Helda

Helda

Tanjung Redeb Website Dinkes -
Pada acara Lomba Gado Gado Cegah Stunting dalam rangkaian  Hari Jadi Kota Tua Teluk Bayur ke 108 tahun  di alun alun kecamatan Teluk Bayur Minggu (8/2/2020) Ketua Forum Berau Sehat Hj Sri Juniarsih M Pd kepada seluruh undangan yang hadir, bahwa lomba membuat makanan gado gado ini lebih menekankan kepada masyarakat agar makan dengan pola makanan bergizi.
“Mari kita mencegah stunting  dengan makan makanan bergizi seperti makan ikan, sayur dan buah buahan,” kata Sri Juniarsih.
Dan salah satu fokus dari Pemerintah dan Forum Berau Sehat adalah mencegah stunting sejak dini. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
"Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih",
Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Dalam acara HUT Kota Tua Teluk Bayur, yang di gagas oleh Kecamatan Teluk Bayur bersama Masyarakat, digelar Forum Komunikasi Kecamatan Sehat Teluk Bayur juga melaksanakan deklarasi anti rokok, alkohol dan narkotika. (helda/bangun banua)

Tanjung Redeb -

Mengantisipasi terus menyebar dan beredarnya isu di sosial media tentang virus corona yang ada di Bumi Batiwakkal, DPRD Berau melakukan rapat dengar pendapat gabungan komisi  dengan mengundang Dinas Kesehatan (Dinkes), RSUD Abdul Rivai, dan Bandara Kalimarau. Pertemuan tersebut dipimpin Wakil Ketua I DPRD Berau, Syarifatul Sya'diah. Dalam kesempatan tersebut, Dinkes Berau sebagai ujung tombak telah mengambil beberapa langkah guna mengurangi kekhawatiran masyarakat.

Beberapa hal yang menjadi langkah Dinkes yaitu Dinkes bersama seluruh jajaran termasuk puskesmas-puskesmas, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus Corona. Dinkes selalu meningkatkan koordinasi dengan OPD dalam pencegahan dan penanggulangan COVID-19. Bahkan, tim sudah terbentuk dan sudah berjalan koordinasi dan alur penanganan melalui tim gerak cepat (TGC). Dan Dinkes juga berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas SDM atau petugas kesehatan yang ada.  

Hearing yang digelar pada Selasa (3/3) bertempat di Ruang Rapat Gabungan Komisi pada pukul 14.00 Wita ini sangat penting dilakukan karena kekhawatiran masyarakat Kabupaten Berau yang meningkat setelah adanya 10 warga Kabupaten Berau, yang baru pulang melancong dari lawakan luar negeri. Dari 10 warga yang dirahasiakan identitasnya, satu diantaranya harus menjalani konservasi di ruang isolasi RSUD Abdul Rivai Kabupaten Berau. Sementara 9 warga lainnya dalam pengawasan (TGC) Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang dilaporkan kondisinya makin baik. Informasi adanya warga yang diisolasi tersebut telah terkonfimasi oleh pihak rumah sakit melalui Humas RSUD, Dr Erva Angriana.

Wakil Ketua DPRD Syarifatul Syadiah mengatakan hearing tersebut juga untuk mengetahui lebih lanjut soal adanya pasien suspect virus Corona. Ia juga mengatakan berdasarkan data yang diperoleh dari OPD dan rumah sakit yang melayani pasien kondisinya membaik dan kecil kemungkinan terjangkit Virus Corona atau Covid-19.

"Alhamdulillah pasien suspect itu kondisinya dari hari ke hari semakin membaik artinya kemungkinan kecil sekali dia terinfeksi karena masa inkubasi virus Corona itu 14 hari. InsyaAllah hasilnya negatif dan kita harapkan itu walaupun mesti dibuktikan hasil tes sample yang dikirim ke Litbangkes, dan kita masih menunggu hasilnya," tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, Syarifatul mengaku lega dan meminta warga tak panik juga memberi stigma kepada pasien. Wakil ketua DPRD Berau dari Fraksi Partai Golkar itupun berharap masyarakat tidak terlalu khawatir dengan isu Virus Corona yang sudah masuk di Berau.

