mendiagnosis infeksi virus corona, dokter akan mengawali dengan anamnesis atau wawancara medis. Di sini dokter akan menanyakan seputar gejala atau keluhan yang dialami pasien. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah untuk membantu menegakkan diagnosis.
Dokter mungkin juga akan melakukan tes dahak, mengambil sampel dari tenggorokan, atau spesimen pernapasan lainnya. Untuk kasus yang diduga infeksi novel coronavirus, dokter akan melakukan swab tenggorokan, DPL, fungsi hepar, fungsi ginjal, dan PCT/CRP.
 
Komplikasi Infeksi Coronavirus  
Virus corona yang menyebabkan penyakit SARS bisa menimbulkan komplikasi pneumonia, dan masalah pernapasan parah lainnya bila tak ditangani dengan cepat dan tepat. Selain itu, SARS juga bisa menyebabkan kegagalan pernapasan, gagal jantung, hati, dan kematian.
Hampir sama dengan SARS, novel coronavirus juga bisa menimbulkan komplikasi yang serius. Infeksi virus ini bisa menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. 
 Pengobatan Infeksi Coronavirus  
Tak ada perawatan khusus untuk mengatasi infeksi virus corona. Umumnya pengidap akan pulih dengan sendirinya. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala infeksi virus corona. Contohnya:
• Minum obat yang dijual bebas untuk mengurangi rasa sakit, demam, dan batuk. Namun, jangan berikan aspirin pada anak-anak. Selain itu, jangan berikan obat batuk pada anak di bawah empat tahun.
• Gunakan pelembap ruangan atau mandi air panas untuk membantu meredakan sakit tenggorokan dan batuk.
• Perbanyak istirahat.
• Perbanyak asupan cairan tubuh.
• Jika merasa khawatir dengan gejala yang dialami, segeralah hubungi penyedia layanan kesehatan terdekat.
Khusus untuk virus corona yang menyebabkan penyakit serius, seperti SARS, MERS, atau infeksi novel coronavirus, penanganannya akan disesuaikan dengan penyakit yang diidap dan kondisi pasien. 
Bila pasien mengidap infeksi novel coronavirus, dokter akan merujuk ke RS Rujukan yang telah ditunjuk oleh Dinkes (Dinas Kesehatan) setempat. Bila tidak bisa dirujuk karena beberapa alasan, dokter akan melakukan:
• Isolasi
• Serial foto toraks sesuai indikasi.
• Terapi simptomatik.
• Terapi cairan.
• Ventilator mekanik (bila gagal napas)
• Bila ada disertai infeksi bakteri, dapat diberikan antibiotik.
 
Pencegahan Infeksi Coronavirus 
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus corona. Namun, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjangkit virus ini. Berikut upaya yang bisa dilakukan: 
• Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik hingga bersih.
• Hindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut saat tangan dalam keadaan kotor atau belum dicuci.
• Hindari kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sakit.
• Hindari menyentuh hewan atau unggas liar. 
• Membersihkan dan mensterilkan permukaan benda yang sering digunakan. 
• Tutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk dengan tisu. Kemudian, buanglah tisu dan cuci tangan hingga bersih. 
• Jangan keluar rumah dalam keadaan sakit.
• Kenakan masker dan segera berobat ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala penyakit saluran napas. (halodoc.com/bangun banua)

Dua ribu alat pelindung diri (APD) berupa APD cover all dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pusat telah terbagi habis.

"APD yang kita terima dari pusat sudah didistribusikan ke rumah sakit rujukan dan dinas kesehatan kabupaten dan kota," kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Provinsi Kaltim Andi Muhammad Ishak saat konferensi pers di Media Center Penanganan Covid 19 Kaltim, Kamis (26/3/2020).

Terhitung ada 13 rumah sakit dan empat dinas kesehatan yang menerima APD terdiri Dinas Kesehatan Kaltim 100 pcs, Dinas Kesehatan Kabupaten Mahakam Ulu 50 pcs dan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan 50 pcs.

Selanjutnya, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahrabie Samarinda 300 pcs, RSUD Inche Abdoel Moeis dan RS Tingkat IV Samarinda masing-masing 50 pcs. Berikutnya, RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan 400 pcs, RSUD Beriman Balikpapan 50 pcs dan RS Tingkat II Dr R Hardjanto Balikpapan 100 pcs.

RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong Kutai Kartanegara 150 pcs, RSUD Taman Husada Bontang 150 pcs, RSUD Panglima Sebaya Paser 150 pcs, RSUD  Kudungga Kutai Timur 150 pcs, RSUD Dr Abdul Rivai Berau 200 pcs, RSUD Ratu Aji Putri Botung Penajam Paser Utara 50 pcs dan RSUD Harapan Insani Sendawar Kutai Barat 50 pcs.

Menurut Andi, pendistribusian disesuaikan dengan kondisi kedaruratan dan jumlah pasien yang ditangani masing-masing rumah sakit.

"Sedangkan APD yang diangkut oleh TNI AU itu didistribusikan ke dinas kesehatan baik provinsi màupun kabupaten dan kota sebagai back up, kalau sewaktu-waktu diperlukan rumah sakit di wilayahnya," ungkap Andi.

Andi sangat berharap dukungan dan bantuan pusat berupa APD dan beberapa item APD lainnya mampu meningkatkan semangat kerja para dokter dan tenaga medis dalam penanganan pasien Covid 19. (yans/her/humasprov kaltim/bangun banua)