"Apalagi memberi stigma kepada pasien dan keluarganya itu sebaiknya jangan, yang terpenting kita lakukan budaya hidup sehat karena dengan tubuh sehat insyaAllah penyakit tak akan masuk tubuh kita," tambahnya.

Soal pengunaan masker, Syarifatul beharap mendahulukan masyarakat yang sakit ketimbang yang masih sehat.

"Agar dapat mencegah penularan penyakit dari yang sakit ke yang tidak sakit," tutupnya. (amel/bangun banua)

Tanjung Redeb Website Dinkes –
Dalam acara pembukaan Pengukuran Kebugaran Jamaah Haji kabupaten Berau Sabtu (7/3/2020) di halaman kanto Dinas Kesehatan jalan Mawar Tanjung Redeb, Bupati Berau H Muharram S Pd MM mengimbau kepada seluruh jamaah haji agar selain menjaga kesehatan fisik juga menjaga kesehatan batin.
“ Yang paling besar adalah menjaga kesehatan batin, hidup bahagia tenang, tidak suka marah marah, tidak suka iri dan dengki,” ungkap Muharram.
Disebutkan bahwa marah yang menyebabkan stres, menurut penelitian orang yang marah satu menit, mengurangi imun tubuh 11 jam kedepan. Sehingganya daya tahan tubuh jadi kurang.  Jauh lebih baik  ketimbang tidak marah.
“Hindari marah, karena yang membuat itu adalah hati. Dalam tubuh manusia itu adalah hati. Sering sering mendengarkan ceramah Aa Gym , management kalbu.” paparnya.
Muharram berterima kasih Dinas Kesehatan  yang melaksanakan program pengukuran kebugaran, “lebih baik bisa mengatasi terlebih dahulu, kedepan melalui dinas kesehatan, puskesmas puskesmas ini tidak saja menerima pasien sakit, tetapi juga menerima yang sehat, untuk berkonsultasi kesehatan.
Paradigma kesehatan kedepan, lebih baik mencegah daripada mengobati.(helda/bangun banua)
Tanjung Redeb Website Dinkes-
Halaman Kantor Dinas Kesehatan, Sabtu (7/3/2020) sejak pukul 5.30 atau tepatnya setelah shalat subuh dipenuhi dengan calon jamaah haji sejumlah 151 orang.
Calhaj ini mengikuti serangkaian kegiatan  diprogramkan oleh Dinkes Berau yakni pengukuran kebugaran jasmani tahap II. Tampak puluhan petugas kesehatan dari baik itu dari Dinkes dan dari 21 Puskesmas dengan peralatannya memeriksa kesehatan calhaj.
Menurut keterangan Kadis Kesehatan Iswahyudi melalui Kepala seksi kesehatan lingkungan kesehatan kerja dan olahraga Suhartini SKM , bahwa pengukuran kebugaran kesehatan jamaah haji dilaksanakan secara terintegrasi.
  
Mengapa ? karena ibadah haji merupakan ibadah dengan kemampuan fisik. Dan upaya pemerintah dalam melakukan persiapan sejak dini agar jemaah dapat mencapai istithaah. Dan persiapan ini dilakukan sejak jauh hari sebelumnya, dilakukan secara terkoordinasi dan terarah.    
Adapun yang dilakukan Sabtu pagi, jamaah melaksanakan latihan fisik dengan berlari dan berjalan kaki, seusai dengan kemampuan. 
Pengukuran atau tes kebugaran dilaksanakan dengan etode rockpot (tes lapangan/jalan untuk mengukur daya tahan jantung dan paru). 
Kegiatan ini diawali dengan pengukuran denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemanasan, peregangan dan diakhiri dengan pengukuran denyut nadi sesudah. Hasilyang dicatat adalah waktu tempuh yang dicapai calhaj. Tampak Sekkab Berau Muhammad Gazali beserta istri Ida Rugayah dan kadishub Abdurahman beserta istri mengikuti pengukuran kebugaran. 
Calhaj juga diperiksa tekanan darah,  gula darah, kolestrol dan purin. Dan jika ada ditemukan , secepatnya berkonsultasi untuk mengatasinya.
Acara pengukuran kebugaran ini dibuka Bupati Berau H Muharam S Pd MM yang sebelumnya diberikan pidato pembuka kepada Dinas Kesehatan Drs H Iswahyudi APT M,Kes. (helda/bangun banua)

Tanjung Redeb –

Meskipun sudah sejak Februari berjalan, pemberian vitamin A untuk bayi dan balita masih diberikan hingga kini di Kabupaten Berau. Terlebih, untuk posyandu yang jaraknya jauh dari pusat kota, terkadang belum bisa memberikan vitamin A secara maksimal kepada masyarakat.

Seperti yang dilakukan puskesmas Sambaliung beberapa waktu lalu saat menjalankan Program Indonesia Sehat (PIS), dimana pendataan dilakukan sekaligus pemberian vitamin A. Bahkan, PKK Berau pun ikut memberikan vitamin A gratis ketika  kunjungan kerja ke beberapa posyandu seperti posyandu semangka di Limunjan.

“Masyarakat yang memiliki bayi dan balita agar dapat berkunjung rutin ke posyandu setiap bulannya. Dan masalah stunting pada anak dapat dicegah dengan selalu memantau pertumbuhan bayi dan balita di posyandu. Di bulan Februari dimana vitamin A diberikan secara gratis, bisa dimanfaatkan sebagai waktu memantau tumbuh kembang anak melalui posyandu,” terang Ketua TP PKK Berau, Sri Juniarsih Maksir.

Ya, selama bulan Februari, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posyandu di seluruh Kabupaten Berau menyediakan vitamin A secara gratis untuk balita berusia 6 - 9 bulan.

Beberapa posyandu yang sudah memberikan vitamin A diantaranya posyandu Tunas Mekar di Sei Bebanir Bangun, posyandu di Inaran, posyandu di Gurimbang, posyandu Mandiri di Kelurahan Bugis, posyandu Anthorium Kelurahan Gayam, posyandu Al Ikhwan Kelurahan Gunung Panjang,

Kesehatan mata sangat penting, maka dengan mendapatkan vitamin A, anak-anak sebagai generasi bangsa memperoleh banyak manfaat. Manfaatnya yaitu dapat meningkatkan kesehatan mata dan mencegah kebutaan, juga meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit seperti penyakit diare, campak, penyakit infeksi lainnya serta kanker. Serta juga untuk memperbaiki tumbuh kembang anak yang optimal.

Selain bayi dan balita yang mendapatkan vitamin A, ibu pun mendapatkan manfaat lain jika rutin membawa buah hatinya ke posyandu yaitu mendapatkan pengetahuan seputar tumbuh kembang anak dan makanan tambahan bergizi. Ibu hamil pun akan mendapatkan tablet tambah darah.(amel/bangun banua)

Syarat Pelunasan dan Penunjang Prosesi Haji

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2020 ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, kembali mengadakan sosialisasi kesehatan haji yang dilaksanakan di Balai Mufakat beberapa waktu lalu. Ini karena selain Istithaah atau kesehatan haji sebagai syarat utama pemberangkatan calon jamaah haji (CJH), hal ini juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji.
Dikatakan Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional (yankestrad) Dinkes Berau, Sitti Zakiah, jika sosialisasi ini bukan hanya semata memberikan informasi kepada CJH yang diundang, melainkan juga kepada masyarakat. Bahwasannya, selain melakukan tes kesehatan, pihak Dinkes juga melakukan pemantauan kesehatan para calhaj secara berkala.
“Kegiatan sosialisasi ini diadakan setiap seminggu sekali. Bukan hanya sekadar informasi yang diberikan tetapi juga melakukan olahraga bersama dengan para calhaj, guna menjaga kondisi mereka agar tetap fit, sampai sebelum keberangkatan. Ini bukan untuk mempersulit atau menghambat masyarakat untuk berhaji. Tapi lebih bertujuan melindungi agar saat melakukan prosesi haji benar-benar ditunjang dengan kesehatan yang baik,” terang wanita berhijab itu ketika ditemui pada Rabu (4/3).
 
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (Kemenag) turut menjadi pendukung utama penegakan aturan tersebut. Bahkan, rekomendasi Istithaah telah menjadi syarat utama pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).
 
Istithaah haji, lanjutnya, bukan hanya bicara kemampuan materi, tapi juga soal kesehatan jamaah haji pra embarkasi, embarkasi hingga kepulangan nanti. Tujuannya supaya selama sekitar 40 hari di Arab Saudi, jamaah mampu beribadah secara aman, nyaman, sehat, dan menjadi haji mabrur.
 
Penegakan Istithaah Kesehatan Haji diperkuat dengan surat edaran dari Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag dalam Surat Edaran Nomor 4001/2018. Artinya, hingga di tingkat daerah harus benar-benar memerhatikan Permenkes Istithaah Kesehatan Haji.
 
“Teknisnya, data kesehatan CJH dikontrol. Lalu, diinput dokter ke pusat data Siskohat Kesehatan (Siskohatkes) dan terhubung ke Siskohat Kemenag. Hasilnya dikaji untuk mengetahui kondisi seorang CJH dinyatakan istithaah atau tidak. Jika dinyatakan tidak memenuhi istithaah, mereka tidak bisa melakukan pelunasan di bank. Memang seperti itu seharusnya,” sambungnya.
 
Skrining tersebut diperketat agar tidak ditemui lagi jamaah yang tidak memenuhi syarat istithaah dari sisi kesehatan, tetapi tetap diperbolehkan melunasi BPIH. Bahkan, ada jamaah yang sudah berada di asrama haji, kemudian dinyatakan tidak mampu berhaji dari sisi kesehatan. Demi mengurangi risiko kesehatan pula, CJH juga diimbau untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi saat musim haji nanti yang diperkirakan mencapai lebih dari 50 derajat Celcius.(amel/bangun banua)
Kunjungi Desa Bebas Limbah Plastik dan
Pengelolaan Pariwisata Sehat Goa Mampu
 
SAMPAH sudah menjadi persoalan di setiap daerah, produksi sampah yang meluap harus di tangani secara profesional dan bijak. Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di Indonesia hingga mencapai 11,330 ton per hari. Jika diambil rata-rata maka setiap orang menghasilkan sampah sebesar 0.050 Kg per hari. Jika jumlah sampah itu dihasilkan dalam hitungan hari tinggal dikalikan dengan tahun, maka sampah yang dihasilkan hingga mencapai 4.078.800 ton. Di Kabupaten Berau sampah meluap dan sudah mulai ditangani dengan memilah milah sampah untuk dapat digunakan semisal botol air mineral, atau sampah plastik lainya.
Dalam kaji banding Forum Berau Sehat yang dikomando langung Bupati Muharram bersama ketua umum Hj Sri Juniarsih dan ketua harian H Najemuddin bersama rombongan mengunjungi desa Polendro di kecamatan Lappa Riaja. 
Di desa dan dusun polenondro, seluruh masyarakat di sana mengelola sampah sampah plastik, yang di olah kembali menjadi barang barang berguna, seperti pas bunga, kursi, lampion, hiasan pagar rumah, hiasan rumah dan barang berguna lainya.
Dalam rombongan Berau juga ada Kepala Dinas Lingkungan Hidup  Kabupaten Berau Ir Sudjadi bersama stafnya. Dalam kaji banding ini bisa ditangkap bahwa mengurangi sampah plastik serta masyarakat mulai sekarang harus bijak mengunakan plastik semisal kantong plastik (tas kresek).
Sebenarnya untuk di Kabupaten Berau sudah ada dua lokasi yang memanfaatkan dan mengeelola sampah plastik seperti di kampung Batik Gang Amal Tanjung Redeb dan perumahan Berau Indah yang memiliki bank sampah.
Namun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, tentu jumlah sampah terus bertambah. Forum Berau Sehat bersama masyarakat Berau harus bijak mulai sekarang untuk menguangi volume sampah plastik.
Dalam studi atau kaji banding ke Kabupaten Bone ini, dapat dilihat langsung peran pokja sehat di desa Poleondro bersama sama masyarakat untuk mengurangi sampah plastik yang hanya bisa terurai dalam jangka waktu 100 tahun ini.
Namun sehebat apapun program di sebuah desa atau kota, kembali kepada kesadaran individu bahwa program tersebut bertujuan untuk kepentingan bersama. Dengan tujuan menciptakan desa sehat dan kota sehat.
Masyarakat di desa Poleondro, yang ketika mempresentasikan desa sehatnya, menyatakan bahwa keinginan menciptakan desa sehat agar mereka dapt hidup sehat dan sejahtera.
Kunjungan selanjutnya menyaksikan pengelolaan pariwisata goa mampu di desa cabbeng kecamatan Dua Bocode Kabupaten Bone.
Di desa Mampu ini rombongan juga disambut sangat meriah oleh Camat, Kepala Desa dan warga sekitar. Goa Mampu 
Gua Mampu salah satu tempat wisata yang bersejarah, terletak di desa Cabbeng,Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone. Berjarak 35 km dari Watampone ibukota Kabupaten Bone. Kawasan ini mudah dijangkau melalui jalanan beraspal. Selama diperjalan rombongan tidak menemui jalan berlubang atu jalan rusak. Akses menuju goa mampu cukup mulus .
Gua mampu terletak di lereng-lereng gunung yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar. Goa Mampu mempunyai luas sekitar 2000 meter persegi. Jika ingin masuk di dalam gua kita harus mempersiapkan alat penerangan seperti senter, obor.
Tampak panitia penyambutan tamu mempersiapkan genset dan lampu untuk dapat memasuki goa. 
Goa Mampu di kelola oleh masyarakat sekitar dan pokja desa sehat agar mewujudkan pariwisata sehat. Ada puluhan polisi pariwisata berjaga jaga dan melayani pengunjung yang ingin masuk ke gua, ataupun keperluan lain.
Toilet da kamar mandi yang bersih, dan tempat bersantai sangat di jaga kebersihannya. Agar kesan yang didapatkan pengunjung wisata berkesan selain keramah tamahan polisi pariwisata serta warga sekitar yang berjualan makanan dan minuman di lokasi sekitar goa.
Selain makanan dan minuman yang di jual, warga juga menjual souvenir dan minuman khas Bone yakni teh celup kayu sappang (kayu seppang) yang memiliki manfaat kesehatan.
Bupati Muharram beserta rombongan sempat memasuki goa mampu, meski tidak menyusuri hingga akhir. Karena goa tersebut sangat panjang sekitar 2000 meter menurut keterangan pengelola goa mampu.
Dari kunjungan ini, yang juga membawa staf dair Dinas Pariwisaata, pokja desat sehat beberapa kampung di Berau, dapat mengambil nilai dan manfaat dari kunjungan dan pengelolaan goa mampu.(helda/bangun banua)

Menyebarnya informasi adanya suspect Corona di RSUD Abdul Rivai sejak beberapa hari lalu, masih membuat masyarakat bertanya-tanya apakah benar hasilnya positif atau tidak. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau pun terus melakukan imbauan kepada masyarakat, agar tetap tenang meskipun kewaspadaan meningkat.

“Imbauan terus kita lakukan, dan kalau ada yang sekiranya memiliki gejala mengarah ke COVID-19, bisa segera dirujuk ke rumah sakit. Dan yang terpenting, masyarakat harus tetap melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yang selama ini belum terlalu optimal dilakukan,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi, ditemui pada Rabu (4/3) pagi.

Sejak pemberitaan terkait positifnya WNI mengidap Corona oleh Presiden RI Joko Widodo, dan munculnya suspect yang diduga terpapar Corona di beberapa daerah, kewaspadaan memang semakin ditingkatkan. Bahkan, dikatakan Iswahyudi, untuk komunikasi dan koordinasi lintas sektor juga dilakukan.

“Berau mempunyai banyak pintu masuk baik udara, laut maupun darat. Sebelum adanya Corona ini juga kami dari Dinkes sudah waspada, dan setelah adanya suspect, kewaspadaan semakin ditingkatkan mulai dari Kantor Kesehatan Pelabuhan, Bandara, RSUD, dan semua pihak,” imbuhnya.

Iswahyudi menjelaskan jika Corona ini hampir sama dengan infeksi lainnya yakni menyerang orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau lemah. Dimana bagi orang yang dalam kondisi kurang fit, bisa dengan mudah terkena virus ini. Jadi, pola hidup sehat dan pola makan bergizi serta rutin berolahraga bisa menjadi salah satu pencegahan yang dilakukan masyarakat,” tegasnya.(amel/bangun banua)

Tanjung Redeb  Website Dinkes –

Informasi terkait adanya beberapa warga yang suspect infeksi penumonia Corona di Berau, cukup membuat was-was masyarakat. Dalam waktu beberapa jam, informasi tersebut langsung tersebar luas melalui media sosial seperti whatssapp yang dishare ke grup-grup. Bahkan, sejak Senin malam (2/3) hingga hari ini informasi masih simpang siur.

Pihak RSUD Abdul Rivai melalui humasnya, dr Erva Anggriana pun meminta masyarakat agar tidak panik. Tak hanya itu, RSUD juga mengeluarkan press release tertanggal 2 Maret 2020, terkait adanya warga yang dikatakan terkena Corona tersebut. Dalam press releasenya, dipaparkan dengan jelas bagaimana kronologis pasien yang diduga menderita Corona, serta beberapa imbauan bagi masyarakat.

Dijelaskan jika pasien itu mengalami demam, batuk dan pilek. Terlebih, dengan kondisi pasien yang diketahui baru saja pulang berlibur dari negara yang terjangkit Corona, menguatkan dugaan jika pasien terjangkit Coronavirus disease (COVID-19).

“Dengan adanya data minimal itu kami melanjutkan deteksi dini pada pasien. Dan sementara pasien harus dikarantina di ruang isolasi untuk meningkatkan kewaspadaan hingga diagnosa terakhir. Dari analisa hingga pemeriksaan fisik, tenaga medis melakukan tindakan lebih dini sesuai pedoman kesiapsiagaan  menghadapi infeksi yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI yang yang diterbitkan pada Januari 2020, agar tidak menjadi kasus yang tidak terdeteksi kasus positif pneumonia,” jelas Erva.

Untuk itu, pihak RSUD Abdul Rivai juga meminta masyarakat tidak langsung panik dan melakukan beberapa imbauan, yakni tetap meningkatkan kewaspadaan bagi semua pihak jika mengalami batuk, demam dan kesulitan bernafas setelah perjalanan dari daerah berisiko adanya Corona, atau setelah melakukan kontak dengan pasien yang diduga corona.

Segera mencari pertolongan ke RS atau fasilitas kesehatan jika terdapat gejala yang mengarah ke infeksi saluran pernafasan, dan mengisolasi diri dari tempat ramai untuk sementara. Tak lupa juga pentingnya menggunakan masker saat melakukan aktivitas luar ruangan, minimal kontak dengan lingkungan. Serta menjalankan gaya hidup sehat dengan rajin mencuci tangan untuk menjaga kebersihan tangan sebelum menyentuh mulut hidung dan mata, atau setelah memegang instalasi publik. Menutup mulut ketika bersin dan batuk.(amel/bangun banua)